×

Akun anda bermasalah?
Klik tombol dibawah
Atau
×

DATA


Kategori

Seni Pertunjukan

Elemen Budaya

Seni Pertunjukan

Provinsi

Kalimantan Selatan

Wayang Kulit Banjar

Tanggal 02 Aug 2026 oleh Kyas1 . Revisi 3 oleh Kyas1 pada 02 Aug 2026.

Kesejajaran Arti

Arti harafiah dari wayang adalah bayangan, namun pengertiannya bergeser menjadi seni pertunjukan panggung seiring waktu. Hal ini karena wayang tidak hanya dipertunjukkan dalam bentuk bayangan, tetapi juga visualisasi lain seperti Wayang Golek, Wayang Cepak, Wayang Beber, dan Wayang Wong. Asal-usul pertunjukan wayang masih simpang siur, dengan beberapa pakar berpendapat berasal dari India Barat atau merupakan seni pertunjukan asli Jawa, atau akulturasi kebudayaan Jawa dan Hindu-India. Pertunjukan wayang digemari masyarakat Indonesia dan menyebar tidak hanya di Jawa, tetapi juga Bali, Nusa Tenggara, Sumatera, dan Kalimantan. Di Kalimantan Selatan, wayang kulit mulai dikenal sekitar awal abad ke-14, dibawa oleh Majapahit melalui seorang dalang bernama R. Sakar Sungsang. Awalnya, pergelaran wayang ini sulit dinikmati masyarakat Banjar karena menggunakan repertoar dan idiom Jawa. Kemudian, saat kerajaan Islam mulai berdiri, wayang kulit diadaptasi dengan muatan lokal yang dipelopori oleh Datuk Toya, dan penyesuaian ini terus berlangsung hingga awal abad ke-16, perlahan berubah sesuai citra rasa dan estetika masyarakat setempat.

Bahan dan Bagian Wayang

Bahan yang digunakan untuk membuat wayang kulit di Jawa adalah kulit atau belulang kerbau, terutama kerbau kudisan. Namun, di Kalimantan Selatan, karena kerbau kurang dibudidayakan, bahan utama untuk wayang kulit Banjar umumnya adalah kulit sapi, dan kadang-kadang kulit kambing.

Judul Publikasi

Publikasi ini berjudul "ALBUM BANJAR SHADOW PUPPET" yang diterbitkan oleh Ministry of Culture and Tourism.

  • Mujiyat, S.Sn.
  • Koko Sondari, S.Sn

Deskripsi

Kulit wayang dibentuk, ditatah, dan diberi warna sesuai karakter. Agar dapat berdiri dan dimainkan, wayang dilengkapi penjepit (gapit) dari kayu ulin. Tangan wayang dilengkapi tudung agar bisa bergerak sesuai kehendak dalang. Wayang Kulit Banjar memiliki bentuk atau postur yang lebih kecil dibandingkan wayang kulit Jawa, dengan penatahan (ornamen) dan pengecatan yang lebih sederhana. Hal ini karena dalam pergelaran wayang kulit Banjar, yang diutamakan adalah bayangannya yang terlihat dari belakang layar, sehingga ornamen, detail, dan warna wayang kurang terlihat oleh penonton.

Waktu dan Tempat Pertunjukan

Nenek moyang bangsa Indonesia menganut kepercayaan politeisme dan sering melakukan upacara pemujaan dengan wayang sebagai medianya untuk menghormati benda berkekuatan spiritual. Upacara ini biasanya dilakukan pada malam hari, karena diyakini roh leluhur muncul di waktu malam. Sejak wayang kulit masuk Kalimantan Selatan, pergelaran Wayang Kulit Banjar selalu dilaksanakan pada malam hari. Pertunjukan ini biasa diadakan pada berbagai kesempatan seperti khitanan, upacara peresmian, perkawinan, hari-hari besar nasional, atau untuk memenuhi nazar/kaul seseorang. Tempat pertunjukan bisa di mana saja, seperti tanah lapang, alun-alun, atau pendopo yang dapat menampung penonton. Penonton dapat duduk, berjongkok, berdiri, atau lesehan. Posisi tontonan biasanya lebih tinggi dari penonton, atau dibuat panggung khusus untuk awak pentas, lengkap dengan layar dan alat penerangan (blencong). Di sisi kiri dan kanan dalang dipasang wayang berjejer, sementara penabuh gamelan duduk di belakang dalang menghadap alat musiknya.

Cerita atau Lakon

Cerita Wayang Kulit Banjar bersumber dari dua kitab kuno kebudayaan Hindu, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Dalang-dalang Wayang Kulit Banjar juga sering menampilkan cerita karangan sendiri yang disebut lakon "Carang". Lakon-lakon Carang ini justru yang paling banyak ditampilkan, karena dalang merasa lebih bangga menampilkan gubahan sendiri daripada cerita-cerita pakem yang sudah umum. Di Kalimantan Selatan juga berkembang pertunjukan "Wayang Sampir", yaitu upacara ritual yang dipimpin dalang untuk mengusir roh-roh jahat. Pertunjukan ini biasanya diselenggarakan dalam bentuk pergelaran padat dengan durasi satu sampai dua jam, kemudian dilanjutkan dengan pagelaran biasa.

Sumber: https://id.wikisource.org/wiki/Halaman:Album_wayang_kulit_banjar.pdf/7, https://id.wikisource.org/wiki/Halaman:Album_wayang_kulit_banjar.pdf/2, https://id.wikisource.org/wiki/Halaman:Album_wayang_kulit_banjar.pdf/8

Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.

DISKUSI


TERBARU


Masjid Rambitan

Oleh Kyas1 | 02 Aug 2026.
Produk Arsitektur

Deskripsi Masjid Rambitan merupakan salah satu masjid kuno Sasak yang diperkirakan berdiri pada akhir abad ke-16. Bangunan ini memiliki bentuk dasar...

Museum Samawa I...

Oleh Kyas1 | 02 Aug 2026.
Produk Arsitektur

Deskripsi Museum Samawa atau yang dikenal sebagai Istana Tua (Dalam Loka' Dea Mraja) adalah peninggalan Kerajaan Sumbawa. Bangunannya terbuat da...

Masjid Cheng Ho...

Oleh Kyas1 | 02 Aug 2026.
Produk Arsitektur

Deskripsi Masjid Cheng Ho Palembang berlokasi di Perumahan Amin Mulia, Jakabaring, Palembang, Sumatra Selatan. Bangunan utamanya didominasi warna pi...

Masjid Jami Ben...

Oleh Kyas1 | 02 Aug 2026.
Produk Arsitektur

Deskripsi Masjid Jami Bengkulu pertama kali dibangun diperkirakan pada abad ke-18 dengan bentuk yang sangat sederhana. Bangunan masjid yang ada seka...

Mesjid Tuanku P...

Oleh Kyas1 | 02 Aug 2026.
Produk Arsitektur

Deskripsi Mesjid Tuanku Pamansiangan Koto Laweh adalah salah satu masjid cagar budaya yang memiliki arsitektur khas Minangkabau. Dahulu, masjid ini...

FITUR


Gambus

Oleh agus deden | 21 Jun 2012.
Alat Musik

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua...

Hukum Adat Suku...

Oleh Riduwan Philly | 23 Jan 2015.
Aturan Adat

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal...

Fuu

Oleh Sobat Budaya | 25 Jun 2014.
Alat Musik

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud...

Ukiran Singa Ba...

Oleh hokky saavedra | 09 Apr 2012.
Ornamen Arsitektural

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai...