|
|
|
|
|
|
Kain Pesujudan Tanggal 20 Sep 2026 oleh Kyas1 . |
Kain pesujudan adalah kain tradisional yang berasal dari Bayan, Lombok Utara. Kain ini memiliki panjang sekitar 163 sentimeter dengan lebar 40 sentimeter. Secara visual, kain ini didominasi oleh motif figur manusia dan gambar yang menyerupai masjid atau pintu. Motif manusia pada kain pesujudan menggambarkan berbagai posisi dalam pelaksanaan salat, seperti berdiri, rukuk, dan sujud. Selain figur manusia, terdapat pula motif perahu yang melambangkan perjalanan penyebar Islam ke Lombok. Bentuk ketupat pada perahu ditafsirkan sebagai bekal dalam perjalanan. Kain yang semula berwarna putih ini telah berubah menjadi kecokelatan karena faktor usia.
Kain pesujudan dibuat secara khusus dan tidak diproduksi secara massal. Proses pembuatannya secara tradisional menggunakan benang kapas yang dipintal sendiri serta pewarna alami.
Pada awalnya, kain pesujudan digunakan sebagai alas untuk menjalankan ibadah. Seiring perkembangan Islam dan masyarakat adat, penggunaannya kemudian berkaitan dengan penghulu sebagai simbol status dan identitas tokoh adat maupun keagamaan. Di Bayan, penggunaan kain pesujudan oleh penghulu masih bertahan. Kain ini juga memiliki fungsi dalam sejumlah tradisi masyarakat, seperti digunakan oleh mempelai laki-laki saat akad nikah sebagai simbol kesucian di Bayan. Di Sembalun, kain ini pernah digunakan untuk membungkus kitab ketika seorang tokoh agama menyampaikan pengajaran. Keberadaan motif perahu dengan bentuk ketupat juga memiliki makna terkait perjalanan para penyebar Islam dan bekal dalam perjalanan.
Kain pesujudan ini berasal dari Bayan, Lombok Utara, dan diperkirakan dibuat antara tahun 1875 hingga 1925. Kain yang berusia lebih dari satu abad ini awalnya dikoleksi oleh Michael Abbott dari Australia sebelum akhirnya dihibahkan kepada Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB). Hibah ini meningkatkan koleksi kain pesujudan di Museum NTB menjadi 13 lembar.
Untuk perawatan kain pesujudan yang telah berubah warna menjadi kecokelatan karena usia, Museum NTB akan menjaga sirkulasi udara, menghindarkan kain dari paparan sinar matahari langsung, serta menggunakan perlindungan terhadap serangga.
Sumber: https://rri.co.id/mataram/budaya/2734214/dari-australia-ke-lombok-kain-pesujudan-berusia-seabad-jadi-koleksi-museum-ntb
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |