|
|
|
|
|
|
Huma (ladang) Masyarakat Baduy Tanggal 23 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Huma atau ladang adalah tanah pertanian yang digunakan untuk menanam padi dan palawija. Setelah panen, huma dibiarkan tidak digarap hingga kembali menjadi hutan dan berhumus. Masyarakat Baduy secara konsisten menerapkan sistem pertanian ngahuma, yang merupakan warisan budaya masyarakat berpindah dan cara tertua menanam padi. Sistem ini melibatkan pengubahan hutan alam menjadi hutan garapan untuk memenuhi kebutuhan pangan.
Sesuai dengan struktur masyarakat Baduy yang terbagi menjadi Baduy Dalam dan Baduy Luar, huma juga dibedakan menjadi huma Baduy Dalam dan huma Baduy Luar.
Bagi masyarakat Baduy, proses penanaman padi di ladang melambangkan pernikahan antara Nyi Pohaci Sanghyang Asri (Dewi Sri) sebagai representasi perempuan dengan bumi (ladang) sebagai representasi laki-laki. Dualisme langit dan bumi ini bertujuan menciptakan harmoni melalui perjodohan laki-laki dan perempuan. Penghormatan terhadap Nyi Pohaci Sanghyang Asri, yang dianggap dewi kesuburan, adalah pusat dari berbagai upacara adat di Kanekes. Hal ini dilakukan untuk menjaga hubungan harmonis, dengan harapan hasil panen tetap baik dan mencukupi kebutuhan pangan. Muliakan padi juga bertujuan agar sukma (roh) mereka dapat kembali ke Kahyangan, tempat Nyi Pohaci berada.
Setiap orang tua di Desa Kanekes mengetahui tugas hidup mereka yang merupakan "pikukuh" atau aturan adat yang disampaikan secara turun temurun. Pikukuh ini berlaku baik bagi warga Baduy Dalam maupun Baduy Luar, termasuk dalam hal penghormatan terhadap padi dan Nyi Pohaci.
Pola ngahuma dianggap sebagai tahapan evolusi budaya manusia dari berburu dan meramu ke bercocok tanam. Model ini adalah cara tertua menanam padi dan merupakan warisan periode masyarakat berpindah. Bukti dominasi pertanian huma di Sunda lama dapat dilihat dari kamus Jonathan Rigg (1862) yang mencatat 150 varietas padi huma berbanding 45 varietas padi sawah. Perladangan huma umumnya dilakukan di kawasan berbukit, sesuai dengan topografi tengah dan selatan Jawa Barat.
Sumber: http://lib.itenas.ac.id/kti/wp-content/uploads/2012/10/Makna-Simbolik-Huma-di-Masyarakat-Baduy.pdf
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |