×

Akun anda bermasalah?
Klik tombol dibawah
Atau
×

DATA


Kategori

Cerita Rakyat

Elemen Budaya

Cerita Rakyat

Provinsi

Sumatera Barat

Asal Daerah

Minangkabau

Mande Rubiah

Tanggal 25 Oct 2026 oleh Kyas1 .

Pengantar

Kisah Mande Rubiah, atau Bundo Kanduang versi Nagari Lunang, merupakan bagian dari "KABA" yang diceritakan secara lisan. Dalam dialektika Minangkabau, Bundo Kanduang selalu menjadi tokoh sentral, melambangkan kemuliaan wanita dalam adat. Berbagai versi tentang Bundo Kanduang menunjukkan bahwa figur ini hadir di setiap nagari atau wilayah Minangkabau, merepresentasikan wanita karismatik dan berpengaruh dalam kekerabatan atau trah tertentu.

Cerita Bundo Kanduang

Kisah ini berawal dari tiga cucu Raja Mauliwarman Dewa: Kambang Daro Marani, Indo Dewa, dan Kambang Daro Bandari, yang didampingi oleh 45 pengawal dan inang pengasuh, termasuk Andiko Panjang Gombak. Mereka mengunjungi Luhak nan Tuo, Tanah Datar, dan terpikat oleh keindahan alam serta keramahan masyarakat sehingga memutuskan untuk menetap. Keinginan ini disampaikan dalam pertemuan Limbago Alam di Balai Adat Datuak Bandaro Sungai Tarab. Musyawarah ini menghasilkan tiga mufakat penting: pengembangan Basa Tigo Balai menjadi Basa Ampek Balai, penunjukan Andiko Panjang Gombak sebagai ketua kehormatan Limbago Alam, dan pembangunan rumah gadang untuk ketiga bersaudara di Gudam Kambang Bungo (Pagaruyung). Keputusan ini disetujui oleh Majilis Kerapatan Adat Alam Minangkabau. Setahun kemudian, rumah gadang itu berdiri megah dengan bahan bangunan sumbangan masyarakat dan perlengkapan dari dangsanak pesisir dan rantau. Tujuh tahun kemudian, Andiko Panjang Gombak menikahi Kambang Daro Marani secara diam-diam. Pernikahan ini dikecam masyarakat karena tidak diumumkan secara adat. Meskipun Andiko mengklaim pernikahan sah di istana Tuan Gadang, Limbago Adat menganggapnya bersalah karena melanggar "tidak bersuluh matahari dan bergelanggang mata orang banyak". Andiko menebus kesalahannya dengan memotong sepuluh kerbau di Bukit Gombak dan mengakui perbuatannya, sehingga dimaafkan. Dari pernikahan ini lahirlah Romandung, yang bergelar Dang Tuanku. Empat belas bulan kemudian, Andiko kembali melakukan kesalahan yang sama, menikahi Kambang Daro Bandari, adik Kambang Daro Marani, secara diam-diam. Masyarakat dan Limbago Adat kembali marah karena tindakan ini melanggar adat dan dianggap tidak pantas, terutama karena menikahi dua saudara kandung yang masih hidup. Andiko membela diri dengan alasan persetujuan Kambang Daro Marani untuk melanjutkan keturunan di istana Pagaruyung dan izin dari tetua adat di Darmasraya. Andiko kembali mengisi adat dengan jamuan makan di istana Pagaruyung dan dimaafkan. Namun, sehari setelah upacara adat, Indodewa, satu-satunya saudara laki-laki, meninggalkan Pagaruyung menuju Darmasraya dan bersumpah tidak akan kembali. Dari pernikahan Andiko dengan Kambang Daro Bandari, lahirlah Cindurmato. Setelah melahirkan anak dari Andiko Panjang Gombak, Kambang Daro Marani berganti nama menjadi Bundo Kanduang, dan Kambang Daro Bandari menjadi Bundo Kambang. Sekitar 23 tahun kemudian, terjadi perang antara pasukan Imbang Jayo dari Sungai Ngiyang dan tentara Pagaruyung. Pertikaian ini dipicu oleh kecemburuan Imbang Jayo yang gagal mempersunting Puti Bungsu karena gadis itu dilarikan oleh Cindurmato, anak Raja Pagaruyung. Ayah Imbang Jayo, Raja Tiang Bungkuk, juga mendukung dendam anaknya. Setelah perang reda, empat anggota Basa Ampek Balai dan Tuan Gadang di Batipuah mengadakan pertemuan di balairung istana Pagaruyung. Bundo Kanduang dan Bundo Kambang turut hadir, bersama Romandung dan Cindurmato.

Sumber: https://bundokanduang.wordpress.com/2010/04/20/mande-rubiah-sejarah-bundo-kanduang-versi-nagari-lunang

Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.

DISKUSI


TERBARU


Masjid Baitul A...

Oleh Kyas1 | 25 Oct 2026.
Produk Arsitektur

Deskripsi Masjid Baitul A'la Lil Mujahidin, atau yang dikenal juga sebagai Masjid Abu Beureueh, adalah sebuah bangunan cagar budaya yang didirik...

Benteng Jepang

Oleh Kyas1 | 25 Oct 2026.
Produk Arsitektur

Deskripsi Benteng Jepang adalah sebuah cagar budaya yang terdaftar dengan nomor registrasi CB.6060.19700101.00703. Entitas kebudayaan ini termasuk d...

Tambi

Oleh Kyas1 | 25 Oct 2026.
Produk Arsitektur

Deskripsi Tambi adalah rumah tempat tinggal untuk semua golongan masyarakat di Sulawesi Tengah. Bentuk rumah ini persegi panjang dengan ukuran rata-...

Sate Daging Kam...

Oleh Kyas1 | 25 Oct 2026.
Makanan Minuman

Deskripsi Sate Madura adalah sajian makanan yang terbuat dari bahan dasar daging yang dipotong dadu, ditusuk, dan dibakar. Sate ini disajikan dengan...

Kue Talam Pelan...

Oleh Kyas1 | 25 Oct 2026.
Makanan Minuman

Deskripsi Kue Talam Pelangi adalah kue singkong berlapis-lapis warna yang mengingatkan pada masa kecil di daerah Banyuputih, Jawa Tengah. Kue ini se...

FITUR


Gambus

Oleh agus deden | 21 Jun 2012.
Alat Musik

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua...

Hukum Adat Suku...

Oleh Riduwan Philly | 23 Jan 2015.
Aturan Adat

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal...

Fuu

Oleh Sobat Budaya | 25 Jun 2014.
Alat Musik

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud...

Ukiran Singa Ba...

Oleh hokky saavedra | 09 Apr 2012.
Ornamen Arsitektural

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai...