×

Akun anda bermasalah?
Klik tombol dibawah
Atau
×

DATA


Kategori

Cagar Budaya

Elemen Budaya

Produk Arsitektur

Provinsi

Daerah Istimewa Yogyakarta

Asal Daerah

Kabupaten Sleman

Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada

Tanggal 06 Jun 2025 oleh Bernadetta Alice Caroline.

Lokasi Pusat Universitas Gadjah Mada memiliki bangunan cagar budaya Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada yang merupakan cikal bakal sarana pendidikan pertama dalam bentuk kompleks bangunan yang dirancang secara khusus dengan pola tata ruang simetris. Lokasi ini merupakan tempat kegiatan pembeIajaran/pendidikan tinggi pertama kali di Indonesia yang dibangun setelah kemerdekaan pada tahun 1951, lokasi ini juga merupakan bukti sejarah perhatian pemerintah Republik lndonesia pada peletakan batu pertama universitas oleh Presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno. Lokasi pusat Universitas Gadjah Mada memiliki struktur dan pola ruang yang memiliki kemiripan dengan konsep ruang arsitektur Jawa Kraton Kasultanan Yogyakarta. Salah satu cirinya adalah orientasi arah dan Ietak bangunan pada garis poros imajiner dengan dua arah ke Utara dan Selatan meskipun mengalami perubahan dari rencana semula. Awalnya. konsep pintu masuk utama dari arah utara melalui gerbang di tengah Arboretum, menuju Balairung dan Balai Senat di Gedung Pusat. Konsep tersebut memiliki kemiripan dengan fungsi Pagelaran dan Siti Hinggil Kraton. Perpustakaan seperti Dalem, pusat kehidupan, dan auditorium seperti Sasana Hinggil menghadap ke lapangan Paneasila, mirip alun-alun Selatan. Sedangkan pola ruang boulevard, pintu gerbang dan bundaran Universitas Gadjah Mada mirip seperti pola ruang memanjang dari Kraton menuju ke Panggung Krapyak. Pada perkembangannya, pembangunan Gedung Perpustakaan dan Auditorium yang dikenal sebagai Grha Sabha Pramana tidak dibangun satu periode dengan Gedung Pusat. Selain itu, jalan yang ada pada Arboretum tidak jadi dibuat. Posisi letak dan orientasi Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada menghadap kearah utara ke Gunung Merapi yang didasarkan falsafah Tri Hitta Karana (Parahyangan di arah utara, Pawongandi tengah, dan Palemahandi arah selatan). Namun supaya tidak terkesan membelakangi Kraton Youakarta, maka jalan utama ke gedung pusat Universitas Gadjah Mada dibuat dari arah selatan yang kemudian dikenal sebagai boulevard kampus Universitas Gadjah Mada. Di Lokasi Pusat Universitas Gadjah Mada juga ditanam pohon-pohon yang mengandung nilai filosofi. Contohnya adalah Pohon Bodi (Ficus religiosa) yang di tanam di sebelah utara Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada. Pohon tersebut mengandung makna filosofi pencerahan yang dimaksudkan agar para pengajar di Universitas Gadjah Mada dapat memberi pencerahan ilmu kepada mahasiswa. Sesudah upacara Dies selesai, Dewan Kurator dan Pengurus Senat dipanggil untuk membicarakan tentang pembelian tanah dan pendirian gedung universitas. Hasilnya tercantum dalam surat Wakil Presiden Republik 1ndonesia tanggal 30 Desember 1950 bahwa Universitas Gadjah Mada akan menerima uang sebesar 15,000.000,00 (lima belas juta rupiah) untuk pembelian tanah dan persiapan. Kemudian dibentuk panitia penaksiran harga tanah oleh Pemerintah Kabupaten Sleman pada tanggal 9 Juli 1951. Pada tanggal 12 Oktober 1951, sekitar 94 ha (sembilan puluh empat hektar) lahan sudah selesai pembayarannya sedangkan 6 ha (enam hektar) masih belum dapat dibeli karena pemilik lahan tidak sepakat dengan harga yang ditetapkan panitia. Proses pembangunan kompleks kampus Universitas Gadjah Mada tidak dapat dilakukan secara serentak karena proses pembuatan gambar proyek untuk bestek dari bangunan yang bersifat besar membutuhkan waktu lama. Bagian pertama yang dibuat terlebih dahulu adalah gedung pusat untuk administrasi universitas yang saat ini dikenal sebagai Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada. Peletakan batu pertamanya dilakukan pada tanggaI 19 Desember 1951 oleh Presiden Republik Indonesia Ir. Soekamo. Pada tahun 1953, bangunan Gedung Pusat sebagai gedung tata usaha telah selesai bagian pondasinya. Bangunan gedung pusat mulai dipakai sejak tanggal 19 Januari 1958. Pada tanggal 19 Desember 1959, bangunan gedung pusat diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Ir. Soekamo. Sementara itu, pendirian gedung aula yang semula akan berada di selatan Gedung Pusat diundur karena tanah untuk gedung aula belum dapat dibeli.

DISKUSI


TERBARU


Eksplorasi Seni...

Oleh Kianasarayu | 22 May 2026.
Arsitektur Tradisional

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manif...

Cerita Rakyat d...

Oleh Kianasarayu | 22 May 2026.
Cerita Rakyat

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang...

Keris Jawa: Leb...

Oleh Kianasarayu | 21 May 2026.
Senjata Tradisional

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki ben...

Lontar Usada Ba...

Oleh Kianasarayu | 21 May 2026.
Lontar Usada Bali:

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategori...

Kedatuan Luwu:...

Oleh Kianasarayu | 21 May 2026.
Kedatuan Luwu: Salah

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedat...

FITUR


Gambus

Oleh agus deden | 21 Jun 2012.
Alat Musik

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua...

Hukum Adat Suku...

Oleh Riduwan Philly | 23 Jan 2015.
Aturan Adat

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal...

Fuu

Oleh Sobat Budaya | 25 Jun 2014.
Alat Musik

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud...

Ukiran Singa Ba...

Oleh hokky saavedra | 09 Apr 2012.
Ornamen Arsitektural

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai...