|
|
|
|
|
|
Kisah Perjalanan Ana Latua Rua Tanggal 28 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Kisah ini bermula pada tahun 1283 Masehi di Desa Rumbati, yang kini masuk wilayah Kecamatan Furwangi, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat. Keluarga kerajaan yang dipimpin Raja Patiran menghadapi masalah karena berkonflik dengan seorang kapitang bernama Hua Meseng. Raja Patiran menolak keras pinangan Hua Meseng yang bengis dan jahat kepada anak perempuannya, Poimasa. Poimasa, anak perempuan dari sepuluh bersaudara, juga menolak pinangan tersebut. Raja Patiran adalah sosok yang tegas dalam mendidik anak-anaknya dengan kebaikan dan prinsip kasih sayang, membuat mereka menjadi keluarga yang kuat. Pada saat konflik dengan Hua Meseng memuncak, lima putra Raja Patiran—Nunu Mahu, Tablele, Haris Hamza, Musa Harimullah (bergelar Kapitan Kawal), dan Mananeuna—sudah lebih dulu merantau dan dikenal sebagai orang-orang perkasa serta sakti yang mendiami Nusa Iha (Pulau Saparua). Raja Patiran saat itu hanya tinggal bersama empat anaknya: Hahosan, Maspait, Merah Lau, dan Poimasa. Konflik yang dipicu oleh pinangan Hua Meseng akhirnya mendorong keempat anak Raja Patiran ini untuk meninggalkan tanah Rumbati. Tujuan mereka adalah menghindari konflik dan mencari kelima saudara mereka yang berada di Nusa Iha. Sebagai orang-orang sakti pada zaman mereka, perjalanan mencari saudara yang terpisah jauh di pulau-pulau tidaklah menjadi masalah. Saat fajar menyingsing di Rumbati, Hahosan (juga dikenal sebagai Abuasa), Maspait (alias Aliwanta), Merah Lau, dan Poimasa (alias Nyai Intan) segera meninggalkan kerajaan. Mereka terdiri dari tiga laki-laki perkasa dan satu srikandi, yang diuji oleh berbagai tantangan dan rintangan demi menjaga harga diri keluarga, meskipun harus meninggalkan kampung halaman dan kedua orang tua. Raja Patiran hanya bisa pasrah menerima keputusan mereka untuk berlayar. Konon, kesaktian para datuk-datuk ini tak diragukan, apa yang diinginkan bisa terwujud dengan ungkapan ‘kun faya kun’ (jadi maka jadilah). Abuasa, sebagai anak tertua, turun ke pantai dan menggambar perahu (poli-poli) di atas pasir. Ketika air pasang, gambar poli-poli itu secara ajaib menjadi nyata dan mengapung di atas air laut. Peristiwa ini diceritakan dalam kapata dengan bahasa tanah: “Turu lau haito aru laino nepayuna poli-poli, Hi inu sengge yara laa malu-malu, Sooto sa’a tana poli-poli, Poli – poli se emanu laa oo. Timi hatu waiye loto yoni nepapua. Latu taha muli umarole sawa waelo mara bone oo.”
Sumber: https://beritabeta.com/p/hikayat-ana-latua-rua-heroisme-empat-anak-raja-patiran-dari-tanah-rumbati
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
<g Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiri... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |