|
|
|
|
|
|
Tari Kuda Lumping Tanggal 26 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Tari Kuda Lumping atau Jathilan sudah ada sejak zaman primitif dan awalnya digunakan sebagai sarana upacara ritual yang bersifat magis. Pada awalnya, alat dan cara berpakaian penarinya masih sangat sederhana. Seiring perkembangan zaman, instrumental yang digunakan semakin lengkap dan kostum penarinya lebih bagus serta kreatif. Dari yang semula hanya untuk ritual, kini Kuda Lumping telah dijadikan sebagai seni pertunjukan, dengan gerakan yang lebih dinamis, kreatif, dan bervariasi.
Tarian Kuda Lumping menggambarkan peperangan dengan menunggang kuda dan bersenjatakan pedang. Selain penari berkuda, ada juga penari bertopeng yang berperan sebagai penthul, bejer, cepet, gendruwo, dan barongan. Pertunjukan Kuda Lumping biasanya melibatkan sekitar 35 orang, terdiri dari 20 penari, 10 penabuh instrumen, 4 pembantu umum/penjaga keamanan, dan 1 koordinator. Penari dapat mengalami kondisi trance atau kesurupan, bahkan bisa makan barang dari kaca atau menunjuk pelaku keonaran jika ada gangguan. Dalam pertunjukan gaya baru, sering terdapat 10 pasangan kuda, dengan dua kuda putih di depan dan delapan kuda hitam, serta dua kuda kecil (belo) di belakang yang ditarikan dengan lebih lincah dan gaya kekanak-kanakan.
Para penari menunggangi kuda yang terbuat dari bambu dan membawa pedang. Kostum dan tata rias muka penari dapat realistis atau non-realistis. Untuk kostum realistis, tutup kepala mengenakan blangkon atau iket kepala dengan kacamata gelap, serta pakaian berupa baju/kaos, rompi, celana panji, stagen, dan timang. Untuk kostum non-realistis, tutup kepala bisa mengenakan irah-irahan wayang orang.
Vokal diucapkan oleh Penthul dan Bejer dalam bentuk dialog dan tembang. Instrumen yang dipakai secara tradisional meliputi 3 angklung, 3 bendhe, kepyak setangkep, dan sebuah kendang. Pada masa sekarang, ada pertunjukan Kuda Lumping yang tidak menggunakan angklung, melainkan kendang, bendhe, gong, gender, dan saron.
Awalnya digunakan untuk upacara ritual magis, kini Kuda Lumping telah menjadi seni pertunjukan. Tari ini menggambarkan peperangan dengan menunggang kuda. Kondisi trance atau kesurupan pada penari merupakan salah satu daya tarik dan ciri khas pertunjukan, di mana penari dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia meskipun tidak bisa berbahasa tersebut sebelumnya.
Pertunjukan Kuda Lumping biasanya didukung oleh 35 orang, dengan rincian 20 penari, 10 penabuh instrumen, 4 pembantu umum/penjaga keamanan, dan 1 koordinator pertunjukan. Dalam pertunjukan gaya baru, sering terdapat 10 pasangan penari kuda.
Pertunjukan Kuda Lumping bisa dilakukan siang atau malam hari di arena pertunjukan yang berbentuk lingkaran dan lurus. Di Magelang, kesenian Jathilan berkembang baik, bahkan memiliki kelompok-kelompok jathilan seperti Jathilan Campur 'Budhi Rukun' di Desa Mertoyudan. Jathilan Campur memadukan prajurit berkuda dengan peran lain seperti wanara, bugisan, buto blindhi, manuk beri, brasak, penthul tembem, cakil, dan barongan. Kata "jathilan" di Magelang berasal dari "jan" (amat) dan "thil-thilan" (banyak gerak), yang menggambarkan gerakan cepat seperti lari kuda yang "jejondilan".
Sumber: https://senibudayaku.com/sejarah-asal-usul-tari-kuda-lumping
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |