×

Akun anda bermasalah?
Klik tombol dibawah
Atau
×

DATA


Kategori

Sejarah

Elemen Budaya

Cerita Rakyat

Provinsi

Jawa Timur

PELARIAN MAJAPAHIT DI PACITAN

Tanggal 15 Jun 2026 oleh Kangnurofficial .

GELOMBANG EKSODUS

I. Pelarian Di Pacitan

Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun:

Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M,

Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M.

Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro.

Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha.

Dalam pandangan para pendukungnya, identitas inilah yang kemudian berakar kuat di pedalaman Jawa dan meninggalkan jejak panjang dalam nama-nama tempat, ingatan kolektif masyarakat, keberadaan komunitas perdikan, hingga simbol-simbol budaya sima Buwana Keling.

Namun kisah yang hendak ditelusuri di sini bukanlah kisah para penguasa yang berhasil mempertahankan takhta. Yang menarik justru jejak mereka yang tersingkir dari panggung kekuasaan. Ketika pusat-pusat politik berguguran satu demi satu, bumi selatan Jawa menjadi tujuan sebuah perpindahan besar yang nyaris tak pernah memperoleh tempat dalam narasi resmi.

Mengapa Selatan Wengker? Mengapa Pacitan?

Jawabannya terletak pada bentang alam pegunungan seribu yang keras sekaligus melindungi. Dinding-dinding karst yang menjulang, jurang-jurang dalam, sungai bawah tanah, serta ribuan goa yang tersembunyi membentuk benteng alam yang sukar dijangkau.

Wilayah ini menjadi ruang perlindungan yang nyaris sempurna bagi mereka yang ingin menghilang dari jangkauan kekuasaan baru. Di balik lorong-lorong kapur yang gelap dan lembap, para penyintas menemukan sesuatu yang tidak lagi mereka miliki di tanah asalnya: kesempatan untuk bertahan hidup.

Ingatan masyarakat setempat menggambarkan kedatangan mereka sebagai arus manusia yang seolah tidak pernah putus. Rombongan demi rombongan menyusuri lereng terjal, menyeberangi lembah sungai purba, dan merayap perlahan memasuki wilayah selatan. Dari gambaran itulah lahir ungkapan yang terus bertahan dalam memori lokal:

"...ndlidir kadya selo blekithi..." (bagai semut yang berbaris di atas bebatuan)

Sebuah perumpamaan sederhana yang menyimpan kesan tentang banyaknya manusia yang bergerak bersama menuju tempat perlindungan.

Perjumpaan Para Musuh Lama

Namun mereka tidak datang sebagai satu barisan yang seragam. Di antara arus pengungsian itu bercampur berbagai sisa dunia lama yang telah pecah berkeping-keping:

  • Para pendukung Wilwatikta yang masih menyimpan kerinduan pada ibu kota yang telah musnah.

  • Keturunan keluarga Rajasa yang kehilangan takhta dan kehormatan leluhurnya.

  • Pengikut poros Daha yang sebelumnya sempat menikmati kemenangan sebelum akhirnya ikut terseret ke dalam pusaran keruntuhan.

  • Para prajurit dari kubu-kubu yang dahulu saling menghunus senjata; orang-orang yang pernah berhadapan di medan laga dan kini dipaksa menempuh jalan yang sama.

Bersama mereka hadir pula rakyat jelata yang kehilangan ladang, rumah, keluarga, dan masa depan akibat pertikaian para penguasa. Menyusul pula komunitas-komunitas perdikan yang berusaha mempertahankan hak-hak tanah sima mereka, para rishi dan pendeta yang membawa tradisi spiritual ke tempat-tempat terpencil, serta keturunan bangsawan yang kini hidup sebagai pengembara tanpa pelindung.

Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, membawa kesetiaan yang berbeda, bahkan mewarisi permusuhan yang belum sepenuhnya padam.

Bertahan Hidup dalam Kerasnya Karst

Keganasan alam Wengker Selatan memperlihatkan kenyataan yang tak dapat ditawar. Di hadapan kerasnya kehidupan, garis pemisah lama perlahan kehilangan maknanya. Di tanah berbatu yang sunyi dan terpencil itu, kebanggaan golongan tidak lagi menjamin keselamatan. Yang tersisa hanyalah kebutuhan paling dasar: bertahan hidup.

Sebab, pertanyaan yang kini mereka hadapi bukan lagi siapa yang menang atau kalah dalam perang, melainkan bagaimana melanjutkan hidup setelah semuanya berakhir.

Di bawah lindungan goa-goa kapur Pacitan, orang-orang yang dahulu berdiri di pihak yang berlawanan akhirnya berbagi nasib yang sama. Mereka hidup berdampingan sebagai sesama penyintas dari sebuah dunia yang telah karam. Dalam keadaan itulah, sebuah falsafah lama memperoleh makna baru:

"Mikul dhuwur, mendem jero."

Mereka mengangkat kehormatan leluhur setinggi mungkin, namun memilih mengubur dalam-dalam luka, dendam, dan pertikaian yang telah menghancurkan generasi mereka. Di atas tanah yang gersang namun memberi perlindungan, perlahan tumbuh kehidupan baru yang tidak lagi sepenuhnya menjadi Rajasa, Majapahit, tidak pula sepenuhnya menjadi Keling Daha. Sebuah dunia baru sedang dibentuk oleh mereka yang selamat.

Misteri yang Tersisa

Namun sejarah jarang sesederhana itu.

Apakah bara lama benar-benar telah padam? Ataukah ia hanya tertutup lapisan tanah dan waktu?

Di balik kegelapan goa-goa karst, pertanyaan itu terus menggantung. Mungkin yang berakhir hanyalah perang terbuka, sementara kesetiaan-kesetiaan lama tetap hidup dalam ingatan, ritus, dan warisan yang diwariskan secara diam-diam kepada generasi berikutnya.

Jika demikian, maka Pacitan bukan sekadar tempat perlindungan para pelarian, melainkan ruang tempat berbagai warisan dunia lama bernegosiasi, beradaptasi, dan diam-diam mempersiapkan babak sejarah perseteruan yang baru.

Bersambung ke Babad Rejoso

DISKUSI


TERBARU


Sulukan Wayang...

Oleh Kyas1 | 08 Oct 2026.
Seni Pertunjukan

Deskripsi Penelitian ini bertujuan untuk mencari penjelasan tentang ragam sulukan wayang kulit purwa gaya Yogyakarta versi Timbul Hadi Prayitno, Had...

Musik Liturgi I...

Oleh Kyas1 | 08 Oct 2026.
Musik dan Lagu

Deskripsi Musik liturgi inkulturatif adalah praktik penggunaan musik yang menggabungkan unsur-unsur budaya lokal dalam perayaan liturgi Katolik. Di...

Kereta Singo Ba...

Oleh Kyas1 | 08 Oct 2026.
Alat Musik

Deskripsi Kereta Singo Barong merupakan salah satu objek seni yang tersimpan di Museum Kasepuhan Cirebon. Objek ini mengalami perubahan makna seirin...

Prasasti Kakuru...

Oleh Kyas1 | 07 Oct 2026.
Naskah Kuno dan Prasasti

Deskripsi Fisik Prasasti Kakurugan adalah sebuah tulisan Jawa Kuno. Isi/Kandungan Prasasti ini membahas tentang peran pendekar pada masa Pemerinta...

Gulai Kuning Ik...

Oleh Kyas1 | 07 Oct 2026.
Makanan Minuman

Deskripsi Gulai kuning ikan patin adalah hidangan kuliner Nusantara yang terkenal dengan aroma gurih kuah kaya rempah. Hidangan ini memadukan daging...

FITUR


Gambus

Oleh agus deden | 21 Jun 2012.
Alat Musik

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua...

Hukum Adat Suku...

Oleh Riduwan Philly | 23 Jan 2015.
Aturan Adat

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal...

Fuu

Oleh Sobat Budaya | 25 Jun 2014.
Alat Musik

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud...

Ukiran Singa Ba...

Oleh hokky saavedra | 09 Apr 2012.
Ornamen Arsitektural

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai...