|
|
|
|
|
|
Susunan DOHO SARA (Duduk Rapat / Duduk Sidang / Duduk Musyawarah) Pemerintahan Kesultanan Bima. Tanggal 19 Aug 2026 oleh Aji_permana . Revisi 2 oleh Aji_permana pada 19 Aug 2026. |
Keterangan Posisi Duduk: 1 : Raja / Sultan. 2 : Ruma Sakuru / Ruma Parenta (Penasihat Sultan). 3 & 4 : “Majelis Tureli” (setara Eksekutif): yang terdiri dari Tureli Nggampo / Ruma Bicara (Perdana Menteri), beserta para Tureli (menteri) yang berjumlah 6 orang, dan Jeneli-Jeneli (pemimpin wilayah/distrik), yang di masa akhir kesultanan berjumlah 12 kejenelian. 5 & 6 : “Majelis Hadat” (setara Legislatif sekaligus Yudikatif) : yang terdiri dari Bumi Luma Rasana’e (Ketua Majelis Hadat) & Bumi Luma Bholo (Wakil Ketua Majelis Hadat) beserta anggota-anggotanya Bumi Luma (Sara Tua / setara Yudikatif) dan Bumi Na’e (setara Legislatif / wakil rakyat dari tiap-tiap wilayah/distrik). Di bawah Bumi Luma terdapat Bumi Na'e yang berjumlah 12 orang dan tersebar di seluruh kejelian (wilayah/distrik/kecamatan sekarang). 7 : “Majelis Sariyyah / Majelis Agama Islam” : yang dipimpin oleh seorang Qodhi (Imam), para Mufti (ahli hukum islam) dan para Lebe (sebutan untuk cendekiawan dan intelektual islam). 8 : Bumi Parisi (Juru Tulis)
Doho Sara pada Majelis Paruga Subha biasanya dilakukan untuk membahas mengenai hal-hal penting, mendasar dan mendesak seperti: perkembangan nagari, agama, keamanan, kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, dengan merencanakan hal-hal yang akan dilakukan kesultanan untuk pembangunan Dou Labo Dana Mbojo (Orang dan Tanah Bima) ke depannya.
Doho Sara (Duduk Pemerintahan; dipadankan artinya sebagai kegiatan musyawarah/rapat/sidang pemerintahan). Posisi Doho Sara bisa berbeda-beda di setiap jenis dan tingkatkan Majelis. Di gambar, hanya menampilkan posisi Doho Sara pada Majelis Paruga Suba (Majelis Kesultanan Tertinggi).
Dulunya, dalam rapat kenegaraan kerajaan, Raja Bima ditempatkan di sisi Barat dan menghadap ke Timur sebagai lambang kepemimpinan yang senantiasa menatap sumber cahaya. Timur adalah arah terbitnya matahari, tempat datangnya terang yang melambangkan kebijaksanaan, harapan, dan kebenaran. Dengan menghadap ke Timur, raja dimaknai sebagai pemimpin yang menerima cahaya petunjuk untuk kemudian menerangi negeri dan rakyatnya melalui keputusan yang adil dan bijaksana. Posisi ini juga menggambarkan bahwa seorang raja tidak hanya memerintah, tetapi menjadi pusat keseimbangan yang menata arah perjalanan kerajaan menuju masa depan yang terang.
Filosofi lain dikaitkan dengan pengaruh Islam, dikatakan bahwa penempatan raja di sisi Barat dapat dimaknai sebagai simbol arah kiblat, arah yang menjadi pusat rujukan bagi umat sebagai tanda kesatuan arah, sehingga para pembesar kerajaan pun memusatkan pandangan kepada raja sebagai pusat/poros musyawarah dan penentu kebijakan negeri. Dengan demikian, posisi itu melambangkan bahwa seluruh urusan kerajaan berpulang pada satu arah yang menata keteraturan dan kesatuan pemerintahan.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |