|
|
|
|
|
|
Keraton Surakarta Hadiningrat Tanggal 28 Jul 2026 oleh Kyas1 . |
Keraton Surakarta merupakan salah satu daya tarik utama Kota Surakarta yang dikenal sebagai tempat bersejarah. Keraton ini berfungsi tidak hanya sebagai pusat pemerintahan di masa lalu, tetapi juga sebagai cagar budaya dan destinasi wisata yang menawarkan wawasan tentang sejarah Surakarta.
Sejarah Keraton Surakarta cukup panjang. Bangunan keraton diresmikan pada tahun 1745 dan menjadi pusat pemerintahan selama ratusan tahun. Awalnya, pusat pemerintahan Kasunanan berada di Keraton Kartasura hingga tahun 1743, ketika pemberontakan Geger Pecinan menyebabkan kerusakan parah. Sunan Pakubuwono II kemudian memindahkan pemerintahan ke Desa Sala, di pinggir Bengawan Solo. Proses pembangunan Keraton Surakarta dibantu oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I (Pangeran Mangkubumi). Pada tahun 1744, bangunan selesai dan dinamai Keraton Surakarta Hadiningrat. Desa Sala pun diubah namanya menjadi Surakarta Hadiningrat, dengan 'sura' berarti keberanian dan 'karta' berarti makmur, melambangkan harapan akan keberanian dan kemakmuran. Setelah Perjanjian Giyanti, Keraton Surakarta diresmikan sebagai istana resmi Kesunanan Surakarta.
Arsitektur Keraton Surakarta unik, sering disamakan dengan Keraton Yogyakarta karena arsiteknya sama, Pangeran Mangkubumi. Keraton ini menampilkan gaya campuran antara Jawa dan Eropa, didominasi warna putih dan biru. Di dalamnya terdapat beberapa kompleks bangunan dan ruangan, meskipun tidak semuanya dapat diakses wisatawan. Bentuk dan gaya arsitektur bangunan yang khas ini menjadi daya tarik utama bagi pengunjung.
Terletak di Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57144. Dapat dijangkau dengan kendaraan pribadi atau umum. Dari Stasiun Balapan Solo, jaraknya sekitar 3,8 km dengan waktu tempuh sekitar 30-45 menit. Untuk pengguna kendaraan umum, bisa naik bus Batik Solo Trans (BST) dan turun di Gerbang Kamandungan, lalu berjalan kaki sekitar 10 menit.
Jam buka: Senin-Kamis pukul 09.00-14.00, Sabtu-Minggu pukul 09.00-15.00. Tutup pada hari Jumat. Harga tiket masuk: Rp10.000 untuk wisatawan lokal, Rp15.000 untuk wisatawan asing, dan Rp8.000 per orang untuk rombongan. Ada biaya tambahan Rp3.500 jika membawa kamera.
Sumber: https://www.orami.co.id/magazine/keraton-surakarta
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |