×

Akun anda bermasalah?
Klik tombol dibawah
Atau
×

DATA


Kategori

Cerita Rakyat

Elemen Budaya

Cerita Rakyat

Provinsi

Jawa Timur

Watu Tulis di Desa Dermawuharjo

Tanggal 12 Jul 2018 oleh Deni Andrian.

Watu Tulis yang terletak di Desa Dermawuharjo, Kecamatan Grabagan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, sebenarnya sebuah menhir. Dinamakan Watu Tulis karena terdapat guratan-guratan berpola pada batunya, yang dalam anggapan masyarakat mirip dengan tulisan Jawa, sekalipun pada kenyatannya tidak.  Bahannya sendiri terbuat dari batu kapur-padas, atau biasa disebut batuan lokal daerah Tuban.


Lokasi Watu Tulis boleh dibilang terpencil sehingga sulit dicari. Apalagi tidak ada penunjuk arah. Sebelum mencapai batu ini, pengunjung akan mendaki semacam bukit kecil tepat di belakang sendang. Batu ini tidak terletak di puncak bukit, melainkan tepat di bawah sumber mata air utama sendang tersebut.

Tepat di bawah lokasi Watu Tulis terdapat sendang yang berair dingin dan juga sumber mata air panas yang mengandung belerang. Menyeberangi jalan, terdapat tumpukan batu yang mengeluarkan gas belerang. Tumpukan batu ini sangat disakralkan oleh masyarakat karena dianggap tempat Mpu Supo dalam membuat keris. Cerita rakyat yang beredar mengatakan Mpu Supo membuat keris sekaligus mewarangi kerisnya di lokasi tersebut. Banyak orang percaya bahwa tempat tersebut memiliki tuah yang bisa mendatangkan kejayaan.


Menhir

Menhir adalah salah satu peninggalan kebudayaan megalitikum. Menurut R. Soekmono kebudayaan megalitikum menghasilkan bangunan-bangunan dari batu-batu besar. Pada masa itu manusia telah menggunakan batu-batu besar untuk membangun berbagai jenis kebudayaan (Soekmono,1973: 72).

Dalam A History of Western Art dijelaskan, menhir adalah batu tunggal, biasanya berukuran besar, yang ditatah seperlunya sehingga berbentuk tugu dan biasanya diletakkan berdiri tegak di atas tanah. R.P. Soejono, dkk (1990) dalam buku Jaman Prasejarah Di Indonesia  menyebutkan, menhir adalah sebuah batu tegak dikerjakan atau tidak untuk memperingati orang yang sudah meninggal dunia.

Dalam Sejarah Nasional Indonesia I, menhir didefinisikan sebagai batu tegak atau batu panjang yang didirikan tegak; berfungsi sebagai peringatan dalam hubungannya dengan pemujaan leluhur (Soejono, 1984: 321). Menurut Ayu Kusumawati dan Haris Sukendar dalam bukunya Megalitik Bumi Pasemah, Peranan dan Fungsinya (2000), menhir mempunyai bermacam-macam bentuk, polos dan dipahatkan berbagai hiasan. Dalam perkembangannya, menhir mempunyai fungsi dan peranan yang beragam sebagai tanda kubur dan tonggak untuk penyembelihan binatang korban dalam suatu upacara.

Kondisi Watu Tulis ini sedikit pecah di sisi kiri bagian atas. Orientasinya menunjuk ke arah utara-timur laut. Hal yang sangat umum ditemui dalam budaya megalitik jika suatu benda atau bangunan menghadap ke arah puncak gunung atau tempat tinggi lainnya ataupun laut. Masyarakat pada waktu tersebut beranggapan jika tempat-tempat tersebut adalah tempat bersemayamnya roh nenek moyang. Mereka pun percaya jika seseorang meninggal dunia, maka ia pergi bersama arwah nenek moyangnya. Lengkungan pada batu dianggap sebagai arah penunjuk jalan untuk mencapai tempat tujuan yang dimaksud, yaitu puncak yang tinggi ataupun lautan. Demikian Soejono dan Yondri dalam tulisannya.

Demikian pula dengan Watu Tulis ini. Orientasinya yang menghadap arah utara-timur laut, kemungkinan menghadap  arah puncak bukit tertinggi atau laut utara. Kedua tempat ini terletak di arah yang ditunjuk oleh sudut kemiringan menhir tersebut. Namun menurut pendapat penulis, karena puncak bukit tertinggi terletak di Bukit Ngandong yang berlokasi di arah barat daya dari menhir ini, maka menhir ini berorientasi ke laut utara. Hal ini berhubungan dengan kondisi masyarakat Jawa sebagaimana yang dijelaskan oleh Geertz dalam The Religion of Java.

Menurut Geertz, konsep agama dalam masyarakat Jawa merupakan sistem simbol yang bertindak untuk memantapkan perasaan-perasaan dan motivasi secara kuat, menyeluruh, dan bertahan lama pada diri manusia. Itu dilakukan  dengan cara memformulasikan konsepsi-konsepsi suatu hukum yang berlaku umum berkenaan dengan eksistensi manusia dan menyelimuti konsepsi-konsepsi ini dengan suatu aura tertentu yang mencerminkan kenyataan. Dengan demikian perasaan-perasaan dan motivasi-motivasi tersebut nampaknya secara tersendiri adalah nyata.


Konsep kehidupan dan kematian

Masyarakat Jawa dalam menilai suatu simbol, bukan hanya sebagai suatu benda. Melainkan sebagai suatu yang hidup yang memiliki arti, fungsi, dan peranan yang juga diartikan sebagai sebuah perlambang yang diberikan oleh Sang Hyang Ingkang Murbeng Dumedi sebagai pengingat dalam hidup. Laut dalam beberapa kebudayaan memiliki arti penting utamanya terhadap konsep kehidupan dan kematian. Dalam agama Hindu, pelarungan abu jenazah ke laut lepas dianggap dapat membebaskan dari lingkaran Dharma-Karma sehingga memungkinkan untuk mencapai kesempurnaan yang mengangkatnya menuju nirwana. Laut dipandang sebagai asal muasal sekaligus akhir dari sebuah kehidupan. Orientasi watu tulis apabila benar-benar menghadap ke laut utara, dapat juga dihubungkan dengan pentingnya laut utara sebagai sumber mata pencaharian masyarakat pesisir pantai Utara Jawa.

Berdasarkan penelitian terhadap masa prasejarah di Indonesia khususnya dalam tradisi budaya megalitik, banyak ditemukan menhir-menhir yang mengalami perubahan fungsi. Salah satunya adalah perubahan fungsi menhir menjadi tempat pengikatan kurban (kerbau) yang akan disembelih pada saat upacara pemakaman (Harun Kadir, “Aspek Megalitik di Toraja, Sulawesi Selatan”, dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi I, Cibulan, 1977). Selain itu, ada juga di beberapa daerah menhir difungsikan sebagai tempat untuk memutuskan hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan hukuman atau lambang dari kepala suku atau kepala adat, sebagai tanda yang berkaitan dengan kegiatan penguburan. Menhir yang berfungsi sebagai tanda penguburan antara lain dapat ditemukan di Ngada, Flores. Di situs tersebut, menhir dijadikan tanda penguburan yang bersifat plural. Setiap menhir yang didirikan, menurut Haris Sukendar, sangat berkaitan erat dengan jumlah orang yang dikuburkan.

Watu Tulis, dalam perkembangannya masih digunakan sebagai sarana untuk berdoa oleh masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan masih terdapatnya sisa-sisa bunga, dupa, dan juga seikat padi. Masyarakat Desa Dermawuharjo percaya, agar panen yang mereka dapat bisa melimpah, maka “sowan” atau berkunjung dengan memberikan sesaji di Watu Tulis sangat diperlukan. Jumlah menhir yang hanya satu, menunjukkan indikasi bahwa dulunya watu tulis ini juga digunakan sebagai sarana peribadatan, pemujaan, atau lainnya yang berhubungan dengan aspek religi dan spiritualitas. Masyarakat menganggap, melalui Watu Tulis ini hajat atau keinginan yang mereka ucapkan dapat terlaksana. Artinya, Watu Tulis bukan hanya menjadi sebuah tonggak batu tegak yang didirikan sebagai alat pemujaan terhadap roh leluhur pada zaman sebelumnya, tetapi telah memasuki ranah spiritualitas manusia dengan menumbuhkan keyakinan dan semangat terhadap kehidupan.

Sumber: https://hurahura.wordpress.com/2017/01/16/watu-tulis-peninggalan-kebudayaan-megalitikum-di-tuban/

DISKUSI


TERBARU


Terong Sambal B...

Oleh Kyas1 | 27 Sep 2026.
Makanan Minuman

Bahan-bahan 3 buah terong 1 papan pete, kupas 1 sdt gula pasir 1 sdt kaldu bubuk 1/4 sdt garam 1/4 sdt penyedap Bahan sambal 5 siung bawan...

Tumis Cumi Hita...

Oleh Kyas1 | 27 Sep 2026.
Makanan Minuman

Bahan-bahan 1/2 kg cumi 5 siung bawang merah 3 siung bawang putih 3 Cabai merah keriting 15 Cabai rawit (bisa sesuai selera) 2 daun jeruk 2 r...

Balado Tahu Tel...

Oleh Kyas1 | 27 Sep 2026.
Makanan Minuman

Deskripsi Balado Tahu Telur Puyuh adalah hidangan yang memadukan telur puyuh dan tahu yang dimasak dengan bumbu balado. Resep ini sangat populer, te...

Sayur Tettu'

Oleh Kyas1 | 27 Sep 2026.
Makanan Minuman

Bahan-bahan 1 ikat daun ubi (ditumbuk kasar) 1 buah jantung pisang diiris halus 1 buah kelapa untuk santan (dibagi 2 kental dan encer) 1 ruas le...

Sambal Cemeding...

Oleh Kyas1 | 27 Sep 2026.
Makanan Minuman

Deskripsi Sambal Cemeding Daun Ubi adalah sambal khas Rembang yang menggunakan petis ikan sebagai ciri khasnya. Petis ikan ini berasal dari kuah ika...

FITUR


Gambus

Oleh agus deden | 21 Jun 2012.
Alat Musik

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua...

Hukum Adat Suku...

Oleh Riduwan Philly | 23 Jan 2015.
Aturan Adat

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal...

Fuu

Oleh Sobat Budaya | 25 Jun 2014.
Alat Musik

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud...

Ukiran Singa Ba...

Oleh hokky saavedra | 09 Apr 2012.
Ornamen Arsitektural

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai...