|
|
|
|
|
|
Golok Kala Petok Tanggal 26 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Golok Kala Petok adalah seni tradisi yang berkembang di Kota Sukabumi, erat kaitannya dengan Pencak Silat Sang Maung Bodas dan Pesantren Dzikir Al-Fath. Ia merupakan bentuk kontemporer yang menyatukan bela diri, seni pertunjukan, dan praktik spiritual berupa dzikir dengan landasan filosofis Sunda-Islam. Golok dalam konteks ini tidak hanya berfungsi sebagai alat pertahanan fisik, tetapi juga menjadi medium untuk menyampaikan pesan tentang pengendalian diri dan penyucian batin.
Gerakan utama dalam Seni Golok Kala Petok adalah menarik golok dari bawah ke atas sambil melafalkan kalimat tauhid Lā ilāha illallāh, yang dimaknai sebagai upaya penyucian diri dan pembukaan kesadaran spiritual. Gerakan lain juga memiliki makna simbolis:
Pertarungan yang diperlihatkan dalam Seni Golok Kala Petok bukan sekadar pertarungan melawan lawan, melainkan simbol pertarungan manusia melawan keburukan dalam dirinya sendiri. Golok Kala Petok membawa pesan mengenai ketepatan dalam bertindak dan keberanian untuk menentukan sikap pada momentum yang tepat. Golok ini tidak ditempatkan sebagai simbol kekerasan, melainkan pengingat mengenai pengendalian diri, ketepatan bertindak, keberanian, serta kedekatan manusia kepada Sang Pencipta.
Seni Golok Kala Petok berkaitan dengan kedatangan Raden Soemawinata, keturunan Pangeran Sogiri dari Kesultanan Banten, di daerah Cikembang, Kabupaten Sukabumi, sekitar tahun 1930. Warisan ini kemudian diteruskan oleh putranya, Raden H. Adang Sabini, sekitar tahun 1960, hingga sampai kepada KH. M. Fajar Laksana yang mengembangkan seni ini di lingkungan Pencak Silat Sang Maung Bodas dan Pesantren Dzikir Al-Fath.
Golok Kala Petok telah memperoleh pengakuan hukum melalui Hak Cipta Nomor 000329868/2022. Pada tahun 2026, Golok Kala Petok telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Jawa Barat dan diusulkan untuk masuk dalam daftar WBTb Indonesia. Pengakuan ini bertujuan agar tradisi terus dipelajari, dipraktikkan, diteliti, dan diwariskan kepada generasi berikutnya, sekaligus menjaga makna di balik setiap gerakannya.
Sumber: https://www.sukabumiupdate.com/food-travel/178740/menelusuri-jejak-sejarah-golok-kala-petok-warisan-raden-soemawinata-yang-tumbuh-di-sukabumi
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |