×

Akun anda bermasalah?
Klik tombol dibawah
Atau
×

DATA


Kategori

Cerita Rakyat

Elemen Budaya

Cerita Rakyat

Provinsi

Daerah Istimewa Yogyakarta

Alas Bantal Watu

Tanggal 12 Jul 2018 oleh Deni Andrian.

Pada saat Prabu Brawijaya bertahta di Kerajaan Majapahit, di daerah Jawa Tengah tumbuh kerajaan baru di Demak yang bercorak Islam. Kerajaan Demak ini semakin lama semakin besar dan pengaruh agama Islam meluas hingga ke pusat kerajaan Majapahit. Hal ini menyebabkan kekuasaan Kerajaan Majapahit menjadi terdesak dan memaksa orang-orang yang tidak mau diislamkan melarikan diri dari kraton. Salah satu kelompok yang melarikan diri adalah kelompok Prabu Brawijaya dan Permaisurinya beserta beberapa pengawalnya. Dalam kelompok ini Sang Prabu juga membawa anjing kesayangannya yang berwarna hitam. Kelompok kecil ini melarikan diri menyusuri pantai selatan Pulau Jawa, ke arah barat, hingga sampai di daerah Gunung Kidul. Agar pelariannya tidak diketahui oleh siapa pun, lebih-lebih oleh pasukan Kerajaan Demak, maka Prabu Brawijaya dan Permaisuri menyamar sebagai rakyat jelata. Pada suatu ketika, Sang Prabu dan Permaisuri menemukan sebuah goa, di tepi Sungai Maja. Setelah masuk ke dalam goa, Sang Prabu merasa bahwa goa tersebut sangat cocok untuk tempat bersembunyi, karena tempatnya terpencil dan di dalamnya memiliki sebuah sendang (sumber air, danau kecil). Sendang ini oleh Prabu Brawijaya dinamakan Sendang Tuban. Setelah beberapa lama, Sang Prabu pindah ke goa lain yang letaknya tidak jauh dari Sendang Tuban. Pada suatu hari, seorang pencari kayu melihat anjing hitam kesayangan Prabu Brawijaya. Setelah diikuti, ternyata si anjing masuk ke dalam goa. Berita tentang keberadaan anjing hitam segera ia sampaikan kepada penduduk lainnya di sekitar hutan itu. Keesokan harinya, penduduk secara beramai-ramai menuju goa untuk menangkap anjing hitam itu. Setelah berhasil menggiring anjing hitam itu masuk ke dalam goa, mereka kemudian mengikutinya. Namun ketika berada di dalam, anjing itu tidak dijumpai, hanya sebuah sendang, yang airnya melimpah dan sangat jernih. Sendang itu oleh mereka dinamakan Sendang Sureng. Dari Sendang Sureng itu, menyusuri pantai selatan, berjalan ke arah barat. Pada suatu ketika, sampailah mereka di sebuah desa yang bernama Gebang Sawar. Saat itu ada salah satu penduduk desa yang sedang mempunyai hajat dengan menanggap wayang. Sang Prabu dan Permaisurinya yang telah lama tidak menyaksikan hiburan, menyempatkan diri untuk melihat pertunjukan wayang tersebut. Namun, setelah segala perlengkapan yang diperlukan sudah siap, sang dalang tidak datang karena mendadak sakit. Hal ini tentu saja membuat orang yang punya hajat itu menjadi bingung dan cemas. Mengetahui penyebab yang mencemaskan tuan rumah, Prabu Brawijaya mendekatinya, dan menyampaikan kesediaannya untuk membantu menggantikan dalang dalam pertunjukan yang akan digelar. Orang yang nanggap wayang itu semula ragu-ragu. Namun, karena dalang yang ditunggu tidak datang, akhirnya terpaksa menerima tawaran orang yang belum dikenal itu. Pagelaran wayang dimulai dengan dalang Prabu Brawijaya yang menyamar. Para tamu undangan dan semua orang yang menyaksikan pementasan wayang itu sangat terpesona dan kagum menyaksikan kemahirannya. Pesindennya, yang diperankan oleh Permaisuri, juga bagus dan suaranya sangat merdu. Selesai mendalang, sang prabu dan permaisuri berusaha cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Oleh tuan rumah mereka ditahan agar mau makan-minum, tetapi sang Prabu tidak mau. Beberapa saat setelah Ki Dalang dan isterinya pergi, berceritalah si tuan rumah kepada isterinya tentang keanehan Ki Dalang. Sang istri pun menanyakan siapa nama Ki Dalang yang telah memberi pertolongan. Menyadari belum tahu nama Ki Dalang yang sebenarnya, maka tuan rumah segera bergegas menyusul Ki Dalang untuk menanyakan nama dan menyampaikan terima kasih. Namun, setelah berkeliling mencari hingga ke batas desa, akhirnya ia kembali ke rumahnya karena Ki Dalang dan sindennya sudah tidak tampak lagi. Perjalanan Prabu Brawijaya dari Desa Gebang Sawar diteruskan menuju ke arah barat laut. Saat berada di tengah hutan, beristirahatlah mereka karena merasa sangat lelah akibat mendalang semalaman. Tak lama kemudian suami-isteri itu pun tidur pulas. Pada waktu terjaga dari tidurnya, tahulah Sang Prabu dan Permaisuri, bahwa yang dipergunakan untuk bantal hanyalah sebongkah batu. Meskipun bantalnya hanya batu, tetapi ternyata mereka dapat tidur dengan nyenyak. Sejak itu, maka hutan tempat Prabu Brawijaya tertidur pulas itu lalu dinamakan �Alas Bantal Watu� atau Hutan Bantal Batu. Dari hutan itu, Sang Prabu melanjutkan perjalanan ke arah tenggara, hingga sampai di sebuah pantai yang sekarang dikenal dengan nama Kukup. Dari Pantai Kukup Sang Prabu Brawijaya dan Sang Permaisuri lalu melanjutkan perjalanannya berkelana hingga akhirnya mereka berdua mangkat dengan �muksa� (hilang tanpa bekas). Ada pula yang mengatakan, bahwa Sang Prabu sampai di Gunung Kawi, dan mengganti namanya menjadi Kyai Jugo atau Mbah Jugo.

Sumber: http://navigasi-budaya.jogjaprov.go.id/heritage/cerita-rakyat/462#

DISKUSI


TERBARU


Terong Sambal B...

Oleh Kyas1 | 27 Sep 2026.
Makanan Minuman

Bahan-bahan 3 buah terong 1 papan pete, kupas 1 sdt gula pasir 1 sdt kaldu bubuk 1/4 sdt garam 1/4 sdt penyedap Bahan sambal 5 siung bawan...

Tumis Cumi Hita...

Oleh Kyas1 | 27 Sep 2026.
Makanan Minuman

Bahan-bahan 1/2 kg cumi 5 siung bawang merah 3 siung bawang putih 3 Cabai merah keriting 15 Cabai rawit (bisa sesuai selera) 2 daun jeruk 2 r...

Balado Tahu Tel...

Oleh Kyas1 | 27 Sep 2026.
Makanan Minuman

Deskripsi Balado Tahu Telur Puyuh adalah hidangan yang memadukan telur puyuh dan tahu yang dimasak dengan bumbu balado. Resep ini sangat populer, te...

Sayur Tettu'

Oleh Kyas1 | 27 Sep 2026.
Makanan Minuman

Bahan-bahan 1 ikat daun ubi (ditumbuk kasar) 1 buah jantung pisang diiris halus 1 buah kelapa untuk santan (dibagi 2 kental dan encer) 1 ruas le...

Sambal Cemeding...

Oleh Kyas1 | 27 Sep 2026.
Makanan Minuman

Deskripsi Sambal Cemeding Daun Ubi adalah sambal khas Rembang yang menggunakan petis ikan sebagai ciri khasnya. Petis ikan ini berasal dari kuah ika...

FITUR


Gambus

Oleh agus deden | 21 Jun 2012.
Alat Musik

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua...

Hukum Adat Suku...

Oleh Riduwan Philly | 23 Jan 2015.
Aturan Adat

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal...

Fuu

Oleh Sobat Budaya | 25 Jun 2014.
Alat Musik

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud...

Ukiran Singa Ba...

Oleh hokky saavedra | 09 Apr 2012.
Ornamen Arsitektural

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai...