|
|
|
|
|
Pura Kehen terletak di Br. Pekuwon, Desa Adat Cempaga, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli. Pura ini berada di kaki bagian selatan Bukit Bangli, berdiri di pinggir utara jalan besar menghadap ke selatan, dengan keindahan panorama Bukit Bangli di bagian utara. Jarak Pura Kehen dari Denpasar sekitar 43 km, 20 km dari Ubud, 23 km dari Kintamani, dan 3 km dari Desa Wisata Penglipuran.
Sejarah Pura Kehen didasarkan pada tiga buah prasasti tembaga yang tersimpan di Pura Kehen. Prasasti pertama, tanpa angka tahun, diperkirakan berasal dari Abad IX (antara 882 – 914 Masehi) dan menyebutkan "Hyang Karinama" serta "Hyang Api di desa Simpat Bunut" dalam bahasa Bali Kuno. Prasasti ini juga menyebut nama-nama bhiksu. Prasasti kedua, juga tanpa angka tahun, diperkirakan dari tahun 1016 – 1049 Masehi, menyebut "Senapati Kuturan" dan "Saphata" dalam bahasa Jawa Kuno. Prasasti ketiga, bertarikh Saka 1126 (1204 Masehi), menyebut "Hyang Kehen" dan nama Raja Sri Dhanadhiraja beserta permaisurinya Bhatara Sri Dhanadewi. Raja Sri Dhanadhiraja adalah putra Bhatara Parameswara, dan ibu raja adalah Bhatara Guru Sri Adhikunti. Ketiga prasasti ini telah dibaca oleh Dr. P.V. Van Stain Callenfels dan teks lengkapnya dimuat dalam buku “Epigraphina” tahun 1926. Jika nama "Hyang Api" dari prasasti pertama berkembang menjadi "Hyang Kehen" di prasasti ketiga dan menjadi Pura Kehen saat ini, maka Pura Kehen diperkirakan telah ada pada akhir Abad IX atau permulaan Abad X Masehi.
Setiap tahun pada upacara pengrupukan, satu hari sebelum Hari Raya Nyepi, dilaksanakan parade Ogoh-ogoh yang diikuti oleh seluruh banjar di wewidangan Desa Pekraman Cempaga.
Sejarah Pura Kehen dapat ditelusuri melalui tiga prasasti tembaga yang tersimpan di pura tersebut. Prasasti pertama, yang diperkirakan berasal dari Abad IX, berbahasa Bali Kuno dan menyebutkan "Hyang Karinama" dan "Hyang Api di desa Simpat Bunut", serta nama-nama bhiksu. Prasasti kedua, berbahasa Jawa Kuno dan tanpa angka tahun, menyebutkan "Senapati Kuturan". Prasasti ketiga, bertarikh Saka 1126 (1204 Masehi), berbahasa Jawa Kuno dan menyebutkan "Hyang Kehen" serta raja Sri Dhanadhiraja dan permaisurinya Bhatara Sri Dhanadewi. Raja Sri Dhanadhiraja adalah putra raja Bhatara Parameswara, dan ibu raja Bhatara Parameswara adalah Bhatara Guru Sri Adhikunti. Berdasarkan perkembangan nama dari Hyang Api menjadi Hyang Kehen, diperkirakan Pura Kehen sudah ada antara tahun 882 – 914 Masehi.
Ketiga prasasti tembaga tersebut telah dibaca oleh Dr.P.V.Van Stain Callenfels dan teks lengkapnya dimuat dalam buku “Epigraphina” tahun 1926.
Sumber: https://www.disparbud.banglikab.go.id/berita/pura-kehen-dan-sejarahnya, https://disparbud.banglikab.go.id/berita/pura-kehen-dan-sejarahnya
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |