|
|
|
|
|
|
Tari Campak Tanggal 01 Aug 2026 oleh Kyas1 . |
Tari Campak diperkirakan dibawa ke Belitung dari Kepulauan Riau pada abad ke-18 Masehi melalui Pulau Seliu. Tarian ini disebarkan oleh seorang penari bernama Nek Campak, dan nama "Campak" kemungkinan berasal darinya. Tarian ini dulunya biasa dipentaskan saat musim panen padi dan ketika pulang dari ume (berkebun), kemudian berkembang menjadi hiburan dalam berbagai acara seperti pentas budaya, pesta rakyat, penyambutan tamu, dan pernikahan.
Tarian ini menggambarkan ekspresi keceriaan bujang dan dayang dengan gerakan yang gemulai serta lincah. Tari Campak merupakan tarian pantun bersambut yang didendangkan oleh sepasang bujang dan dayang. Para penari menggunakan selembar sapu tangan yang dikibas-kibaskan mengiringi jari jemari penari. Kekentalan budaya Melayu terlihat dari bagian saling berbalas pantun dalam bentuk dendang di sela-sela tariannya. Dalam beberapa kesempatan, penari Campak juga mengajak penonton untuk membalas pantun dan menari bersama. Penandak maupun penonton Tari Campak akan memberikan sejumlah uang kepada Nduk Campak jika mereka kalah dalam berbalas pantun.
Akulturasi budaya Melayu dengan Portugis terlihat pada kostum penari. Penari perempuan mengenakan gaun panjang, topi, atau sepatu hak tinggi. Sedangkan penari laki-laki mengenakan kemeja, celana panjang, peci, dan selendang yang menunjukkan budaya khas Melayu. Penari juga menggunakan selembar sapu tangan yang dikibas-kibaskan.
Musik khas Melayu yang mengiringi tarian terdiri dari piyul (biola), gong, gendang, dan keyboard atau akordion. Akordion dan biola merupakan pengaruh Eropa (Portugis), sementara gong dan gendang adalah budaya lokal asli khas Melayu.
Tarian ini dipenuhi ekspresi kegembiraan penari. Pertunjukan Tari Campak yang interaktif biasanya membawa penari, pemusik, dan penonton ke dalam suasana meriah. Di Belitung, Tari Campak terbagi menjadi dua: Campak Darat yang dijadikan tarian pergaulan, dan Campak Laut yang merupakan tari gembira dengan nyanyian dan dilakukan berpasangan, seringkali hingga larut malam dan dijadikan ajang mencari pasangan.
Sesuai makna yang terkandung dalam tarian ini, penari campak terdiri dari beberapa pasang laki-laki dan perempuan. Penari laki-laki disebut dengan penandak dan penari perempuan disebut dengan nduk campak.
Sumber: https://traverse.id/culture/tari-campak-ekspresi-keceriaan-bujang-dayang-bangka-belitung/@himsaifanah
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |