|
|
|
|
|
SEJARAH SINGKAT
Songket Palembang memiliki akar sejarah yang panjang, berawal dari masa Kerajaan Sriwijaya. Menurut buku Seni Kriya Nusantara karya Deni Setiawan, songket sudah dikenal sejak masa kejayaan Sriwijaya pada abad ke-7 Masehi, ketika Palembang menjadi pusat perdagangan internasional di tepi Sungai Musi.
Banyak peninggalan budaya berupa wastra (kain tradisional) ditemukan. Salah satunya adalah kain songket yang menjadi bukti bahwa Kerajaan Sriwijaya sebagai penguasa jalur perdagangan di Selat Malaka.
Hubungan dagang dengan India, China, dan Arab membawa pengaruh besar terhadap teknik dan motif songket. Dari China datang benang sutra, dari India benang emas dan perak. Perpaduan inilah lahir kain songket Palembang yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Melayu-Sumatera.
Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, songket digunakan sebagai simbol kebesaran dan status sosial. Para bangsawan dan keluarga kerajaan mengenakannya dalam upacara resmi. Beberapa motif bahkan hanya boleh dipakai oleh kalangan istana. Namun, setelah Belanda menghapus Kesultanan Palembang Darussalam, aturan ketat itu mulai dilonggarkan. Songket pun dapat dikenakan oleh siapa saja sebagai warisan budaya Palembang.
MOTIF
Motif songket Palembang umumnya terinspirasi dari alam dan kehidupan sehari-hari, seperti bentuk tumbuhan, bunga, atau pola geometris. Berdasarkan buku Ensiklopedia Kain Tradisional Indonesia karya Dwi Pajar Ratriningsih, berikut beberapa jenis motif songket yang terkenal:
Songket Lepus: Merupakan jenis songket tertua di Palembang. Hampir seluruh permukaannya tertutup benang emas. Beberapa variasinya antara lain lepus berekam, lepus berantai, dan lepus penuh.
Songket Tabur: Motifnya tersebar dengan bentuk-bentuk kecil yang berulang. Contohnya tawur lintang, tawur nampan perak, dan tawur tampak magis.
Songket Tretes: Dihiasi motif di bagian tepi kain, sementara bagian tengah dibiarkan polos.
Songket Bunga: Menggunakan benang emas untuk membentuk bunga emas atau benang kapas putih untuk bunga pacik.
Songket Limar: Dicirikan dengan penggunaan benang berwarna-warni.
Songket Rumpak: Mirip dengan tretes, tetapi dasar kainnya sudah memiliki motif kotak-kotak. Umumnya dikenakan oleh pria dalam upacara pernikahan.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |