|
|
|
|
|
|
Asal Nama Surabaya Tanggal 28 Jul 2026 oleh Kyas1 . |
Berdasarkan filosofi kehidupan warga Surabaya yang bermukim di wilayah pantai, 'Sura' (Suro) dan 'Baya' (Boyo) menggambarkan perjuangan hidup antara darat dan laut. Kedua alam ini memiliki penguasa berbeda yang dapat bertemu di muara sungai: ikan Sura dan Buaya. Perlambang kehidupan darat dan laut ini juga menggambarkan warga Surabaya yang beragam suku, agama, etnis, dan ras, namun dapat bersatu dan hidup rukun.
Penulisan nama Surabaya telah mengalami perubahan ejaan seiring waktu. Sebelum dieja "Surabaya" seperti sekarang, penulisan nama ini pernah berupa: Surabaia, Soerabaia, Seoarabaja, dan Surabaja. Berdasarkan penelitian, ejaan awal nama Surabaya adalah Curabhaya, ditemukan dalam prasasti Trowulan I tahun 1358 Masehi.
Cerita lain menyebutkan bahwa Surabaya semula berasal dari Junggaluh, Ujunggaluh, atau Hujunggaluh. Nama ini disebut sebagai "Surapringga" dalam sejarah pemerintahan regent atau kebupatian. Diyakini sebagai cikal-bakal Kota Surabaya, Hujunggaluh adalah ujung tanah yang menjorok ke laut, yaitu tanjung, yang kemungkinan besar adalah Tanjung Perak sekarang. "Galuh" dalam konteks ini berarti emas atau perak. Lokasi Hujunggaluh digambarkan sebagai "jalabuhan" atau tempat pertemuan pedagang lokal dan antarpulau untuk bongkar-muat barang. Hujunggaluh juga pernah menjadi ibu kota daerah setingkat kabupaten. Hilangnya nama Hujunggaluh diperkirakan terjadi pada abad ke-14.
Menurut Soenarto Timoer dalam bukunya "Menjelajahi Jaman Bahari Indonesia 'Mitos Cura-Bhaya'", hari jadi Surabaya diperkirakan antara tahun 1334 (saat meletusnya Gunung Kelud) dan 1352 (kunjungan Raja Hayam Wuruk). Perubahan nama dari Hujunggaluh menjadi Surabaya dapat dikaitkan dengan bencana alam meletusnya Gunung Kelud pada tahun 1334 yang menyebabkan perubahan di muara Kali Brantas dan Kalimas, serta pergeseran garis pantai Hujunggaluh ke utara. Peristiwa ini menimbulkan pikiran mistis tentang pertarungan penguasa lautan (ikan hiu bernama cura) dan penguasa darat (buaya bernama bhaya). Dalam mitos, untuk menghentikan pertikaian ini, nama "Cura-bhaya" (sekarang Surabaya) digabungkan. Mitos ikan dan buaya ini sudah ada pada abad XII-XIII, dipengaruhi ajaran Buddha Mahayana melalui cerita Kuntjarakarna, dengan relief terpahat di gua Selamangleng, Kediri. Soenarto Timoer menyimpulkan bahwa mitos ini hanya merupakan versi lokal dan hanya berlaku di Hujunggaluh, sebagai bentuk pujian kepada sang Cura dan Bhaya yang menguasai lautan dan daratan.
Prof. Dr. N.J. Krom menyitir nama Junggaluh dari sejarah Tiongkok, yang diperkuat oleh Drs. Oei Soen Nio. Dalam ejaan Cina, nama Junggaluh ditulis sebagai "Sugalu", yang menurut mereka harus dibaca "Jung Ya Lu".
Sumber: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2016/02/26/asal-nama-surabaya-bukan-hiu-dan-buaya
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |