|
|
|
|
|
|
Candi Pertapan Gunung Pegat Tanggal 26 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Candi Pertapan terletak di puncak Gunung Pegat, Blitar. Saat ini, bangunan candi telah runtuh, namun kala dan yoninya masih bisa dijumpai. Batu-batu penyusun lainnya tersebar hingga ke jurang sisi barat dan timur, dengan hanya sebagian kecil struktur bangunan yang masih utuh di tempatnya. Nama candi ini sesuai dengan riwayatnya yang selalu dikaitkan dengan aktivitas pertapaan, mulai dari Dewi Kilisuci, Buyut di Makudutan, hingga Maling Aguno.
Dewi Kilisuci, putri Kediri, menolak pinangan Lembusuro, sosok berwajah lembu yang sakti, dengan syarat membuat sumur di puncak Gunung Kelud. Setelah sumur selesai digali, Lembusuro ditimbun hidup-hidup. Dalam kemarahannya, Lembusuro mengutuk bahwa setiap letusan Gunung Kelud akan melumat wilayah Kediri. Untuk menebus kesalahannya, Dewi Kilisuci bertapa dan tidak menikah seumur hidup untuk memohon keselamatan negerinya. Salah satu tempat pertapaannya dipercaya berada di Candi Pertapan Gunung Pegat Blitar.
Catatan arkeologis dari Oud Javaansche Oorkonden (OJO) menyebutkan prasasti Candi Pertapan yang bertarikh 1120 Saka (17 Oktober 1198 M), pada masa pemerintahan Raja Srengga dari Kerajaan Kadhiri. Prasasti ini tidak dikeluarkan oleh raja, melainkan memberitakan tentang Kaki di Subhasita yang memberitahukan kepada Kabuyutan di Makudutan di Manghuri, yang kemudian ikut ke Sang Hyang Kabuyutan di Subhasita sampai akhir zaman. Prasasti ini juga menyebutkan wilayah-wilayah di sekitar candi seperti Wleri (sekarang Mleri) dan Padelegan (sekarang Pikatan di Wonodadi), menunjukkan bahwa tokoh-tokoh yang disebutkan dalam prasasti tersebut adalah pertapa yang memiliki pengaruh luas di sekitar Gunung Pegat.
Meskipun bangunan candi telah runtuh, kala dan yoninya masih dapat dijumpai. Yoni Candi Pertapan digambarkan cukup indah, dengan cerat yang disangga oleh naga raja.
Di punggung Gunung Pegat, di wilayah Dusun Prambutan, terdapat makam Maling Aguno yang konon tersusun dari batu-batu Candi Pertapan. Maling Aguno dikenal sakti dan diburu Belanda karena mencuri kekayaan mereka untuk dibagikan kepada rakyat pribumi. Kesaktiannya dipercaya diperoleh dari hasil pertapaannya di Candi Pertapan, sehingga untuk menumpasnya, dia harus ditindih menggunakan batu dari candi tersebut.
Sumber: https://travellersblitar.com/candi-pertapan-gunung-pegat-blitar
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |