|
|
|
|
|
Sansana Bandar merupakan tradisi lisan Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah, berupa cerita tentang seorang tokoh bernama Bandar. Tradisi ini masih dilestarikan oleh masyarakat Dayak Ngaju, khususnya di wilayah Kabupaten Kapuas. Analisis teks cerita Sansana Bandar menunjukkan adanya pengaruh kebudayaan luar Pulau Kalimantan dalam kehidupan masyarakat Dayak Ngaju.
Pementasan Sansana Bandar dilakukan dengan tujuan agar cita-cita atau hajat yang diinginkan dapat tercapai. Pementasan ini memerlukan persyaratan tertentu dan dilaksanakan dalam durasi yang panjang, dimulai dari sore hari dan berlanjut hingga pagi hari.
Sansana Bandar mengisahkan cerita heroik dan percintaan romantis antara Bandar (pelaku utama laki-laki) dengan Kilat Pandang Sumbu Kurung (pelaku utama perempuan). Bandar digambarkan sebagai seseorang yang agung, mulia, jelmaan dewa tertinggi, dan memiliki sifat arif serta bijaksana. Ia dijuluki Bakena Dia Lelengena, yang berarti tampan rupawan tiada tara, dan tinggal di Tujuh Negeri (Lewu Uju). Orangtuanya bernama Tamanggung Ratu Tinggi dan Nyai Kamala atau Nyai Indu Bandar. Bandar diyakini sebagai keturunan penguasa air "dunia bawah", Jata Martapati/Garagan Pulau Palangka Sari. Kilat Pandang Sumbu Kurung adalah kekasih Bandar, dan menurut silsilah mereka adalah saudara sepupu dari rumpun keluarga yang sama. Sumbu Kurung digambarkan sangat cantik, dijuluki Sempalak Lewu Tunjung Bereng Kalingu (cahaya yang memancar dari Negeri Tanjung Kalingu), dan terampil menganyam. Ia memiliki ikatan persaudaraan dengan bidadari tujuh bersaudara yang tinggal di Lewu Telo (kayangan). Tempat kediaman Sumbu Kurung adalah Lewu Tanjung Bereng Kalingu, dan ia diyakini keturunan dari "dunia atas" meskipun dilahirkan oleh Nyai Jentai yang menikah dengan Dambong Kapala. Kelahirannya dipercaya sebagai pemberian penguasa "dunia bawah", Jata Nyai Kambang/Melai Linggang Goyang.
Sansana Bandar dikisahkan secara lisan dan disebarkan dari mulut ke mulut melalui tembang atau lagu yang dibawakan dengan merdu. Lagu-lagu ini memperhatikan keindahan gaya bahasa dan persamaan bunyi untuk menghasilkan irama yang indah, seperti syair atau pantun. Pengisah Sansana Bandar disebut tukang sansana atau panyansana, yang mengerti betul kisah yang dibawakannya, bersuara merdu, dan pandai melantunkan kisah sesuai nuansa serta alur cerita. Panyansana pada umumnya adalah perempuan.
Pada awalnya, Sansana Bandar diadakan untuk keperluan adat dan memenuhi persyaratan ritual bagi orang-orang yang memiliki hajat atau bernazar. Dalam perkembangannya, sastra lisan ini juga menjadi bentuk kesenian yang memiliki fungsi hiburan. Sansana Bandar tidak hanya dilakukan saat upacara adat, tetapi juga dapat dilakukan di berbagai kesempatan/keramaian, termasuk sebagai pengisi waktu luang di malam hari.
Sumber: https://aksara.kemendikdasmen.go.id/index.php/aksara/article/view/513, https://1001indonesia.net/sansana-bandar-tradisi-lisan-masyarakat-dayak-ngaju-di-kalteng
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |