×

Akun anda bermasalah?
Klik tombol dibawah
Atau
×

DATA


Kategori

Ritual Adat

Provinsi

Jawa Tengah

Asal Daerah

Kabupaten Magelang

Munggah Molo (Menaikan Kerangka Atap) Tradisi Jawa dalam Membangun Rumah

Tanggal 14 Aug 2018 oleh OSKM18_16318243_Firman Nuruddin.

Munggah Molo (Menaikan Kerangka Atap)

Tradisi Jawa dalam Membangun Rumah

Sekilas Mengenai Munggah Molo

Di daerah Jawa Tengah sejak zaman nenek moyang terdahulu sangat terkenal dengan berbagai macam kearifan lokal yang tumbuh mengakar mebudaya dikehidupan masyarakatnya. Masyarakat Jawa tengah selain terkenal dengan kehalusan bahasa dan sopan santunya, sejak dulu juga dikenal sangat menghargai alam sekitar dan dalam setiap tindakanya selalu mengandung makna filosofis luhur yang sangat menarik untuk dijadikan bahan kajian.

Salah satu kebutuhan pokok dalam kehidupan seseorang ialah kebutuhan akan tempat tinggal. Dalam konsep kehidupan masyarakat Jawa Tengah, kebutuhan akan tempat tinggal ini menjadi salah satu hal yang dipikirkan masak-masak terutama bagi setiap individu yang hendak berkeluarga. Tatanan budaya Jawa sangat detail mengatur tentang bagaimana tata cara dalam mempersiapkan tempat tinggal salah satunya dengan adanya Upacara Adat “Munggah Molo”. Upacara adat ini menurut hasil wawancara dengan sesepuh Desa, sebenarnya merupakan hasil akulturasi budaya antara Jawa dan Islam. Dalam konsep Agama Islam, didalam ayat ke 7 Al-quran Surah Ibrahim diterangkan bahwa manusia apabila selalu mensyukuri nikmat Allah maka akan ditambah dengan kenikmatan dan didalam adat Jawa Kuno masyarakat juga memberikan sesaji ketika membangun rumah  sebagai representasi rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rizki. Setelah masyarakat Jawa banyak memeluk Agama Islam, UpacaraAdat ini tetap dipertahankan namun dengan menambahkan adanya doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT.

Munggah Molo merupakan upacara adat yang namanya diambil dari dua kata dalam Bahasa Jawa yakni ‘Munggah’ yang berarti menaikan dan ‘Molo’ yang berarti kerangka atap. Seperti namanya, Upacara Adat Munggah Molo ini dilakukan ketika proses pembangunan sebuah rumah akan memasuki tahap pemasangan kerangka atap. Dalam upacara adat ini, juga terdapat beberapa Ubarapme khusus (persyaratan dan bahan) yang didalamnya juga mengandung arti filosofis luhur yang sangat menarik untuk dipelajari.

Ubarampe Munggah Molo (Persyaratan/Bahan) dan Maknanya

Dalam rangkaian pelaksanaan Upacara Adat Munggah Molo, pemilik rumah diharuskan untuk menyiapkan beberapa Ubarampe khusus yang kemudian akan dipasang di pusat atap/cungkup dari rumah yang akan dibagun. Ubarampe tersebut diantaranya:

  1. Tebu yang dicabut dari pangkalnya

Memiliki makna sebagai harapan dan doa agar keluarga yang nantinya menempati rumah senantiasa beristiqamah dalam melakukan kebaikan layaknya pangkal tebu yang tegak menopang batang tebu.

  1. Pari Sak Wit (satu ikat padi kuning)

Memiliki makna sebagai harapan dan doa agar keluarga dapat menggapai kejayaan dan kemakmuran kemudian setelah mencapai kemakmuran tersebut, layaknya padi yang semakin menguning dan berisi semakin menunduk (tawadhu') tidak sombong

  1. Kelapa

Sama halnya dengan tanaman kelapa yang setiap bagian tubuhnya memiliki manfaat, keluarga yang menempati rumah baru ini juga diharapkan dapat menjadi keluarga yang kuat dan dapat bermanfaat untuk sesama (rahmatan lil 'alamin)

  1. Bendera Merah Putih

Ubarampe berupa bendera sebenarnya baru ada ketika awal Indonesia merdeka. Sebagi wujud nasionalisme dari masyarakat Jawa dan rasa syukur kepada Tuhan yang telah menganugerahkan kemerdekaan sehingga dapat memiliki tanah air sebagai tempat tinggal maka ditambahkanlah bendera merah putih pada upacara Adat Munggah Molo ini.

  1. Duit Kricik (uang koin)

Dalam masyarakat zaman dahulu, bentuk uang yang digunakan masih berbentuk uang koin loga, sehingga adat ini masih terpelihara sampai sekarang dengan menggunakan uang koin sebagi ubarampe. Uang melambangkan modal finansialo yang dimiliki oleh keluarga yang akan menempati rumah dan sebagai harapan agar Tuhan senantiasa melimpahkan rizki yang berkah kepada keluarga.

  1. Jajanan Pasar, ayam panggang, dan pisang.

Sebagai panjatan rasa syukur, si pemilik rumah baru juga diharuskan untuk berbagi jajanan pasar, ayam panggang, dan pisang kepada masyarakat sekitar. Selain untuk menyambung silaturahmi dengan tentangga, nilai saling berbagi dan berkomunikasi dengan tetangga yang sangat kental dalam adat Jawa juga dapat terus dilestarikan dengan membagikan makanan ytersebut.

  1. Pakaian keluarga

Melambangkan setiap anggota keluarga harus selalu menjaga akhlaqul karimah dengan menutup aurat, selain itu juga diharapkan Tuhan selalu memberkahi kelurga dengan kecukupan kebutuhan sandang.

  1. Kendi , Pakumas (paku warna emas), kayu salam dan daun salam

Ubarampe yang diwadahkan dalam kendi inimengandung makna berupa harapan keselamatan dari Allah SWT kepada keluarga.

  1. Payung agar tuhan semesta alam dapat melindungi dengan rahmat Nya,

Setelah syarat-syarat tersebut sudah ada kemudian keluarga memanggil tokoh agama untuk mendoakan dan memimpin prosesi adat tersebut, dan diakhiri makan bersama para tukang bangunan dan masyarakat sekitar.

#OSKMITB2018

Gambar Ubarampe Munggah Molo

DISKUSI


TERBARU


Lagu Banjar

Oleh Kyas1 | 15 Sep 2026.
Musik dan Lagu

Jenis-jenis Lagu Banjar Terdapat tiga jenis utama lagu Banjar yang berkembang berdasarkan wilayah geografisnya, yaitu lagu Rantauan, Pandahan, dan P...

Rumah Adat Banj...

Oleh Kyas1 | 15 Sep 2026.
Produk Arsitektur

Deskripsi Rumah Adat Banjar Gajah Baliku adalah salah satu dari dua rumah adat Banjar legendaris yang terletak di Teluk Selong, kurang lebih 3,2 kil...

Gonjong Rumah G...

Oleh Kyas1 | 15 Sep 2026.
Produk Arsitektur

Apa Itu Gonjong Rumah Gadang? Gonjong adalah bagian paling khas dari Rumah Gadang, rumah adat masyarakat Minangkabau. Ini merujuk pada ujung atap ya...

Taman Putroe Ph...

Oleh Kyas1 | 15 Sep 2026.
Produk Arsitektur

Deskripsi Taman Putroe Phang terletak di dekat Masjid Baiturrahman dan berseberangan dengan Kerkhof di Jl. Merapi no.37, Sukaramai, Kec. Baiturrahma...

Arca Kuwera/jam...

Oleh Kyas1 | 15 Sep 2026.
Naskah Kuno dan Prasasti

Deskripsi Arca yang diduga menggambarkan Dewa Kekayaan, yakni Kuwera atau Jambhala, ditemukan di Gua Songobranti. Kondisinya tidak utuh; bagian kepa...

FITUR


Gambus

Oleh agus deden | 21 Jun 2012.
Alat Musik

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua...

Hukum Adat Suku...

Oleh Riduwan Philly | 23 Jan 2015.
Aturan Adat

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal...

Fuu

Oleh Sobat Budaya | 25 Jun 2014.
Alat Musik

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud...

Ukiran Singa Ba...

Oleh hokky saavedra | 09 Apr 2012.
Ornamen Arsitektural

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai...