|
|
|
|
|
|
SENJAKALA MAJAPAHIT I (Brawijaya V - Trowulan) Tanggal 15 Jun 2026 oleh Kangnurofficial . Revisi 28 oleh Kangnurofficial pada 15 Jun 2026. |
> Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia.
Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamatkan diri ke wilayah Keling, Daha (Kediri) bersama keluarga besarnya. Di Kediri, beliau tidak hidup merana, melainkan tetap bertakhta sebagai raja lokal dan mendirikan dinasti baru bernama Wangsa Girindrawardhana. Selama periode ini, Bhre Kertabhumi tidak menyerbu Daha. Kubu Trowulan sibuk memperkuat pengaruh politik dalam kota, sementara kubu Daha sibuk membangun kekuatan di pedalaman barat.
Hingga tahun 1478 M, kemegahan Majapahit yang sah masih berpusat di keraton batu bata Trowulan di bawah kepemimpinan Bhre Kertabhumi, yang dalam tradisi tutur masyarakat Jawa dikenal sebagai Prabu Brawijaya V. Di bawah naungannya, meskipun stabilitas ekonomi mulai bergeser ke pelabuhan-pelabuhan pesisir utara, Trowulan tetap dipertahankan sebagai pusat spiritual dan simbol pemersatu mandala-mandala agraris di Jawa. Namun, ketenangan di ibu kota ini perlahan digerogoti oleh api dendam lama dari arah barat daya—sebuah dendam kesumat yang dipelihara oleh klan Keling-Kediri. Konflik ini berakar dari perselisihan generasi sebelumnya. Kekalahan Brawijaya IV yang memalukan ini diwariskan sebagai wasiat berdarah kepada putranya, Ranawijaya. Tragedi kehilangan muka melahirkan dendam kesumat.
Ambisi pribadi Ranawijaya untuk merebut takhta tidak tumbuh di ruang hampa. Ia didukung penuh oleh kelompok spiritual sinkretik: Faksi Buddha-Siwa di pedalaman yang dipimpin oleh seorang tokoh kebatinan bernama Sri Brahmaraja Ganggadhara. Faksi ortodoks ini merasa terancam oleh kebijakan Brawijaya V yang mulai membuka diri terhadap perkembangan komunitas pedagang di pesisir serta merangkul para pendakwah awal di pedalaman Jawa. Ganggadhara sakit hati bersama kelompoknya memanfaatkan Ranawijaya sebagai "alat pemukul" politik demi mengembalikan hegemoni kepercayaan kuno dan status kastanya.
Pada tahun 1478 M, Ranawijaya melancarkan agresi militer mendadak dalam skala besar langsung ke jantung pertahanan Trowulan. Sebuah serangan mendadak yang mematikan.
Menghadapi serbuan yang datang dari dalam lingkaran keponakannya sendiri, Prabu Brawijaya V mengambil keputusan spiritual yang sangat mengharukan. Sadar bahwa perlawanan bersenjata di dalam kota hanya akan mengorbankan ribuan nyawa rakyat jelata dan menghancurkan pusat peradaban, beliau memilih untuk tidak meladeni pertempuran frontal. Sang Prabu memilih jalan kepasrahan batin—beliau wafat di istana. Langkah ini diambil demi mencegah pertumpahan darah yang lebih luas, sebuah tindakan ksatria yang kontras dengan ambisi dendam dan amarah para pemberontak.
Untuk penghormatan beliau di kemudian hari dikisahkan menjadi istilah moksha hilang misterius di dalam istananya (mokta ring kadaton/moksha kedaton/wafat di istana). Istilah Moksha adalah legitimasi atas pembunuhan dan pemberontakan berdarah, agar klaim kekuasaan dapat diterima para bijak di masanya. Kisah pemberontakan ini tercatat pada:
Sedangkan fakta sastra yang cukup jelas: Kalimat "kapernah paman, bhre prabhu sang mokta ring kadaton i saka 1400" (Mangkat/gugur di istana tahun 1478 M) tercatat di dalam naskah Pararaton. Dalam sosiologi politik Jawa kuno, istilah Moksha (menghilang secara misterius beserta raganya) atau penggunaan bahasa halus kematian lainnya memang sering kali digunakan oleh pujangga zaman setelahnya atau pihak pemenang kudeta untuk beberapa alasan:
> Malam itu, langit Wilwatikta memerah oleh lidah-lidah api yang melahap tiang-tiang jati berukir di istana Trowulan. Jerit kematian bersahutan dengan denting pedang yang beradu. Di bawah komando klan Ranawijaya dari Daha, benteng pertahanan terakhir Bhre Kertabhumi hancur—sang Brawijaya V—gugur di tengah kepungan asap tebal, membawa serta kejayaan emas Majapahit ke dalam liang kubur sejarah.
Meskipun Prabu Brawijaya V telah wafat terhormat (moksha kedaton), pasukan klan Keling yang telanjur dirasuki nafsu penaklukan tidak menyurutkan langkah mereka. Serbuan yang dipimpin oleh Ranawijaya menerapkan taktik bumi hangus yang sangat destruktif. Istana Trowulan yang megah, dengan dinding-dinding bata merah berukir indah, kolam-kolam pemandian para putri, dan balai-balai pertemuan yang telah berdiri selama dua abad, dibakar dan diratakan dengan tanah.
Kehancuran total pusat peradaban ini membekas begitu mendalam dalam ingatan kolektif masyarakat Jawa, hingga diabadikan dalam suryasengkala yang sangat terkenal: Sirna Ilang Kertaning Bhumi (Sirna = 0, Ilang = 0, Kerta = 4, Bhumi = 1, yang menunjuk pada tahun 1400 Saka atau 1478 M).
Dari abu kehancuran itu, sirna dan hilanglah kemakmuran bumi. Reruntuhan fisik Trowulan yang hangus memicu eksodus massal pejabat elit, pendeta Budha-Siwa, dan keluarga raja ke segala penjuru Jawa dan Bali.
Meskipun telah menumbangkan nama besar Brawijaya V, Ranawijaya malah didera kecemasan geopolitik yang luar biasa. Ia menyadari sepenuhnya bahwa kedudukannya sangat rapuh di mata hukum adat ketatanegaraan Jawa kuno (paugeran). Ia bukanlah penerus sah yang ditunjuk oleh penguasa sebelumnya, melainkan seorang pemberontak yang naik takhta lewat jalan pertumpahan darah. Ranawijaya nekat melenyapkan simbol fisik legitimasi trah Trowulan adalah langkah cerdik. Dalam konsep kekuasaan Jawa, sebuah dinasti dianggap runtuh seutuhnya jika kraton fisiknya sudah hancur atau diduduki lawan. Pembakaran kraton Trowulan memastikan bahwa pusat gravitasi politik tunggal di Jawa resmi berpindah ke barat (Keling-Daha), memaksa wilayah-wilayah vasal (watek) untuk langsung menghadapkan upeti ke istana baru tanpa opsi keraguan.
Ranawijaya sudah matang merencanakan strategi besar ekonomi politik, penghancuran ibu kota imperium Majapahit secara fungsional melumpuhkan sistem birokrasi penarikan pajak di Trowulan. Dengan meratakannya menjadi abu, Ranawijaya tanpa terlalu memaksa para penguasa daerah di pesisir maupun pedalaman, berencana untuk membelokkan jalur logistik dan setoran pajak mereka langsung ke Daha. Langkah ini sekaligus memastikan tidak ada sisa-sisa harta kerajaan yang bisa dimanfaatkan oleh loyalis Trowulan untuk membiayai pasukan pemberontak baru.
Dalam tradisi Wilwatikta, raja yang mangkat biasanya dikanonisasikan (didewakan) dan dibuatkan candi pendarmaan (dhinarma) atau tempat pemujaan roh suci leluhur. Tak ada pecandian Bhre Kretabhumi, tak ada pemujaan, melainkan propaganda, penyebaran kabar masif tentang raja yang moksha misterius oleh para spiritualis yang pro faksi Keling Daha.
Setelah membakar habis keraton Majapahit, Ranawijaya menyadari bahwa ia tidak mungkin lagi bertakhta di atas puing-puing Trowulan yang telah menjadi abu dan rawan dari serangan balik faksi-faksi yang masih setia kepada Brawijaya V. Dukungan dari para penguasa daerah (bekel, bupati, nayaka dan adipati) di pedalaman masih perlu dikendalikan; mereka menolak tunduk pada kekuasaan Ranawijaya yang mereka anggap cacat moral. Kesadaran hati rakyat jelata yang trauma akibat perang, klaim sepihak moksha kedaton, bagi mereka hanyalah topeng pemberontakan dari sebuah kekuasaan yang tidak sah. Penyebabnya adalah para pelarian keraton Trowulan lebih dahulu mewartakan kenyataan pahit sebelum propaganda berjalan lancar. Ranawijaya tak kehilangan akal, ia membawa paksa sisa-sisa simbol kekuasaan dan memindahkan pusat pemerintahannya jauh ke pedalaman barat, yakni pulang ke Keling Daha di Kediri. Di sana, di atas tumpukan penderitaan kawula, ia memproklamirkan dirinya sebagai penguasa baru sisa-sisa Majapahit dengan gelar Prabu Brawijaya VI.
Dalam upaya memperkokoh posisinya sebelum dan sesudah penyerangan, terdapat pembagian aspek nama dan gelar yang digunakan oleh sang tokoh utama untuk mendapat dukungan publik: Dyah Raṇawijaya (Nama Asli): Merupakan nama diri atau nama kecil (garbha-prasasti-nama/nama wetengan).
• Batara Keling: Saat memimpin pasukan dari Daha/Keling untuk menyerang Bhre Kertabhumi di Trowulan, ia bergerak sebagai Bhattara i Keling, yakni seorang pangeran penguasa wilayah bumi Keling – berkedudukan di Daha Kediri.
• Girīndrawardhana (Gelar Wangsa / Dinasti): Gelar kedudukan (abhiseka) yang dipakai oleh keluarga penguasa Keling/Daha. Fakta krusialnya, Girīndrawardhana bukan cuma dirinya seorang. Saudara-saudaranya yang lain juga memakai gelar ini. Di dalam Prasasti Jiyu, tercatat ada tokoh lain seperti Girīndrawardhana Dyah Wijayakarana dan Girīndrawardhana Dyah Wijayakusuma. Penggunaan gelar pada keluarga dan kerabat kerajaannya ini bertujuan untuk menjaring legitimasi dari sisa-sisa pengikut Brawijaya V yang masih setia pada Trah Rajasa.
• Gelar Lengkap Pasca-Kudeta: Setelah Dyah Raṇawijaya sukses menggulingkan Trowulan dan naik takhta menjadi Maharaja diraja, barulah ia menyatukan nama dan gelarnya secara resmi di prasasti menjadi Prabhu Natha Girīndrawardhana Dyah Raṇawijaya.
• Klaim Kekuasaan: Di dalam prasasti, ia juga menegaskan legitimasi politiknya dengan gelar kemenangan: Śrī Wilwatikta Jěṅgala Kediri (Penguasa Wilwatikta/Majapahit, Janggala, dan Kediri).
Dinasti / Era Garis Suksesi Utama Rajasa Girindrawangsa
Era Singasari Ken Arok ──► Anusapati ──► Wisnuwardhana ──► Kertanegara Era Majapahit Raden Wijaya (menantu Kertanegara) ──► Jayanegara ──► Tribhuwana Wijayatunggadewi ──► Hayam Wuruk ──► berujung Bhre Kertabhumi moksha dikudeta di tangan Dyah Ranawijaya
Makna Girīndrawaṅśa berarti "Keturunan Raja Gunung" (Giri/Gunung, Indra/Raja, Wangsa/Keturunan/Trah). Nama ini merupakan sebutan agung atau nama pilihan untuk Wangsa Rājasa, dinasti yang didirikan oleh Ken Arok (Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi) pada awal abad ke-13 yang di kemudian disebut Trah Rejoso.
Di dalam naskah Pararaton, wangsa ini disebut Wangsa Rajasa berdasarkan nama takhta sang pendiri. Namun dalam tradisi sastra pujangga Majapahit, seperti dalam kitab Kakawin Nagarakretagama, keluarga raja ini kerap diagungkan sebagai Girindrawangsa. Penggunaan nama "Raja Gunung" ini berfungsi untuk melegitimasi bahwa raja-raja Majapahit adalah keturunan langsung dari titisan dewa-dewa yang menguasai gunung suci Mahameru. Klan Keling yang direpresentasikan secara megah oleh Ranawijaya, menggunakan nama ‘Girindra’ bertujuan untuk menegaskan bahwa mereka adalah trah murni yang berhasil mengembalikan Wangsa Rajasa ke puncak kekuasaan.
Penggunaan gelar tersebut adalah strategi politik untuk melawan faksi Trowulan yang masih setia pada Brawijaya V, seolah-olah mengumumkan kepada rakyat: "Kamilah pewaris sah trah tertinggi Rajasa, Girindrawangsa yang asli." Ranawijaya setahap demi setahap selama 8 (delapan) tahun berjuang memastikan poros kedudukan absolutnya. Waktu yang cukup panjang, meredam chaos sparatis dan perang di di berbagai titik mandala faksi lama yang menolak peralihan kekuasaan.
Konsolidasi Kekuasaan Dinasti Girindrawardhana (1486)
• Penyatuan Takhta: Ranawijaya berhasil menyatukan kembali takhta kekuasaan yang sebelumnya terpecah akibat perang saudara antara faksi simpatisan Brawijaya V yang masih tidak terima atas pembunuhan rajanya. • Pemindahan Ibu Kota: Pusat pemerintahan resmi dipindahkan dari Trowulan ke Daha (Kediri). Langkah ini menandai fase akhir dari imperium Majapahit yang sering disebut sebagai era Majapahit-Kediri. • Bangkitnya Elit Baru: Muncul kekuatan politik dan militer baru di lingkungan istana yang dipimpin oleh tokoh kuat, Patih Mahodara.
Di permukaan ukiran prasasti, ia adalah penguasa absolut Majapahit Keling Daha dengan gelar megah: Sri Wilwatikta Jenggala Kediri. Namun di dunia nyata, ia adalah seorang raja baru yang butuh pondasi dukungan—jika tidak maka akan menjadi seorang raja di dalam tempurung maja yang besar dan halus, namun menyimpan kepahitan busuk hingga akhir hayat, Majapahit.
Bagaimana Ranawijaya mampu bertahan di tengah kepungan yang begitu mencekam di bawah bayang-bayang karma darah leluhur Trowulan? Jawabannya terletak pada serangkaian diplomasi dan narasi hukum magis-kultural yang cerdik.
1. Batu Prasasti Menyadari bahwa otoritasnya kian merosot di mata rakyat pedalaman akibat kendali pesisir yang lemah, Raṇawijaya menggunakan hukum magis-kultural. Ia memerintahkan para pemahat batu terbaiknya untuk mengukir banyak prasasti. Di atas batu-batu dingin itu, ia mengumumkan dirinya sebagai pelindung mutlak ajaran Budha-Siwa dan menyandang gelar tertinggi: Prasasti Jiyu (1486 M) "...Śrī Wilwatiktapura Jaṅgala Kadiri Prabhu Nātha Bhaṭāra i Keliṅg"
Di balik kalimat-kalimat pemujaan yang agung, tersirat pengakuan tinggi sebagai batara atau avatar di Keling atau orang-orang Keling. Sebagai tanda komitmennya, Raṇawijaya memberikan hadiah tanah bebas pajak (sīma) yang sangat luas kepada para pendeta di seluruh kekuasaan Daha. Tercatat dapam prasasti yang paling berpengaruh di masa itu: terutama di Jiyu, Sri Brahmaraja Ganggadhara.
Ini adalah kompensasi politik atas dukungan legitimasi kedudukan sang raja sebagai titisan dewa di bumi. Sri Brahmaraja Ganggadhara resmi dilantik menjadi brahmana agung Daha. Langkah penyeragaman dan pemusatan ritus ini diambil untuk meredam penjamuran sabuk identitas "Trah Rajasa". Sisa-sisa loyalis Trowulan, bekas punggawa, dan kaum rishi yang mendirikan kantong perdikan dengan nama Rajasa/Rejoso di empat penjuru secara seporadis yang membangkang dan menolak berkiblat, mulai ditertibkan. Ganggadhara diberi mandat khusus: menjinakkan dan menenangkan komunitas sekte faksi Majapahit lama ini agar tidak meletupkan pemberontakan bersenjata melawan Dinasti Girindrawardhana.
2. Identitas Keling Penggabungan Keling-Daha adalah perkawinan agung antara taktik militer dan agama/keyakinan yang mengakar kuat. Ranawijaya menempatkan Dinasti Girindrawardhana tidak sekadar memindahkan takhta fisik ke Daha, melainkan mentransformasikan kota tersebut menjadi pusat kosmis bagi doktrin sinkretisme Budha-Siwa yang sudah mengkar lama. Melalui inisiasi batin ajaran Tantra yang epic, entitas Keling dan Daha dipatri bukan lagi sebagai dua wilayah geografis, melainkan sebagai manifestasi makrokosmos dari dualitas sakral yang manunggal: aspek spiritualitas tertinggi yang mewujud ke dalam otoritas duniawi. Legitimasi teologis ini dikunci secara mutlak melalui penandaan fisik yang rigid. Para penguasa, bangsawan, dan maharesi klan Girindrawardhana menghidupkan kembali identitas ikat rambut Jatāmakuta atau Keśabandha—sebuah mahkota organik berupa rambut panjang yang ditarik mati, diputar, dan digelung bulat kokoh tepat di ubun-ubun kepala. Gaya rambut tanpa kemewahan logam emas ini bukan sekadar urusan estetika keraton, melainkan sebuah segel magis untuk mengunci energi Kundalini dan memancarkan laku batin tertinggi (śūnyatā). Penampilan fisik yang bersahaja namun memancarkan wibawa batin yang pekat inilah yang seketika memisahkan mereka dari gelombang peradaban baru di pesisir utara. Di tengah lanskap Jawa yang mulai terbelah secara kultural, gaya rambut diikat melingkar dan kesetiaan batin pada Budha-Siwa ini menjelma menjadi simbol resistensi, benteng pertahanan terakhir tradisi lama, sekaligus penanda loyalitas paling murni bagi kekuasaan era Raṇawijaya. Dari sinilah sejarah mencatat lahirnya sebuah identitas sosiologis yang melegenda: Wong Keling. Mereka adalah kelompok elite yang memegang teguh keyakinan lama, penganut Budha-Siwa berambut gelung tegak, yang siap mempertahankan sisa-sisa kejayaan Keling hingga tetes darah terakhir.
3. Trailokyapuri & Ruwat Sraddha Massal Di ibu kota Daha, Ranawijaya mencoba menciptakan narasi bahwa kejayaan Majapahit ditakdirkan untuknya. Ia mendirikan asrama keagamaan raksasa bernama Trailokyapuri—sebuah pusat pelestarian naskah, sastra kuno, dan ritual teologi Budha-Siwa. Tempat ini menjadi benteng pertahanan budaya terakhir di tengah gelombang perubahan sosial yang kian pesat di utara. Ia juga menyelenggarakan upacara Dwadasawarsa Sraddha secara massal dan mewah—sebuah ritual suci memperingati 12 tahun wafatnya sang ayah, Singhawikramawardhana (Brawijaya IV). Melalui asap pedupaan yang membubung tinggi dan lantunan mantra para pendeta - brahmana, Ranawijaya berusaha menyembuhkan trauma psikologis rakyatnya pasca-bumi hangus Trowulan sekaligus mengukuhkan kembali hukum adat Kutaramanawa. Melalui ritual ini, rakyat pedalaman ditenangkan agar tetap percaya bahwa takhta di Daha masih mendapat restu kosmis para dewa.
F. Kepungan Trah Rājasa Tahun 1486 merupakan momen deklarasi yang krusial, Ranawijaya mengeluarkan Prasasti Jiyu. Melalui prasasti tersebut, ia menegaskan legitimasinya sebagai penguasa tunggal setelah berhasil mengalahkan sisa-sisa perlawanan faksi Brawijaya V secara masif, praktis delapan tahun lamanya. Namun, di balik dinding-dinding batu istana baru di Daha, Ranawijaya tidak pernah benar-benar aman. Ia tak menyadari bahwa detak jantung kerajaannya kian melemah, sementara dari empat penjuru mata angin, faksi-faksi pembangkang dari Trah Rajasa dan loyalis lama mulai menunjukkan taringnya.
[UTARA: POROS MARITIM & GIRI KEDATON] (Sunan Giri & Aliansi Pesisir - Boikot Total) │ ▼ [BARAT: KADIPATEN PONOROGO] ──► [DAHA] ◄── [TIMUR: RAJASAWANGSA TIMUR] (Raden Katong - Isolasi) (BRAWIJAYA VI) (Menak Sopal & Mas Sembar) ▲ │ [PEDALAMAN: KAUM LOYALIS BRAWIJAYA V dan TRAH RAJASA] (Loyalis Trowulan - Sabotase)
1. Rajasawangsa, Blambangan Merdeka Di ujung timur pulau Jawa, di balik lebatnya hutan lereng Gunung Raung dan benteng alam Selat Bali, kemarahan membubung tinggi. Klan penguasa Blambangan, yang mewarisi darah murni Rajasawangsa (keturunan Bhre Wirabhumi), menolak mentah-mentah mengakui keabsahan dinasti Girindrawardhana. Bagi mereka, Ranawijaya adalah pemberontak trah yang berlumuran darah wangsa mereka di Trowulan. Sejak tahun 1461 M, Adipati Balumbung, Menak Sopal (Raden Siung Laut), telah mengendalikan kuasa logistik timur. Begitu Trowulan dibakar pada tahun 1478 M, Mas Sembar (Dyah Suralegawa), menantu Menak Sopal yang merupakan putra pelarian Trowulan (trah Lembu Mirudha), naik takhta. Ia menolak mengirimkan sepeser pun upeti ke Daha. Tantangan terbuka pun ditabuh. Mas Sembar memproklamasikan berdirinya Kerajaan Blambangan yang merdeka sepenuhnya. Ranawijaya tidak mampu menyentuh mereka karena dua alasan taktis:
• Kepungan Dua Arah: Setiap kali tentara Daha mencoba bergerak ke timur, mereka dirongrong oleh kekuatan militer Demak dan Giri di utara.
• Geografi Benteng Alam: Rimba belantara lereng Gunung Raung dan Selat Bali yang ganas menjadi tameng alamiah yang mustahil ditembus sisa-sisa armada Daha yang kehabisan dana akibat perang saudara berkepanjangan. Blambangan bermetamorfosis menjadi "Rajasawangsa Timur"—sebuah imperium maritim baru yang kaya raya di bawah pimpinan Bima Koncar (1479–1501 M), menguasai Selat Bali tanpa bisa diganggu gugat oleh Bumi Keling Daha.
2. Gelar Tandingan (Giri Kedaton, Gresik) Jika di timur Ranawijaya menghadapi entitas bersenjata, di utara ia menghadapi perang urat syaraf yang jauh lebih mematikan. Pada tahun 1486 M, demi mendeklarasikan status dewanya, Ranawijaya mengeluarkan banyak ukiran prasasti. Ia menobatkan dirinya sebagai penguasa kosmis tertinggi Wangsa Girindra. Namun hanya setahun berselang, pada 1487 M, di atas perbukitan Gresik, seorang raja pesisir kharismatik bernama Sunan Giri mendirikan Giri Kedaton.
Sunan Giri mengambil gelar Prabu Satmata—sebuah nama esoteris dari Dewa yang menjelma. Beliau merupakan keturunan garis lurus dari Wangsa Rajasa lahir di Blambangan dengan silsilah: Bhre Wirabhumi (Blambangan) -> Prabu Menak Sembuyu -> Dewi Sekardadu (menikah dengan Maulana Ishaq) -> Sunan Giri /Raden Paku)/Joko Samudro/ Raden Ainul Yaqin/ Satmata. Ini adalah pukulan telak bagi legitimasi spiritual Giri Indra Daha. Dengan menyandang gelar tersebut, Sunan Giri berhasil memikat hati para penguasa bawahan (watek) di pesisir.
Kiblat spiritual Jawa bergeser berangsur-angsur: dari Girindrawangsa yang dilegitimasi oleh Brahmanaraja menuju Giri Kedaton. Giri Kedaton menjelma menjadi mahkamah tertinggi yang pengaruhnya sampai ke luar Jawa, mengharamkan pengiriman pajak pelabuhan ke Daha, sekaligus merestui Trah Brawijaya V untuk mengonsolidasikan kekuatan militer di Demak.
3. Boikot Nadi Maritim Jenggala Gelar Jenggala pada nama Ranawijaya patut dipertanyakan. Pelabuhan Jenggala di muara Sungai Brantas (Surabaya-Gresik) yang seharusnya menjadi nadi ekonomi Daha, kini telah dikuasai oleh para saudagar yang setia pada Sunan Ampel dan Sunan Giri. Mereka melakukan boikot ekonomi: • Komoditas utama pedalaman Daha seperti beras dan hasil bumi ditahan di gudang, tidak bisa diekspor ke luar. Pendapatan pelabuhan hanya mengalir ke kas pesisir, membuat Daha kesulitan menarik devisa internasional untuk membangun kotaraja. • Persenjataan besi, kain impor, dan teknologi militer dari luar negeri diblokade di pelabuhan utara, dialirkan hanya untuk memperkuat Kesultanan Demak. • Para adipati pesisir (Demak, Jepara, Tuban, Lasem) secara kolektif menolak menggunakan nama Girindrawardhana dalam dokumen administrasi mereka. Mereka tetap menggunakan stempel kedaulatan Surya Wilwatikta kuno peninggalan Trowulan sebagai bentuk pembangkangan simbolis dan administratif. Secara politis dan kultural, ketika Ranawijaya merebut kekuasaan dan bertindak diktator dengan membakar Trowulan sebelumnya, Faksi Blambangan, Giri Kedaton, dan Faksi Pesisir sama-sama merasa tidak memiliki kewajiban moral untuk tunduk pada dinasti baru tersebut.
Sumber Buku Babad Pacitan (Priyayi dan Gedibal Jawa) NoirXOne/ Kang Nur Official (Bersambung)
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |