|
|
|
|
|
Arti harafiah dari wayang adalah bayangan, namun pengertiannya bergeser menjadi seni pertunjukan panggung seiring waktu. Hal ini karena wayang tidak hanya dipertunjukkan dalam bentuk bayangan, tetapi juga visualisasi lain seperti Wayang Golek, Wayang Cepak, Wayang Beber, dan Wayang Wong. Asal-usul pertunjukan wayang masih simpang siur, dengan beberapa pakar berpendapat berasal dari India Barat atau merupakan seni pertunjukan asli Jawa, atau akulturasi kebudayaan Jawa dan Hindu-India. Pertunjukan wayang digemari masyarakat Indonesia dan menyebar tidak hanya di Jawa, tetapi juga Bali, Nusa Tenggara, Sumatera, dan Kalimantan. Di Kalimantan Selatan, wayang kulit mulai dikenal sekitar awal abad ke-14, dibawa oleh Majapahit melalui seorang dalang bernama R. Sakar Sungsang. Awalnya, pergelaran wayang ini sulit dinikmati masyarakat Banjar karena menggunakan repertoar dan idiom Jawa. Kemudian, saat kerajaan Islam mulai berdiri, wayang kulit diadaptasi dengan muatan lokal yang dipelopori oleh Datuk Toya, dan penyesuaian ini terus berlangsung hingga awal abad ke-16, perlahan berubah sesuai citra rasa dan estetika masyarakat setempat.
Bahan yang digunakan untuk membuat wayang kulit di Jawa adalah kulit atau belulang kerbau, terutama kerbau kudisan. Namun, di Kalimantan Selatan, karena kerbau kurang dibudidayakan, bahan utama untuk wayang kulit Banjar umumnya adalah kulit sapi, dan kadang-kadang kulit kambing.
Publikasi ini berjudul "ALBUM BANJAR SHADOW PUPPET" yang diterbitkan oleh Ministry of Culture and Tourism.
Kulit wayang dibentuk, ditatah, dan diberi warna sesuai karakter. Agar dapat berdiri dan dimainkan, wayang dilengkapi penjepit (gapit) dari kayu ulin. Tangan wayang dilengkapi tudung agar bisa bergerak sesuai kehendak dalang. Wayang Kulit Banjar memiliki bentuk atau postur yang lebih kecil dibandingkan wayang kulit Jawa, dengan penatahan (ornamen) dan pengecatan yang lebih sederhana. Hal ini karena dalam pergelaran wayang kulit Banjar, yang diutamakan adalah bayangannya yang terlihat dari belakang layar, sehingga ornamen, detail, dan warna wayang kurang terlihat oleh penonton.
Nenek moyang bangsa Indonesia menganut kepercayaan politeisme dan sering melakukan upacara pemujaan dengan wayang sebagai medianya untuk menghormati benda berkekuatan spiritual. Upacara ini biasanya dilakukan pada malam hari, karena diyakini roh leluhur muncul di waktu malam. Sejak wayang kulit masuk Kalimantan Selatan, pergelaran Wayang Kulit Banjar selalu dilaksanakan pada malam hari. Pertunjukan ini biasa diadakan pada berbagai kesempatan seperti khitanan, upacara peresmian, perkawinan, hari-hari besar nasional, atau untuk memenuhi nazar/kaul seseorang. Tempat pertunjukan bisa di mana saja, seperti tanah lapang, alun-alun, atau pendopo yang dapat menampung penonton. Penonton dapat duduk, berjongkok, berdiri, atau lesehan. Posisi tontonan biasanya lebih tinggi dari penonton, atau dibuat panggung khusus untuk awak pentas, lengkap dengan layar dan alat penerangan (blencong). Di sisi kiri dan kanan dalang dipasang wayang berjejer, sementara penabuh gamelan duduk di belakang dalang menghadap alat musiknya.
Cerita Wayang Kulit Banjar bersumber dari dua kitab kuno kebudayaan Hindu, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Dalang-dalang Wayang Kulit Banjar juga sering menampilkan cerita karangan sendiri yang disebut lakon "Carang". Lakon-lakon Carang ini justru yang paling banyak ditampilkan, karena dalang merasa lebih bangga menampilkan gubahan sendiri daripada cerita-cerita pakem yang sudah umum. Di Kalimantan Selatan juga berkembang pertunjukan "Wayang Sampir", yaitu upacara ritual yang dipimpin dalang untuk mengusir roh-roh jahat. Pertunjukan ini biasanya diselenggarakan dalam bentuk pergelaran padat dengan durasi satu sampai dua jam, kemudian dilanjutkan dengan pagelaran biasa.
Sumber: https://id.wikisource.org/wiki/Halaman:Album_wayang_kulit_banjar.pdf/7, https://id.wikisource.org/wiki/Halaman:Album_wayang_kulit_banjar.pdf/2, https://id.wikisource.org/wiki/Halaman:Album_wayang_kulit_banjar.pdf/8
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |