×

Akun anda bermasalah?
Klik tombol dibawah
Atau
×

DATA


Kategori

Produk Arsitektur

Elemen Budaya

Produk Arsitektur

Pura Kehen

Tanggal 03 Aug 2026 oleh Kyas1 . Revisi 2 oleh Kyas1 pada 03 Aug 2026.

Deskripsi

Pura Kehen terletak di Br. Pekuwon, Desa Adat Cempaga, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli. Pura ini berada di kaki bagian selatan Bukit Bangli, berdiri di pinggir utara jalan besar menghadap ke selatan, dengan keindahan panorama Bukit Bangli di bagian utara. Jarak Pura Kehen dari Denpasar sekitar 43 km, 20 km dari Ubud, 23 km dari Kintamani, dan 3 km dari Desa Wisata Penglipuran.

Sejarah

Sejarah Pura Kehen didasarkan pada tiga buah prasasti tembaga yang tersimpan di Pura Kehen. Prasasti pertama, tanpa angka tahun, diperkirakan berasal dari Abad IX (antara 882 – 914 Masehi) dan menyebutkan "Hyang Karinama" serta "Hyang Api di desa Simpat Bunut" dalam bahasa Bali Kuno. Prasasti ini juga menyebut nama-nama bhiksu. Prasasti kedua, juga tanpa angka tahun, diperkirakan dari tahun 1016 – 1049 Masehi, menyebut "Senapati Kuturan" dan "Saphata" dalam bahasa Jawa Kuno. Prasasti ketiga, bertarikh Saka 1126 (1204 Masehi), menyebut "Hyang Kehen" dan nama Raja Sri Dhanadhiraja beserta permaisurinya Bhatara Sri Dhanadewi. Raja Sri Dhanadhiraja adalah putra Bhatara Parameswara, dan ibu raja adalah Bhatara Guru Sri Adhikunti. Ketiga prasasti ini telah dibaca oleh Dr. P.V. Van Stain Callenfels dan teks lengkapnya dimuat dalam buku “Epigraphina” tahun 1926. Jika nama "Hyang Api" dari prasasti pertama berkembang menjadi "Hyang Kehen" di prasasti ketiga dan menjadi Pura Kehen saat ini, maka Pura Kehen diperkirakan telah ada pada akhir Abad IX atau permulaan Abad X Masehi.

Upacara di Pura Kehen

  • Piodalan: Dilaksanakan secara rutin setiap enam bulan sekali (berdasarkan kalender Bali) pada hari Buda Keliwon Wuku Sinta, bertepatan dengan hari raya Pagerwesi. Upacara ini berlangsung selama lima hari, di mana setiap hari seluruh Banjar dari desa Cempaga, Kawan, Bebelang, Demulih, Penatahan, Tanggahan, Pukuh, Kubu, dan Penglipuran bergiliran menghaturkan bakti dengan acara Mepeed.
  • Karya Agung Bhatara Turun Kabeh (Ngusaba Dewa): Merupakan upacara tingkatan utama yang diselenggarakan setiap tiga tahun sekali pada sasih kelima. Upacara ini biasanya berlangsung 9 sampai 11 hari. Bagian paling utama dari upacara ini adalah prosesi Melasti, di mana seluruh Pratima, Tapakan, dan benda sakral dari sekitar 19 banjar adat di wilayah bebanuan ikut serta. Prosesi Melasti dilakukan menuju Pantai Watuklotok, Tirta Sudamala, atau Tamansari, diiringi ribuan orang dan puluhan kelompok pembawa Gambelan dengan tetabuhan Baleganjur. Prosesi ini mencerminkan kebersamaan krama Bangli, khususnya dari krama Bebanuan Pura Kehen yang dikenal sebagai Gebog Domas. Selama upacara berlangsung, desa-desa pemuja secara bergiliran menghaturkan tarian sakral seperti Baris Dadap, Baris Perasi, Baris Gowak, Rejang, dan Pendet.

Atraksi

Setiap tahun pada upacara pengrupukan, satu hari sebelum Hari Raya Nyepi, dilaksanakan parade Ogoh-ogoh yang diikuti oleh seluruh banjar di wewidangan Desa Pekraman Cempaga.

Sejarah Singkat

Sejarah Pura Kehen dapat ditelusuri melalui tiga prasasti tembaga yang tersimpan di pura tersebut. Prasasti pertama, yang diperkirakan berasal dari Abad IX, berbahasa Bali Kuno dan menyebutkan "Hyang Karinama" dan "Hyang Api di desa Simpat Bunut", serta nama-nama bhiksu. Prasasti kedua, berbahasa Jawa Kuno dan tanpa angka tahun, menyebutkan "Senapati Kuturan". Prasasti ketiga, bertarikh Saka 1126 (1204 Masehi), berbahasa Jawa Kuno dan menyebutkan "Hyang Kehen" serta raja Sri Dhanadhiraja dan permaisurinya Bhatara Sri Dhanadewi. Raja Sri Dhanadhiraja adalah putra raja Bhatara Parameswara, dan ibu raja Bhatara Parameswara adalah Bhatara Guru Sri Adhikunti. Berdasarkan perkembangan nama dari Hyang Api menjadi Hyang Kehen, diperkirakan Pura Kehen sudah ada antara tahun 882 – 914 Masehi.

Isi Prasasti

Ketiga prasasti tembaga tersebut telah dibaca oleh Dr.P.V.Van Stain Callenfels dan teks lengkapnya dimuat dalam buku “Epigraphina” tahun 1926.

  • Prasasti I: diperkirakan dari Abad IX, menyebutkan Hyang Api, Hyang Karinama, Hyang Tanda, serta nama-nama bhiksu. Bahasanya Sanskerta.
  • Prasasti II: memakai bahasa Jawa Kuno, menyebutkan “Sang Senapati Kuturan”.
  • Prasasti III: berbahasa Jawa Kuno, berangka tahun Saka 1126 (1204 Masehi), menyebutkan nama Hyang Kehen yang diperintah pada tahun tersebut oleh Bhatara Guru Sri Adhikunti Ketana.

Sumber: https://www.disparbud.banglikab.go.id/berita/pura-kehen-dan-sejarahnya, https://disparbud.banglikab.go.id/berita/pura-kehen-dan-sejarahnya

Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.

DISKUSI


TERBARU


Catur Karo

Oleh Kyas1 | 03 Aug 2026.
Permainan Tradisional

Deskripsi Permainan tradisional ini mirip dengan catur pada umumnya, berasal dari orang Karo di bagian utara Sumatera. Papan catur memiliki 64 kotak...

Masjid Baiturah...

Oleh Kyas1 | 03 Aug 2026.
Produk Arsitektur

Deskripsi Masjid Baiturrohman adalah masjid di Dusun Setono, Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Ponorogo, yang diyakini sebagai masjid tertua di Ponor...

Masjid Jami' Te...

Oleh Kyas1 | 03 Aug 2026.
Produk Arsitektur

Deskripsi Masjid Jami' Tegalsari adalah masjid tertua kedua di Ponorogo, didirikan pada abad ke-18 oleh Kyai Ageng Hasan Besari. Masjid ini berl...

Masjid Keraton...

Oleh Kyas1 | 03 Aug 2026.
Produk Arsitektur

Deskripsi Masjid Keraton Banyusumurup merupakan masjid kuno yang dibangun pada zaman Sunan Amangkurat Agung (1645-1677), diperkirakan sekitar tahun...

Sholawat Tarkhi...

Oleh Kyas1 | 03 Aug 2026.
Musik dan Lagu

Deskripsi Sholawat Tarkhim adalah lantunan shalawat yang konsisten dikumandangkan oleh takmir Masjid Jami’ Assagaf di Surakarta. Lantunan ini dipanc...

FITUR


Gambus

Oleh agus deden | 21 Jun 2012.
Alat Musik

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua...

Hukum Adat Suku...

Oleh Riduwan Philly | 23 Jan 2015.
Aturan Adat

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal...

Fuu

Oleh Sobat Budaya | 25 Jun 2014.
Alat Musik

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud...

Ukiran Singa Ba...

Oleh hokky saavedra | 09 Apr 2012.
Ornamen Arsitektural

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai...