|
|
|
|
|
|
Sutan Maharajo Dirajo Dan Mitos Puti Bidodari Dari Sarugo Tanggal 25 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Mitos ini dimulai dengan "warih nan bajawek pusako nan batarimo" yang dipegang teguh dari orang tua zaman dahulu. Diceritakan tentang lima perkara penciptaan, yaitu tanah baki, tanah baku, tanah hitam, tanah merah, dan tanah putih, yang dibentuk oleh Jibraie dan dihadapkan kepada Tuhan, menjadi asal mula segala sesuatu, termasuk Adam sebagai penjaga dunia. Dari Adam dan Siti Hawa, lahirlah 39 anak manusia. Anak bungsu Adam tidak memiliki jodoh, sehingga Nabi Adam berdoa kepada Tuhan. Tuhan mengutus Jibraie untuk memberitahu Puti Dewanghari, seorang bidadari dari surga kedelapan, bahwa ia akan diambil oleh Sutan Rajo Alam di dunia. Puti Dewanghari melihat anak Adam di "alam Sigumawang" dan kemudian mempersiapkan segala perlengkapan pernikahan dari surga, termasuk payung panji kuning, marawa kuning bertatah intan dan podi. Mereka bertemu di puncak bukit Qaf, dinikahkan oleh kali Rambun Azali di bawah Mejan nan kiramaik, dengan asap kemenyan putih membumbung tinggi dan kilat menyambar sebagai saksi Tuhan. Keturunan mereka melahirkan Sutan Sikandarareni (Alexander the Great/Iskandar Zulkarnain) yang menjadi raja berkuasa. Sutan Sikandarareni memiliki tiga keturunan: Sutan Maharajo Alif, Sutan Maharajo Depang, dan Sutan Maharajo Dirajo. Sutan Maharajo Alif memerintah di Banuruhum, Sutan Maharajo Depang di negeri Cina, dan Sutan Maharajo Dirajo menuju Pulau Paco untuk memerintah di Pariangan Padang Panjang, di kaki Gunung Marapi, di negeri yang belum bernama Minangkabau. Sutan Sikandarareni, sebagai raja yang arif dan bijaksana, ingin anak-anaknya merantau mencari ilmu dan pengalaman. Untuk itu, ia berencana membuat perahu dari kayu Sajatalobi yang tumbuh di hulu Batang Masia (Mesir). Namun, pohon tersebut tidak kunjung tumbang meskipun banyak orang cerdik pandai mencoba menebangnya. Setelah melakukan ritual penyembelihan kibasy dan unta serta membakar kemenyan, Sutan Sikandarareni berdoa kepada Tuhan agar diizinkan menebang pohon tersebut. Doanya dikabulkan, gempa bumi terjadi selama tujuh hari tujuh malam, dan pohon Sajatalobi pun tumbang. Daunnya diramu menjadi tinta dan kulitnya disamak menjadi kertas untuk menulis Qalam Illahi, sedangkan kulit batangnya dijadikan kain untuk beribadah. Batang pohon dibagi menjadi tiga untuk membuat perahu bagi ketiga anaknya. Sutan Maharajo Alif menerima bekal Mahkota Emas, Sutan Maharajo Depang menerima perkakas tukang, dan Sutan Maharajo Dirajo menerima kitab berisi undang-undang. Ketiga anak tersebut kemudian berangkat, namun kisah Sutan Maharajo Alif dan Sutan Maharajo Depang tidak dilanjutkan. Sutan Maharajo Dirajo berlayar ke Pulau Paco ditemani Shekh Shole (Cateri Bilang Pandai) yang bijaksana dari hulu sungai Masia. Dalam perjalanan, mereka bergabung dengan Harimau Campo yang gagah dari India, Kambiang Hutan yang lincah, Kuciang Siam yang pandai menipu, dan Anjiang Mualim, seorang parewa.
Sumber: http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/15/sutan-maharajo-dirajo-dan-mitos-puti-bidodari-dari-sarugo
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |