|
|
|
|
|
|
Masjid Penyengat | #OSKMITB2018 Tanggal 13 Aug 2018 oleh OSKM18_16918303_FAIBE . |
Pulau Penyengat adalah sebuah pulau kecil berukuran kurang lebih panjang 2.000 meter dan lebar 850 meter, yang terletak 2 km dari pusat Kota Tanjung Pinang. Kota Tanjung Pinang sendiri merupakan ibukota dari Provinsi Kepulauan Riau. Untuk menuju Pulau Penyengat para wisatawan biasanya menaiki Pompong yaitu sebuah kapal kayu kecil yang dimodifikasi dengan mesin bermotor tempel (outboard engine) berbahan bakar solar. Di Pulau Penyengat ini banyak terdapat sisa-sisa peninggalan sejarah, dan yang paling terkenal adalah sebuah masjid bernama Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat yang biasa disebut Masjid Pulau Penyengat.
Masjid Pulau Penyengat ini memiliki cerita unik tersendiri, pasalnya bahan perekat yang digunakan untuk membangun masjid ini bukanlah semen melainkan putih telur. Masjid ini berwarna kuning khas melayu dengan perpaduan warna hijau dimana Pulau Penyengat sendiri kental dengan adat melayunya. Jika dilihat dari depan masjid ini memliki dua menara dan dua rumah kecil yang masing-masing ada di kiri dan kanan masjid. Konon, dahulu persediaan makanan sangat melimpah seperti beras, sayur, dan telur. Karena pekerja merasa bosan dengan makanan tersebut, akhirnya mereka hanya memakan kuning telur saja dan menggunakan putih telur sebagai bahan campuran untuk membuat bangunan.
Masjid ini sendiri telah dibangun sejak tahun 1812 M dan dikategorikan sebagai situs warisan budaya oleh pemerintah. Setiap sisi ruangan masjid ini memiliki makna-makna tertentu, seperti misalnya terdapat sebuah lorong yang disekat-sekat sehingga membentuk 5 ruangan, dimana 5 ruangan ini bermakna yaitu jumlah dari ke-5 rukun islam dan jumlah 5 waktu sholat, lalu masjid ini juga memiliki 13 kubah yang berarti jumlah rukun sholat dengan ditambah 4 menara menjadi 17 yang berarti jumlah rakaat di dalam sholat selama satu hari.
Hingga saat ini, masjid ini masih aktif digunakan untuk beribadah oleh orang-orang sekitar. Tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah masjid ini juga menjadi tempat wisata religi. Banyak benda-benda berusia ratusan tahun dapat kita temukan di dalam masjid ini. Di masjid ini kita bisa menemukan 2 lemari besar identik di sisi kanan dan kiri saat beradan di dalam masjid, lemari-lemari tersebut berisi buku-buku yang telah berusia ratusan tahun. Lalu ada al-Quran yang juga telah berusia ratusan tahun yang ditulis tangan oleh seorang putra asli dari Riau yang menuntut ilmu agama sampai ke negeri Turki. Ada lagi benda unik yaitu pasir asli dari Mekkah yang diletakkan dibawah mimbar masjid, pasir ini dibawa oleh seseorang dari Riau yang pertama kali menunaikan ibadah Haji ke Tanah Suci.
#OSKMITB2018
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |