|
|
|
|
|
|
Mitos Keraton Yogyakarta Dan Surakarta Tanggal 27 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Mitos keraton adalah cerita-cerita yang berkembang di lingkungan keraton, seperti Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Cerita-cerita ini memiliki fungsi penting dalam masyarakat, antara lain sebagai sarana pendidikan, pengesahan pranata budaya, dan pemeliharaan tradisi. Mitos-mitos ini dapat melekat pada nama tempat, makam, pohon, sumber air, atau tradisi yang terus dijalankan, dan diwariskan dari generasi ke generasi melalui tuturan lisan atau praktik kebudayaan. Mitos-mitos ini tidak hanya mengandung pesan moral, tetapi juga memiliki susunan peristiwa, tokoh, pertentangan, simbol, dan akibat yang membentuk makna cerita.
Mitos keraton berfungsi untuk menjaga keberlangsungan tradisi, mewariskan pengetahuan, dan memberi pengesahan kepada tata kehidupan. Mereka berhubungan dengan kewibawaan penguasa, asal-usul suatu tempat, hubungan manusia dengan alam, dan kepercayaan terhadap kekuatan yang melampaui kehidupan sehari-hari. Cerita-cerita ini saling menjaga dengan praktik kebudayaan; tuturan memberi arti kepada suatu tindakan, sementara tindakan yang terus dilakukan membuat cerita tetap hadir dalam kehidupan.
Mitos Keraton Yogyakarta dan Surakarta telah menjadi objek kajian dalam penelitian akademik, seperti disertasi Ismanto yang diadaptasi menjadi buku "Nilai Budaya dan Kearifan Lokal Mitos Keraton Yogyakarta dan Surakarta serta Pemanfaatannya untuk Pengembangan Buku Teks Apresiasi Sastra di Perguruan Tinggi". Penelitian ini menghimpun dan membaca mitos melalui kategori nilai budaya dan kearifan lokal, dengan merujuk pada kerangka orientasi nilai Florence Rockwood Kluckhohn dan Fred L. Strodtbeck. Kerangka tersebut membahas lima orientasi dasar: hakikat manusia, hubungan manusia dengan alam, orientasi waktu, aktivitas manusia, dan hubungan antarmanusia. Dalam penelitian Ismanto, kerangka ini diterapkan melalui kategori hakikat hidup, hakikat karya, persepsi manusia terhadap ruang dan waktu, hubungan manusia dengan sesamanya, serta hubungan manusia dengan alam. Kearifan lokal dibahas melalui kategori kepemimpinan, pengabdian, tradisi, dan sosial. Tujuannya adalah untuk menjadikan warisan naratif keraton sebagai bahan kajian yang dapat diperiksa dan dikembangkan, serta membuka kesempatan bagi pembaca yang tidak mengenal lingkungan asal cerita untuk mempelajarinya.
Sumber: https://borobudurwriters.id/kronik-budaya-dan-sejarah/mitos-keraton-dan-ingatan-kebudayaan
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
<g Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiri... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |