|
|
|
|
|
|
Legenda Sumala Tanggal 27 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Kisah horor ini berlatar Kabupaten Semarang, di mana Sumala adalah sosok hantu yang meneror anak-anak dan seorang gadis bernama Kumala. Ceritanya berpusat pada ritual untuk mendapatkan keturunan, kekerasan dalam keluarga, dan pembalasan dendam yang menyelimuti sebuah desa terpencil. Desa ini disebut Desa Sumala dalam penuturan cerita, meskipun bukan nama desa sebenarnya.
Pada tahun 1948, di sebuah desa yang tenang, hiduplah keluarga kaya Soedjiman dan Sulastri. Mereka memiliki segalanya kecuali seorang anak. Setelah bertahun-tahun, Sulastri yang putus asa mencari bantuan dukun dan melakukan ritual agar bisa hamil. Ritual itu berhasil, dan Sulastri melahirkan anak kembar. Namun, kebahagiaan mereka berubah menjadi ketakutan saat salah satu bayi lahir menyerupai gumpalan daging yang bergerak dan menangis, sementara kembarannya yang normal tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Dalam kepanikan, Soedjiman membunuh bayi yang aneh itu. Ironisnya, saat bayi itu meninggal, kembarannya yang terlihat normal mulai menangis dan hidup. Bayi yang selamat diberi nama Kumala, tetapi ia tumbuh dengan keterbelakangan mental. Soedjiman menyalahkan Sulastri, dan kehidupan keluarga mereka berubah menjadi penuh kemarahan dan kebencian. Kumala sering mengalami perlakuan kasar dan siksaan dari orang tuanya. Satu-satunya penghiburnya adalah piano tua peninggalan kakeknya dan Mbok Sum, pembantu yang bersimpati padanya. Ketika Kumala berusia 8 tahun, ia menunjukkan perilaku aneh. Di siang hari ia seperti anak biasa, namun di malam hari ia menjadi pemberani, bahkan pernah hampir menyerang Soedjiman. Suatu malam, Mbok Sum menemukan Kumala makan ayam hidup-hidup di kandang. Saat ditanya, Kumala menjawab bahwa bukan dia yang melakukannya, melainkan "Sumala". Kumala adalah anak kembar yang selamat, dan Sumala adalah sosok yang disebutnya saat melakukan tindakan aneh. Hubungan mereka menjadi misteri: Kumala menderita kekerasan, sementara "Sumala" muncul untuk membalas dendam. Seiring waktu, Kumala sering berbicara dengan suara lain, menyebut dirinya “Sumala”. Ketika Kumala berusia 9 tahun, anak-anak yang pernah membullynya ditemukan tewas mengenaskan. Warga menduga Kumala, yang dihantui arwah “Sumala,” adalah pelakunya. Teror berlanjut, dan suatu malam, Soedjiman dan Sulastri ditemukan tewas di rumah mereka, sementara Kumala menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, legenda Sumala menguat. Sosoknya digambarkan sebagai anak perempuan berambut panjang dengan tatapan kosong, sering terlihat di malam hari, mengincar anak-anak yang bermain di luar. Kisah ini berakhir dengan menghilangnya Kumala dan teror yang membayangi warga desa, sehingga larangan keluar malam diberlakukan untuk melindungi anak-anak.
Legenda ini berasal dari Kabupaten Semarang. Nama desa “Sumala” dalam cerita bukanlah petunjuk nama desa atau alamat yang bisa dikunjungi, melainkan hanya sebagai latar cerita.
Kisah ini telah diadaptasi ke dalam bentuk karya di Karyakarsa oleh penulisnya dan sedang dalam masa produksi untuk versi film layar lebarnya oleh HitMaker Studios.
Sumber: https://warakngendog.com/urban-legend/sumala-urban-legend-semarang
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
|
|
|
legenda babi ngepet Diskusi oleh Admniwkw819 . 27 Oct 2026, 22:14:41. |
|
|
|
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
<g Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiri... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |