|
|
|
|
|
|
Tamansari Tanggal 02 Aug 2026 oleh Kyas1 . |
Tamansari, yang berarti taman yang indah, pada mulanya merupakan sebuah taman atau kebun istana Keraton Yogyakarta. Kompleks ini memiliki luas lebih dari 10 hektar dengan 57 bangunan di dalamnya, meliputi gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, danau buatan, pulau buatan, masjid, dan lorong bawah tanah. Taman ini dijuluki Water Kasteel karena kolam-kolam dan unsur air yang melimpah, serta The Fragrant Garden karena pohon-pohon dan bunga-bunga yang harum ditanam di kebun-kebun sekitar bangunan.
Kompleks Tamansari dibangun secara bertahap pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I. Pembangunan dimulai pada tahun 1758 M, ditandai oleh candra sengkala "Catur Naga Rasa Tunggal" (1684 Jawa) yang dapat ditemukan di Gapura Panggung. Bagian-bagian penting dari kompleks bangunan diselesaikan pada tahun 1765 M, ditandai candra sengkala "Lajering Sekar Sinesep Peksi" (1691 Jawa) yang dapat ditemui di Gapura Agung dan ornamen beberapa dinding bangunan. Desain Tamansari didasarkan pada gagasan dari Sri Sultan Hamengku Buwono I, dengan gambar teknis dikerjakan oleh seorang berkebangsaan Portugis yang dikenal sebagai Demang Tegis. Pimpinan proyek pembangunan awalnya dipegang oleh Tumenggung Mangundipuro yang kemudian digantikan oleh Pangeran Notokusumo. Tamansari didirikan di atas sebuah mata air yang dikenal dengan nama Umbul Pacethokan. Pada tahun 1867, Tamansari mengalami kerusakan parah akibat gempa besar di masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI dan menjadi terbengkalai. Renovasi serius dimulai pada tahun 1977, namun hanya sedikit bagian yang dapat diselamatkan. Gempa tektonik berkekuatan 5,9 SR pada tahun 2006 kembali menyebabkan kerusakan, mendorong proses renovasi dan revitalisasi lanjutan.
Selain difungsikan sebagai tempat rekreasi, Tamansari juga memiliki fungsi pertahanan dan religi. Fungsi pertahanan tampak pada tembok keliling yang tebal dan tinggi, gerbang dengan tempat penjagaan, bastion untuk persenjataan, serta jalan bawah tanah. Posisi tinggi Pulo Kenanga juga diduga sebagai tempat peninjauan jika ada musuh. Fungsi religi ditunjukkan oleh bangunan Sumur Gumuling yang berfungsi sebagai masjid dan Pulo Panembung sebagai tempat meditasi Sultan. Nama "segaran" berasal dari kata "segara" yang berarti lautan, menunjukkan skala danau buatan di kompleks ini.
Sumber: https://www.kratonjogja.id/tata-rakiting/13-tamansari
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |