×

Akun anda bermasalah?
Klik tombol dibawah
Atau
×

DATA


Kategori

Produk Arsitektur

Elemen Budaya

Produk Arsitektur

Rumah Kajang Lako

Tanggal 07 Aug 2026 oleh Kyas1 . Revisi 2 oleh Kyas1 pada 08 Aug 2026.

Deskripsi

Kajang Lako adalah rumah adat dari Suku Bathin, yang juga dikenal sebagai "Rumah Lamo" dan "Rumah Tuo". Rumah ini dipercaya sudah ada sejak masa peradaban Koto Rayo, salah satu pemukiman Melayu pertama di Pulau Sumatra. Rumah Kajang Lako saat ini menjadi rumah adat resmi Provinsi Jambi setelah terpilih melalui sayembara pada tahun 1970.

Struktur & Bagian

  • Bentuk: persegi panjang dengan ukuran maksimal 12 x 9 meter.
  • Tiang: 30 tiang kayu solid, terdiri dari 24 tiang utama dan 6 tiang pelambang, dengan tinggi 4,25 meter.
  • Tangga: dua tangga, di sisi kanan sebagai pintu masuk utama, dan di sisi kiri sebagai tangga penteh atau ruang penyimpanan barang.
  • Atap: disebut gajah mabuk, berbentuk melengkung ke atas seperti segitiga. Bagian atasnya bernama kasau, terbuat dari anyaman ijuk atau kayu, berfungsi menahan air hujan.
  • Langit-langit: terdapat pemisah yang berfungsi menahan rembesan air hujan.

Pintu

  • Pintu Tegak: berfungsi sebagai pintu masuk, dibuat rendah agar orang menunduk sebagai tanda penghormatan kepada pemilik rumah.
  • Pintu Masinding: berfungsi sebagai jendela, biasanya terletak di ruang tamu, sebagai ventilasi dan akses tamu untuk melihat upacara adat.
  • Pintu Balik Melintang: hanya digunakan oleh orang yang dihormati, seperti pemuka adat, alim ulama, ninik mamak, dan cerdik pandai.

Fungsi & Filosofi

Rumah Kajang Lako awalnya digunakan sebagai tempat hunian dan juga sebagai tempat kegiatan adat atau diskusi masyarakat. Pintu Tegak yang rendah mengandung filosofi bahwa tamu harus menghormati pemilik rumah.

  • Motif flora (bunga tanjung, tampuk manggis, bunga jeruk) pada dinding depan, belandar, atau atas pintu mencerminkan penghargaan masyarakat Jambi terhadap hutan.
  • Motif fauna (ikan) menunjukkan bahwa ikan merupakan sumber kehidupan masyarakat Jambi yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan.

Asal

Rumah Kajang Lako dibangun oleh penduduk dari Peradaban Koto Rayo yang melakukan migrasi ke tepian Sungai Tabir di daerah Jambi.

Sejarah

Rumah panggung Kajang Lako berasal dari masa Kerajaan Koto Rayo, yang berlokasi di tepian sungai Tabir. Rumah ini dibangun oleh penduduk dari Kerajaan Koto Rayo yang melakukan migrasi, dengan 19 orang bergantian membangun rumah. Pada tahun 1933, sebelum kemerdekaan Indonesia, masyarakat Jambi menggunakan Kajang Lako sebagai tempat untuk menyelesaikan masalah. Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau menyatakan bahwa rumah adat Kajang Lako mulai ditetapkan sebagai rumah dengan konsep arsitektur berciri khas Jambi pada tahun 1970-an.

Bentuk dan Ciri-Ciri

  • Berbentuk Persegi Panjang: Umumnya memiliki panjang 12 meter dan lebar 9 meter.
  • Berbentuk Rumah Panggung: Ditopang oleh tiang-tiang.
  • Terbuat dari Papan Kayu: Bangunan utama seperti dinding, lantai, dan tangga dibuat dari papan kayu.
  • Atap dari Ijuk: Atap atau bubungan melengkung ke atas untuk mempermudah turunnya air hujan dan sirkulasi udara. Bahan utama atap adalah ijuk yang dianyam dan dilipat dua.
  • Punya Tiga Jenis Pintu: Yaitu pintu tegak (masuk), pintu masinding (jendela, ventilasi, akses tamu melihat upacara), dan pintu balik melintang (khusus orang dihormati seperti pemuka adat, alim ulama, ninik mamak, cerdik pandai).
  • Memiliki Teras Rumah: Bagian depan rumah terdapat pelamban atau teras yang digunakan sebagai ruang tunggu tamu.

Keunikan

  • Warisan Budaya yang Sudah Ada Ratusan Tahun: Masih terdapat sekitar 60 rumah adat yang berusia kurang lebih 600 tahun di Dusun Kampung Baru, Rantau Panjang, Merangin, Jambi.
  • Memiliki Bentuk dan Ukuran yang Ditentukan Hukum Adat: Berbentuk persegi panjang dengan ukuran umum panjang 12 meter dan lebar 9 meter, ditopang tiang setinggi 4,25 meter.
  • Memiliki Desain yang Ramah Lingkungan: Atap dirancang untuk memudahkan turunnya air hujan dan memperlancar sirkulasi udara, menggunakan ijuk alami.
  • Atap Berbentuk Perahu: Bentuk atap sekilas seperti perahu.
  • Memiliki Sebutan "Gajah Mabuk" untuk Atapnya: Orang Batin menyebut atapnya "gajah mabuk" yang berasal dari cerita rakyat tentang sang pembuat rumah yang dimabuk cinta.
  • Pintu Masuk Rumah Rendah: Pintu tegak dibuat rendah agar tamu harus menunduk saat masuk.
  • Memiliki Ragam Hias Flora dan Fauna: Motif flora seperti bungo tanjung (diukir di depan pintu masinding), tampuk manggis (di atas pintu tegak dan masinding), bungo jeruk (pada bagian luar rasuk dan atas pintu tegak), serta motif fauna seperti ikan dan sisik ikan.
  • Pembagian Ruang dengan Fungsi Khusus: Ruang Pelemban (tamu), Ruang Gaho (penyimpanan), Ruang Malintang (ruang inti).

Filosofi

  • Penghormatan terhadap Alam: Dibangun dengan bahan alami (kayu, daun rumbia) dan desain atap melengkung mencerminkan hidup harmonis dengan alam.
  • Nilai Sosial dalam Pembagian Ruang: Setiap ruangan memiliki fungsi sosial penting, dari musyawarah, menerima tamu, hingga upacara adat, menunjukkan pentingnya hubungan antarindividu.
  • Representasi Nilai Kehidupan Masyarakat: Ukiran dan pembagian ruang mengandung nilai simbolis seperti kebijaksanaan, keharmonisan, keadilan, dan penghormatan.
  • Pintu Dibuat Rendah agar Tamu Mendunduk: Pintu tegak yang rendah mengharuskan tamu menunduk, melambangkan penghormatan kepada pemilik rumah dan nilai sopan santun.

Fungsi

  • tempat tinggal para penghuninya, termasuk untuk tidur, makan, masak, dan mengasuh anak
  • tempat menyelesaikan persoalan atau permasalahan adat
  • tempat bermusyawarah
  • tempat berkumpul sanak saudara
  • tempat menyelenggarakan upacara adat

Sumber: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2022/12/19/mengenal-rumah-kajang-lako-rumah-adat-masyarakat-jambi, https://tirto.id/sejarah-rumah-adat-jambi-kajang-lako-ciri-khas-dan-keunikannya-goag

Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.

Rumah Kajang Lako — Produk Arsitektur, Jambi · source

DISKUSI


TERBARU


Sulukan Wayang...

Oleh Kyas1 | 08 Oct 2026.
Seni Pertunjukan

Deskripsi Penelitian ini bertujuan untuk mencari penjelasan tentang ragam sulukan wayang kulit purwa gaya Yogyakarta versi Timbul Hadi Prayitno, Had...

Musik Liturgi I...

Oleh Kyas1 | 08 Oct 2026.
Musik dan Lagu

Deskripsi Musik liturgi inkulturatif adalah praktik penggunaan musik yang menggabungkan unsur-unsur budaya lokal dalam perayaan liturgi Katolik. Di...

Kereta Singo Ba...

Oleh Kyas1 | 08 Oct 2026.
Alat Musik

Deskripsi Kereta Singo Barong merupakan salah satu objek seni yang tersimpan di Museum Kasepuhan Cirebon. Objek ini mengalami perubahan makna seirin...

Prasasti Kakuru...

Oleh Kyas1 | 07 Oct 2026.
Naskah Kuno dan Prasasti

Deskripsi Fisik Prasasti Kakurugan adalah sebuah tulisan Jawa Kuno. Isi/Kandungan Prasasti ini membahas tentang peran pendekar pada masa Pemerinta...

Gulai Kuning Ik...

Oleh Kyas1 | 07 Oct 2026.
Makanan Minuman

Deskripsi Gulai kuning ikan patin adalah hidangan kuliner Nusantara yang terkenal dengan aroma gurih kuah kaya rempah. Hidangan ini memadukan daging...

FITUR


Gambus

Oleh agus deden | 21 Jun 2012.
Alat Musik

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua...

Hukum Adat Suku...

Oleh Riduwan Philly | 23 Jan 2015.
Aturan Adat

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal...

Fuu

Oleh Sobat Budaya | 25 Jun 2014.
Alat Musik

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud...

Ukiran Singa Ba...

Oleh hokky saavedra | 09 Apr 2012.
Ornamen Arsitektural

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai...