|
|
|
|
|
|
Sejarah Kuda Kosong Tanggal 11 Aug 2018 oleh OSKM18_16218164_Aura Diah Pitaloka. Revisi 3 oleh Inurwansah pada 01 May 2026. |
Sejarah Kuda Kosong telah mengalami penafsiran dari masa ke masa. Beberapa di antaranya merupakan tafsiran ulang dari kisah-kisah yang bersumber pada tuturan lisan, di samping ada pula yang bersumber pada naskah babad. Keterangan dari Tatang Setiadi, Pimpinan Perceka Art Center, Cianjur berikut ini merupakan narasi yang disampaikan secara lisan dan tak lepas dari unsur interpretasi ulang.
Tradisi Kuda Kosong berakar pada dinamika politik masa pemerintahan Raden Aria Wiratanu II (Raden Wiramanggala) yang menjabat pada tahun 1691–1707. Sebelumnya, wilayah Cianjur berada di bawah pengaruh kekuasaan Banten, yang kemudian beralih ke Cirebon. Saat Cirebon jatuh ke tangan Mataram, Cianjur turut dianggap sebagai wilayah bawahan Mataram.
Situasi menjadi lebih kompleks pada tahun 1691 ketika kolonial Belanda melalui Kapten Winkler mulai berupaya mengintegrasikan Cianjur ke dalam kekuasaan mereka. Akibatnya, rakyat Cianjur menghadapi beban ganda berupa kewajiban upeti kepada Kerajaan Mataram sekaligus tekanan administratif dari pihak Belanda.
Menghadapi tekanan tersebut, Raden Wiramanggala berdiskusi dengan dua adiknya, Raden Aria Wiradimanggala (Aria Kidul) yang memiliki keahlian di bidang sastra, dan Raden Aria Natadimanggala (Aria Cikondang) yang ahli dalam bela diri. Aria Cikondang menyarankan jalur konfrontasi fisik, namun Aria Kidul mengusulkan jalur diplomasi untuk menghindari jatuhnya korban dari kalangan rakyat.
Dikisahkan Aria Kidul menyusun sebuah surat resmi berjudul Serat Kalih yang ditujukan kepada Raja Mataram. Surat tersebut dibawa oleh utusan dari Cianjur dengan disertai bungkusan biji lada sebagai simbol kepadatan rakyat. Setelah menelaah pesan tersebut, Raja Mataram memutuskan untuk membebaskan Cianjur dari wajib upeti. Sebagai bentuk penghargaan, Raja Mataram memberikan hadiah berupa seekor kuda hitam gagah, pohon saparantu, serta benda pusaka.
Setelah para utusan kembali ke Cianjur, kuda hadiah dari Mataram tersebut diperkenalkan kepada publik untuk menjawab rasa penasaran masyarakat sekaligus menyiarkan keberhasilan diplomasi tersebut. Pemerintah Cianjur membuat kebijakan untuk merias kuda tersebut dan mengaraknya berkeliling kota.
Karena kuda tersebut diarak tanpa penunggang sebagai bentuk penghormatan kepada pemberinya, prosesi ini dikenal dengan istilah ngangin-ngangin Kuda Kosong. Tradisi ini kemudian ditetapkan sebagai agenda tahunan yang pelaksanaannya bertepatan dengan peringatan hari besar Islam.
Seiring waktu, pelaksanaan pawai Kuda Kosong mengalami berbagai perubahan kebijakan:
Saat ini, Kuda Kosong telah direvitalisasi menjadi aset kebudayaan yang lebih menekankan pada aspek artistik dan estetika pertunjukan, lengkap dengan iringan musik dan penataan gerak yang modern sebagai ciri khas kebudayaan Cianjur yang dinamis.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |