|
|
|
|
|
|
Menelisik Cerita Rakyat Batu Sio dan Ake Sio Tanggal 05 Jan 2019 oleh Roro . |
rmula pada abad ke–13, suami istri Lumimuut dan Toar mempunyai dua orang anak yatim yakni Mina Esa dan Andi Polii. Mina Esa kawin dengan orang Kastilani bernama Makisemba. Keduanya, hidup di Tonsawang. Tidak berapa lama, mereka berlayar ke sebelah utara Celebes (Sulawesi) tiba di suatu pulau dan teluk.
TELUK itu disebut Sawang (Siau Timur) karena mengingat tanah tumpah darah mereka Tonsawang. Mereka tinggal di situ, kemudian pada suatu saat berjalanlah keduanya memasuki pedalaman pulau itu dan di sana dijumpainya sebuah batu besar. “Di sekitar batu itulah, Makisemba dan Mina Esa bemukim dan hidup.
Keduanya dikaruniai Sembilan orang anak yaitu, Uta Labo, Uta Haghi, Lekungbulaeng, Naeloh, Linangkulaeng, Wulaeng, Bawingkahe, Neli dan Rasageng,” cerita salah satu Tokoh Muda Pemerhati Budaya di Sitaro, Winton Sagune, kemarin.
Oleh Makisemba batu besar itu, disebut Batu Sio. Hal ini disebabkan karena, setiap anak lahir, plasentanya dalam bahasa daerahnya kakandumang selalu ditanam di bawah batu besar itu. “Setiap anak yang lahir oleh Makisemba, digali sebuah kolam tempat mandi anak-anaknya. Sampai saat ini, sembilan kolam tersebut masih ada sampai sekarang, dan terdapat di suatu tempat bernama Pamua atau Tukadeng di Desa Beong Kecamatan Siau Tengah,” tuturnya.
Sembilan kolam mata air, dalam bahasa daerah disebut Ake Sio. November 1420, ketika Magelhaens pelayar Spanyol tinggal di pulau ini, dia menyebut pulau ini adalah Pulau Siau menurut sebutan nama Batu Siow. Seterusnya, kolam air yang dibuat Makisemba, untuk ke Sembilan orang anaknya juga menjadi tempat mandi dari sembilan bidadari. Demikianlah sebutan Batu Sio dan Ake Sio oleh Makisemba menjadi sebutan Pulau Siau, Magelhaens untuk pulau ini.
Menurut Sagune, Batu Sio dan Ake Sio sangat berpotensi bagi wisata di Kabupaten Kepulauan Sitaro. “Banyak tempat-tempat sejarah jaman dulu bisa dijadikan potensi wisata,” terangnya.
Sumber : https://manadopostonline.com/read/2016/10/22/Menelisik-Cerita-Rakyat-Batu-Sio-dan-Ake-Sio/18435
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |