|
|
|
|
|
Masjid Pajimatan Imogiri merupakan salah satu masjid tertua di Daerah Istimewa Yogyakarta, terletak di kompleks pemakaman kuno Raja-Raja Mataram di perbukitan Panjaitan, sekitar 17 kilometer ke arah selatan dari pusat kecamatan Imogiri. Masjid ini berada satu kompleks dengan makam Sultan Agung, Trah Kasunanan Solo, dan Trah Kasultanan Ngayokyakarta Hadiningrat, namun masjidnya terletak di bagian bawah bukit, sementara makam berada di puncak bukit. Penamaan masjid ini juga masih simpang siur, karena di daerah dusun tersebut juga ada sebuah dusun bernama Pajimatan. Ada kemungkinan kuat masjid ini terkait dengan kegiatan menyepi (iktikaf) yang dilakukan raja-raja zaman dulu.
Belum jelas siapa dan kapan tepatnya masjid ini didirikan. Namun, diperkirakan dibangun pada tahun 1632 oleh Tumenggung Citrokoesumo atas perintah Sultan Agung Hanyakrakusumo. Tujuannya adalah untuk memudahkan para peziarah di kompleks pemakaman raja-raja agar tidak perlu jauh-jauh mencari tempat ibadah. Sejak tahun 1632, pembangunan masjid ini dilanjutkan oleh raja-raja berikutnya hingga mencapai bentuknya yang sekarang.
Bangunan masjid ini masih terbilang "Asli" sejak pembangunan pertamanya dan telah berusia hampir 400 tahun. Meskipun beberapa bagian telah dipugar akibat kerusakan parah, seperti pada gempa tahun 2006 yang melanda wilayah Bantul. Ajaibnya, saat gempa besar tersebut, bangunan masjid tidak banyak mengalami kerusakan, hanya keretakan pada tembok, dan sudah diperbaiki. Sebaliknya, bangunan makam di puncak bukit mengalami kerusakan yang cukup parah. Dari sisi arsitektural, masjid ini jelas memiliki gaya tradisional Indonesia karena dibangun pada abad ke-16 Masehi. Bentuk tradisionalnya semakin terlihat pada bagian atapnya yang berjenis limas beratap tumpang satu (disebut Tajug). Di puncak atapnya terdapat Mustoko/Mustaka, yaitu bagian bangunan menyerupai mahkota yang terbuat dari tembaga berbentuk bunga kenongo. Tembok masjid menggunakan batu bata merah dengan ukuran lebih tebal dan besar daripada bata modern. Bahan perekat yang digunakan adalah batu kapur. Bagian penopang dan elemen kayu lainnya menggunakan Kayu Jati, menjadikannya awet meskipun sudah berabad-abad lamanya. Ruang utama salat memiliki luas sekitar 89 meter persegi, dibagi untuk pria dan wanita, dilengkapi dengan mihrab, mimbar, dan bedug. Di halaman masjid, terdapat kolam air yang dulunya digunakan untuk berwudu dan mencuci kaki, namun sekarang telah dialihfungsikan sebagai kolam ikan.
Bangunan ini masih asli meskipun beberapa tempat direstorasi untuk mencegah kerusakan. Tembok bangunan menggunakan batu bata merah dengan ukuran lebih besar dan tebal dibandingkan bata sekarang, menggunakan bahan perekat batu kapur. Konstruksi penopang atap dan lainnya menggunakan kayu jati.
Dari sisi arsitektur, bangunan masjid ini serupa dengan masjid tua lainnya, bergaya limasan dengan atap tumpang satu (tajug). Di ujung atapnya terdapat mustaka menyerupai mahkota berbentuk bunga kenanga yang terbuat dari tembaga.
Masjid ini diperkirakan dibangun pada tahun 1632 oleh Tumenggung Citrokusumo atas perintah Sultan Agung Hanyakrakusumo. Pembangunannya dilanjutkan oleh raja-raja berikutnya.
Sumber: https://www.anugerahkubah.com/masjid-pajimatan-imogiri-yogyakarta, https://singgahkemasjid.blogspot.com/2017/01/masjid-pajimatan-imogiri-peninggalan.html
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |