|
|
|
|
|
|
Hikayat Cibiru Tanggal 26 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Cibiru adalah sebuah kawasan di timur Kota Bandung yang dulunya merupakan kampung kecil, namun kini telah berkembang menjadi pusat keramaian, pendidikan, dan lalu lintas. Nama Cibiru sendiri menyimpan sejarah toponimi yang menarik, berakar pada tradisi penamaan Sunda berdasarkan pohon dan sumber air.
Nama Cibiru diyakini berasal dari dua kata, yaitu 'Ci' yang berarti air, dan 'Biru' yang mengacu pada pohon biru atau Ki Biru (Garuga pinnata). Pohon ini istimewa karena akarnya mengeluarkan mata air yang digunakan oleh penduduk sekitar untuk kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, kampung yang tumbuh di sekitar pohon tersebut dinamai Cibiru. Menurut ahli toponimi Jawa Barat, Titi Bachtiar, warna biru jarang digunakan pada masa lalu oleh orang Sunda yang lebih akrab dengan warna hijau, dan jika muncul, warna biru biasanya memiliki makna simbolis seperti kesucian atau kebersihan. Pohon Garuga pinnata memiliki batang lurus, dapat tumbuh hingga 30 meter, dan bagian dalam kayunya berwarna kebiruan yang unik. Ada pula cerita alternatif yang menyebutkan bahwa dalam peta tahun 1811, ditemukan nama Cipiru, yang diduga berasal dari pohon piru atau hakur. Pohon piru masih dapat ditemukan di beberapa ruas jalan Cibiru hingga saat ini. Ada kemungkinan nama Cipiru kemudian berubah menjadi Cibiru melalui penyebutan lisan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Kedua versi asal nama ini sama-sama menunjukkan bahwa Cibiru berakar dari tradisi penamaan Sunda yang berdasarkan pada pohon dan sumber air.
Sejak abad ke-17, VOC sudah menaruh perhatian pada daerah Cibiru karena kesuburan tanahnya. Pada masa itu, wilayah sekitar Cibiru sudah memiliki kegiatan perkebunan kecil dan jalur pergerakan antarkampung. Perubahan besar terjadi pada tahun 1786 dengan dibangunnya jalur penghubung penting antara Batavia, Bogor, Cianjur, Bandung, Sumedang, dan Cirebon. Pada tahun 1809, Gubernur Jenderal Daendels membangun Jalan Raya Pos dari Anyer ke Panarukan, dan jalur ini dialihkan ke Bandung, termasuk melewati Cibiru. Sejak awal abad ke-19, Cibiru menjadi saksi lalu lintas orang, pedati, dan pasukan. Pada tahun 1850, Bandung ditunjuk sebagai pusat Residentie Priangan, yang membuat wilayah sekitarnya, termasuk Cibiru, semakin ramai. Pada tahun 1882, Cibiru ditetapkan sebagai salah satu dari empat onderdistrict di Distrik Ujungberung Wetan. Pembangunan jalur kereta api dari Batavia ke Bandung pada tahun 1880 semakin mempercepat hubungan dagang dan pertumbuhan kota. Memasuki abad ke-20, Bandung berubah menjadi kota modern, dan Cibiru merasakan dampak pembangunan tersebut sebagai jalur masuk dan keluar kota. Setelah era kemerdekaan, Desa Cibiru menjadi bagian dari Kecamatan Ujungberung. Pada tahun 1984, terjadi pemekaran yang menghasilkan Desa Cibiru Kulon dan Cibiru Wetan. Kemudian, pada tahun 1987 melalui PP Nomor 16, Cibiru resmi menjadi kecamatan di wilayah Kota Bandung, meliputi enam kelurahan: Pasir Biru, Cipadung, Palasari, Cisurupan, dan Kebon Kangkung. Salah satu babak penting dalam sejarah Cibiru adalah berdirinya Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Gunung Djati pada tahun 1968, yang pada awal 1970-an menetap di Jalan Cipadung (kini Jalan A.H. Nasution), di wilayah Cibiru. Kehadiran kampus ini mengubah wajah Cibiru menjadi pusat pendidikan tinggi Islam, yang menarik banyak mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
Sumber: https://www.ayobandung.id/ayo-jelajah/01168473/09122025/hikayat-cibiru-dari-kawasan-timur-pinggiran-kota-bandung-yang-jadi-pusat-keramaian
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |