|
|
|
|
|
|
Putri Beranak Udang Tanggal 31 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Dahulu kala, ada seorang putri yang tinggal di sebuah desa. Suatu hari, ia membeli udang-udang yang sangat bagus dan saking kagumnya, ia berujar ingin memiliki anak seperti udang-udang tersebut. Tidak lama setelah itu, sang putri hamil dan melahirkan dua belas ekor udang. Karena merasa malu dan takut diejek warga, putri memutuskan untuk membuang anak-anak udangnya ke tepi laut, berharap mereka bisa selamat hidup di sana. Keesokan harinya, keajaiban terjadi. Kedua belas udang tersebut berubah menjadi manusia, sebelas laki-laki dan satu perempuan. Mereka berjalan ke daratan dan bertemu dengan harimau yang bisa berbicara. Harimau tersebut mengajak mereka tinggal bersamanya, dan mereka pun setuju. Bersama harimau, mereka membangun rumah, berkebun, dan bersawah. Harimau berburu hewan seperti rusa dan kancil untuk lauk mereka, sementara manusia udang menanam padi. Setiap malam, harimau bertanya, “Sudah besar belum hati kalian, Cung?” Manusia udang selalu menjawab hati mereka masih kecil. Harimau semakin banyak mencari buruan agar hati mereka cepat besar. Setelah beberapa waktu, manusia udang menjawab hati mereka sudah sebesar buah tomat. Menyadari tujuan sebenarnya harimau adalah memakan hati mereka, manusia udang diam-diam membangun perahu besar saat harimau pergi berburu. Mereka meletakkan perahu di tepi laut dan meninggalkan sebuah guci yang diikat dengan tali panjang yang membentang hingga ke seberang lautan. Ketika harimau pulang dan mendapati rumah sepi, ia memanggil-manggil. Manusia udang menjawab dari seberang lautan dan mengajak harimau untuk ikut dengan masuk ke dalam guci. Harimau yang polos menuruti, dan ketika ia sudah sepenuhnya masuk, manusia udang menarik guci ke tengah laut dan melepaskannya. Harimau tenggelam dan mati. Setelah yakin harimau mati, manusia udang kembali ke rumah untuk mengambil barang-barang yang diperlukan, lalu melanjutkan perjalanan mencari ibu mereka. Mereka akhirnya tiba di Desa Pengumbuk, menceritakan kisah mereka kepada warga desa. Cerita ini sampai ke telinga ibu mereka, yang kemudian menemui mereka dan mengakui mereka sebagai anak-anaknya. Mereka pun akhirnya hidup bersama dengan bahagia.
Sumber: https://irwanpratubangsawans.wordpress.com/2011/08/13/putri-beranak-udang
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
<g Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiri... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |