|
|
|
|
|
Alkisah, seorang janda yang kesepian dan mendambakan anak, melihat tampuk pinang di belakang rumahnya dan berharap memiliki anak walaupun hanya sebesar tampuk pinang. Keinginannya terkabul, ia hamil tanpa suami, namun melahirkan seorang anak laki-laki yang benar-benar sebesar tampuk pinang. Anak itu diberi nama Si Tampok Pinang. Karena malu, sang janda mengusir Si Tampok Pinang dari rumah. Si Tampok Pinang berjalan tanpa tujuan hingga menemukan tenunan milik seorang Putri yang terjatuh dari mahligai. Putri itu telah berjanji bahwa siapa pun yang menemukan tenunan cindanya, jika gadis akan menjadi saudaranya, dan jika bujang akan menjadi suaminya. Putri terkejut melihat penemu tenunannya hanya sebesar tampok pinang, namun ketika Si Tampok Pinang diusap ke rambut Putri, ia berubah menjadi pangeran tampan. Keduanya pun saling jatuh cinta. Sebelum menikah, Si Tampok Pinang ingin meminta restu ibunya. Ia mengajak Putri menemui ibunya yang tidak percaya bahwa pangeran tampan itu adalah Si Tampok Pinang. Setelah dijelaskan oleh Putri, ibunya percaya dan bahagia, menyetujui pernikahan mereka. Sementara persiapan pernikahan dilakukan, Putri menunggu di mahligai dan ibunya mengundang tetangga untuk hajatan. Seorang gadis bernama Si Kenam, yang jelek rupa dan jahat hati, jatuh cinta pada Si Tampok Pinang dan berusaha menggagalkan pernikahan. Saat disuruh mengambil air, ia memecahkan ember. Ketika diberi kelingan (wadah dari kulit sapi) yang tak pecah kecuali digigit anjing, ia memanggil anjing untuk menggigitnya. Putri yang melihat kejadian itu dari mahligai tertawa, dan akibatnya, Si Kenam terkena cahaya Putri lalu mendadak menjadi cantik, sementara Putri justru berubah menjadi jelek rupa seperti Si Kenam. Si Kenam yang kini cantik pun menggantikan posisi Putri. Seiring waktu, orang-orang di sekitar merasa aneh dengan Si Kenam yang sekarang menjadi penurut dan baik hati (padahal itu adalah Putri asli). Saat hari pernikahan tiba, “Putri” Kenam diminta turun. Sebagai kebiasaan, putri yang akan menikah harus memanggil angin untuk menyeberangkan kapal ke dusun seberang. Ketika “Putri” Kenam memanggil angin, tercium bau busuk, sedangkan ketika Putri asli memanggil angin, tercium bau wangi. Setelah menikah, “Putri” Kenam tinggal bersama Si Tampok Pinang, sementara Putri asli menjaga padi dan menenun. Suatu ketika, Putri menyanyikan tembang: “Burong detang nak makan padi, Kalu berani idek takut mati, Pemilik sawah gagah berani, Si Tampok Pinang pemilik sejati.” Setelah tembang itu, Putri kembali ke rupa aslinya yang cantik jelita, dan pada saat yang sama, Si Kenam kembali menjadi jelek rupanya. Tembang Putri didengar oleh Si Tampok Pinang yang mengenali suara itu. Ia pun sadar bahwa yang dinikahinya adalah Si Kenam yang jahat. Si Kenam akhirnya diusir dari dusun akibat perbuatannya. Alkisah, Si Tampok Pinang hidup bahagia bersama putri cantik jelita selamanya.
Cerita ini mengandung pesan tentang pentingnya pemahaman diri, perubahan psikologis, dan membangun hubungan interpersonal yang didasari kesetiaan, saling menghargai, dan saling mendukung. Kisah ini juga menyentuh tema perjuangan dalam mencari identitas diri, mengatasi perasaan eksklusi, dan menerima diri sendiri.
Cerita rakyat ini berasal dari Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.
Sumber: https://irwanpratubangsawans.wordpress.com/2023/06/30/si-tampok-pinang-cinta-pengabdian-dan-keberanian-dalam-cerita-rakyat-banyuasin, https://irwanpratubangsawans.wordpress.com/2018/02/06/ande-ande-panjang-si-tampok-pinang-2
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |