|
|
|
|
|
|
Payas Agung Tanggal 26 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Payas Agung adalah salah satu bentuk tata busana dan rias pengantin adat Bali yang paling istimewa dan penuh makna. "Payas" dalam budaya Bali merujuk pada tata cara berbusana, bukan sekadar rias wajah. Gaya ini dikenal sebagai simbol kemuliaan karena detail busana, perhiasan, dan tata riasnya menggambarkan kehormatan serta kedudukan yang luhur dalam adat Bali. Pada hari pernikahan, busana adat ini tampil dengan kemegahan warna emas, mahkota tinggi, serta tata rias yang tegas namun elegan, mencerminkan keanggunan perempuan dan kewibawaan laki-laki, seolah menggambarkan raja dan ratu dalam sebuah upacara suci. Beberapa daerah di Bali seperti Karangasem, Buleleng, Tabanan, dan Badung memiliki ciri khas masing-masing, meskipun pakem dasarnya tetap sama.
Payas Agung berbeda dengan payas madya dan payas nista. Payas madya dan payas nista dapat digunakan untuk acara sederhana yang tidak terlalu sakral dan tidak memerlukan tata cara khusus. Sementara itu, payas agung hanya dikenakan untuk prosesi adat yang sangat penting karena tingkat keistimewaan dan kelengkapan busananya, serta memiliki nilai filosofis, aturan pemakaian, dan sifat sakral yang membedakannya.
Pada zaman dahulu, payas agung hanya diperbolehkan untuk keluarga bangsawan dan orang-orang kerajaan di Bali, menjadi simbol status sosial, kemuliaan, serta kedudukan seseorang dalam masyarakat. Namun, kini semua kalangan masyarakat Bali sudah dapat mengenakannya dalam upacara adat, meskipun pemakaiannya tetap harus mengikuti aturan, pakem, dan tata cara yang berlaku untuk melestarikan budaya dan nilai luhur yang diwariskan leluhur.
Payas Agung bukan sekadar pakaian yang indah atau megah, tetapi merepresentasikan ajaran Hindu Dharma dan keyakinan masyarakat Bali kepada Sang Hyang Widhi. Unsur-unsurnya mencerminkan kepatuhan, ketenangan, kebahagiaan, dan keseimbangan hidup. Payas agung juga erat dengan konsep Tri Murti, tiga manifestasi Sang Hyang Widhi: Brahma (pencipta), Wisnu (pemelihara), dan Siwa (pelebur). Dasar konsep busana adat Bali mengikuti simbol Tapak Dara atau swastika yang terbagi menjadi Tri Angga:
Setiap elemen Payas Agung memiliki filosofi yang merefleksikan harapan dan doa agar kehidupan pernikahan dipenuhi kebahagiaan, keseimbangan, dan keberkahan. Proses pemakaian busana juga sering melibatkan ritual, doa, serta peran pandita, menandakan bahwa payas agung bukan sekadar busana, melainkan bagian dari perjalanan spiritual pengantin.
Sumber: https://negerikami.id/budaya/payas-agung-filosofi-dan-ciri-ciri-pakaian-pengantin-adat-bali
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |