|
|
|
|
|
Pura Lempuyang terletak di Desa Tista, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, di puncak Bukit Bisbis. Dari Denpasar, pura ini dapat dicapai sekitar 2 jam perjalanan melalui kawasan wisata Candi Dasa, melewati kota Amlapura.
Pura Lempuyang dan Pura Sad Kahyangan lainnya didirikan pada abad ke-11 Masehi, saat Mpu Kuturan mendampingi Raja Udayana memerintah Bali. Pura Sad Kahyangan dibangun untuk melindungi Bali agar masyarakat terus melakukan hal-hal yang sesuai ajaran agama. Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul menyebutkan bahwa Sang Hyang Parameswara membawa gunung-gunung di Bali dari Jambhudwipa (India), yaitu Gunung Mahameru. Potongan Gunung Mahameru dibawa ke Bali dan dibagi menjadi tiga bagian besar serta bagian-bagian kecil. Bagian tengah menjadi Gunung Batur dan Gunung Rinjani, sedangkan puncaknya menjadi Gunung Agung. Pecahan-pecahan yang lebih kecil menjadi lereng gunung di Bali yang saling berhubungan. Gunung-gunung ini termasuk Gunung Tapsahi, Pengelengan, Siladnyana, Beratan, Batukaru, Nagaloka, Pulaki, Puncak Sangkur, Bukit Rangda, Trate Bang, Padang Dawa, Andhakasa, Uluwatu, Sraya, dan Gunung Lempuhyang. Gunung-gunung ini adalah stana para Dewa (manifestasi Tuhan) untuk menjaga Bali.
Pura Lempuyang di dataran tinggi ini memiliki daya tarik khusus bagi banyak wisatawan. Pura ini terdiri dari tujuh pura dengan desain arsitektur yang unik dan bernilai seni tinggi. Untuk menuju pura utama, setiap wisatawan harus menaiki 1700 anak tangga. Meskipun jumlah anak tangga cukup banyak, selama perjalanan ke puncak, wisatawan akan disuguhi pemandangan sekitar dan kicauan burung yang bebas berkeliaran. Pengunjung dilarang mengganggu flora dan fauna yang hidup di lingkungan sekitar. Sangat disarankan untuk mendaki di pagi hari karena udara yang masih segar akan memberikan dampak positif bagi tubuh. Selain itu, pura ini juga memiliki banyak spot menarik untuk berpose, salah satunya di gerbang atau yang sering disebut wisatawan sebagai "Gate to Heaven Bali". Gerbang ini memiliki ketinggian sekitar empat meter dan merupakan spot favorit pengunjung, dengan pemandangan Gunung Agung tepat di tengah gerbang.
Arsitektur Pura Lempuyang dibagi menjadi tiga area, yaitu Jaba Pisan atau Nistaning Mandala (area terluar), Jaba Tengah atau Madya Mandala (area tengah), dan Jeroan atau Utamaning Mandala (area utama/paling suci).
Ada beberapa aturan dan larangan yang tidak boleh dilanggar saat mengunjungi Pura Lempuyang Luhur, dan jika dilanggar akan berdampak buruk.
Pura Luhur Lempuyang adalah pura yang sangat indah dan sakral yang terletak di Bali Timur, berada di dataran tinggi Gunung Lempuyang. Meskipun menjadi salah satu pura yang paling sulit dijangkau, pura ini juga merupakan salah satu yang paling suci di pulau ini. Pura ini merupakan salah satu situs keagamaan terpenting di Bali, sejajar dengan Besakih dan Tanah Lot. Pura ini juga berfungsi sebagai salah satu dari sembilan pura arah pulau yang melindungi Bali dan masyarakatnya dari roh jahat. Selain itu, pura ini adalah salah satu dari enam pura yang didedikasikan untuk Tuhan tertinggi, Sang Hyang Widi Wasa, yang dikenal sebagai sad kahyangan, atau "pura dunia."
Untuk mencapai pura, pengunjung harus mendaki 1.700 anak tangga yang dipotong di gunung, yang berarti pendakian mendaki selama 1,5 hingga 2 jam melalui hutan. Lokasi pura dan pemandangannya yang menakjubkan menjadikannya daya tarik bagi para pecinta trekking. Pendakian menantang dengan lebih dari 1.700 anak tangga akan membawa Anda ke pura, yang terletak hampir 1.200 meter di atas permukaan laut. Meskipun Pura Lempuyang lebih kecil dari Pura Penataran Agung, pura ini menawarkan suasana yang tenang dan damai, mencerminkan upaya besar yang dilakukan dalam pembangunannya. Jika Anda ingin, Anda bisa menyewa taksi motor lokal untuk mempersingkat perjalanan Anda. Taksi ini, yang dioperasikan oleh penduduk desa setempat, akan membawa Anda sampai ke titik di mana jalan beraspal berakhir di dekat Pura Penataran Agung. Harganya bisa dinegosiasikan, jadi mintalah pengemudi Anda untuk membantu Anda mengatur harga yang wajar.
Jika Anda tidak ingin melakukan pendakian penuh ke pura Lempuyang, Anda dapat mengunjungi Pura Penataran Agung yang berada di kaki gunung. Pura ini menawarkan pemandangan Gunung Agung yang menakjubkan dan memiliki tangga naga yang mengesankan yang mengarah ke pelinggih-pelinggihnya, menjadikannya impian para fotografer.
Bagi masyarakat lokal, perjalanan mendaki pura adalah perjalanan spiritual yang mendalam. Mereka melakukannya dengan bangga dan dedikasi, selangkah demi selangkah. Mengeluh tentang pendakian tidak dihargai, karena tidak ada yang dipaksa untuk melakukan perjalanan ini. Bagi penduduk setempat, pendakian ini adalah ziarah, dan mereka mengharapkan pengunjung untuk menghormati rasa hormat mereka terhadap pengalaman tersebut.
Sumber: https://www.lempuyangtemple.com/, https://bali.com/places/pura-luhur-lempuyang
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |