|
|
|
|
|
|
Genggong Pegok Tanggal 23 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Genggong adalah alat musik khas Bali yang terbuat dari bambu, memiliki suara yang khas dan unik. Alat musik sejenis juga ditemukan di daerah lain dengan sebutan seperti karinding (Jawa Barat), kuriding (Kalimantan Selatan), drumbla (Slowakia), dan mouth harp di beberapa negara barat. Di Bali, Genggong dapat dijumpai di Karangasem, Buleleng, Batuan (Gianyar), dan Denpasar.
Di Banjar Pegok, Sesetan, Kota Denpasar, Genggong mulai dikenal sekitar tahun 1930-an ketika seorang pemuda bernama I Ketut Regen (Kak Danjur) membentuk komunitas untuk memainkannya sebagai hiburan, sosialisasi, dan menjalin tali kasih. Namun, kesenian ini sempat ditinggalkan karena perkembangan kesenian lain. Genggong Pegok kembali terdengar pada tahun 1988 saat mengikuti perlombaan Sekaha Teruna Teruni Tingkat Provinsi Bali, namun kembali tenggelam setelah itu. Pada tahun 2019, seniman I Made Wardana (Bli Ciaaattt) menampilkan Genggong Pegok di Pesta Kesenian Bali ke-41 sebagai duta Kota Denpasar, yang kembali memperkenalkan kesenian ini kepada masyarakat sampai sekarang.
Alat musik Genggong Pegok terbuat dari bambu, dengan ukuran panjang sekitar 18 hingga 20 sentimeter dan lebar 1,5 hingga 2 sentimeter. Bambu dipilih karena menghasilkan suara yang lebih keras dibandingkan batang pohon enau. Pembuatan satu buah genggong membutuhkan waktu sekitar 1 hingga 2 minggu. Pembuat Genggong Pegok yang masih ada adalah I Ketut Ragia, anak dari Kak Danjur.
Cara memainkan genggong cukup mudah dan tidak memerlukan waktu lama untuk dipelajari. Genggong memiliki bagian bilah dari bambu dan tali untuk menarik. Untuk menghasilkan bunyi, Genggong ditempelkan di bibir lalu digetarkan melalui tarikan tali (ngedet). Suara nada dapat keluar dengan menggunakan metode resonansi tenggorokan atau rongga mulut. Terdapat dua jenis Genggong: genggong lanang untuk suara tinggi dan genggong wadon untuk suara rendah.
Bli Ciaaattt bersama keluarga besar Kak Danjur membentuk Sanggar Qak Danjur untuk melestarikan Genggong Pegok. Melalui sanggar ini, mereka mengajarkan Genggong kepada generasi muda, baik dari Banjar Pegok maupun banjar lainnya. Pada tahun 2020, Genggong Pegok (disatukan sebagai Genggong Bali) ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia. Bli Ciaaattt berharap status WBTB ini akan meningkatkan perhatian dari Pemerintah Kota Denpasar, khususnya dalam mendukung pembuat alat dan sosialisasi ke sekolah-sekolah untuk membangkitkan minat generasi muda.
Sumber: https://bali.idntimes.com/life/education/sejarah-genggong-pegok-bali-c1c2-00-lm183-8817n6
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
Genggong Pegok — Alat Musik, Banjar Pegok, Sesetan, Kota Denpasar, Bali · source
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |