|
|
|
|
|
|
Masjid Rambitan Tanggal 02 Aug 2026 oleh Kyas1 . |
Masjid Rambitan merupakan salah satu masjid kuno Sasak yang diperkirakan berdiri pada akhir abad ke-16. Bangunan ini memiliki bentuk dasar yang sama dengan masjid-masjid tua lainnya di Lombok, namun dengan beberapa bagian yang relatif lebih partikular dan utuh. Masjid ini masih digunakan secara aktif untuk salat lima waktu, berbeda dengan beberapa masjid kuno lain yang hanya dipakai untuk ritual keagamaan saat bulan Mulud.
Masjid Rambitan berukuran 7,80 M x 7,60 M, seukuran surau pada umumnya, dan hanya memiliki bangunan inti tanpa beranda. Di luar bangunan utama, terdapat sebuah sumur yang disebut kolam. Bagian dalam masjid memiliki lantai tanah dan mihrab serta pengimaman yang menyesuaikan ukuran bangunan.
Seluruh unsur bangunan masjid ini dominan terbuat dari ilalang yang diikat menggunakan tali ijuk, sejenis akar gantung yang sangat tahan lama. Dinding masjid terbuat dari pagar bambu.
Masjid Rambitan diyakini dulunya adalah masjid milik Wali Nyatok untuk beribadah, olah ruhani (khalwat), dan tempat mendaras ajaran Islam. Hingga kini, masjid ini tetap digunakan oleh masyarakat sekitar untuk melaksanakan salat lima waktu guna merawat kesinambungan posisi, fungsi, dan maknanya dengan masa lalu. Ornamen burung perkutut pada puncaknya melambangkan pencapaian ruhani dan dikaitkan dengan makna 'penghabisan' dalam pengucapan Sasak.
Ciri khas yang menonjol adalah ornamen burung kayu berukuran sangat kecil pada puncak atap tumpangnya. Burung ini, yang disebut perkutut oleh pengurus masjid, memiliki makna spiritual dalam tasawuf Islam sebagai amsal pencapaian ruhani, dan dalam konteks Nusantara merujuk pada capaian ruhani para pendirinya. Keberadaan ornamen ini juga menghubungkan masjid dengan tokoh tertentu dalam sejarah Islam tradisional Lombok.
Masjid ini terletak di desa Rambitan, kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 10 kilometer dari Bandar Internasional Lombok. Posisinya berdekatan dengan desa wisata Sade dan pantai Kuta Lombok, berdiri di kaki perbukitan dan dikelilingi oleh rumah-rumah penduduk. Masjid ini secara genetik berjejaring dengan Islam di Jawa dan kawasan lainnya di Nusantara.
Sumber: https://alif.id/read/hasan-basri-marwah/masjid-tua-rambitan-membaca-islam-tradisional-lombok-b211268p
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |