|
|
|
|
|
|
Wayang Godong Tanggal 27 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Wayang Godong adalah sebuah kesenian yang diciptakan oleh Agus Purwantoro (Gus Pur) dari Magelang. Kesenian ini menggunakan helai daun sebagai medium utama, menawarkan narasi personal tentang hubungan manusia dengan alam semesta dan Sang Pencipta. Berbeda dengan wayang tradisional, Wayang Godong mengangkat isu ekologis, spiritualitas, dan masalah sosial masa kini, menjadikannya relevan dalam konteks seni kontemporer global. Pertunjukan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menghargai kehidupan dan menjaga keseimbangan jagad raya.
Menikmati Wayang Godong adalah pengalaman sensorik dan batiniah. Audiens diajak untuk hidup selaras dengan alam, merasakan suasana yang sarat makna, dan terlibat dalam perenungan. Filosofi "Godong" atau daun resonan dengan istilah Jawa "cadong" (nyadong), yang berarti memohon atau berdoa kepada Sang Pencipta. Saat dedaunan digerakkan, muncul sensasi spiritual seolah alam semesta sedang berzikir. Tokoh-tokoh yang ditampilkan sering merepresentasikan rakyat kecil dan kehidupan sehari-hari, dengan ukuran kecil yang mengajak penonton merefleksikan diri. Pertunjukan ini juga berfungsi sebagai media dialog untuk isu sosial dan lingkungan. Kesiapan mental dan spiritual dalang sangat memengaruhi pengalaman penonton, dengan wejangan yang tidak membosankan dan persiapan pementasan yang melibatkan simbolisme tradisional seperti daun sirih.
Secara visual, Wayang Godong memiliki estetika yang khas dan berbeda dari wayang kulit atau golek. Material utamanya adalah dedaunan alami, khususnya daun cengkeh dan daun kopi yang telah mengering, yang mempertegas hubungan dengan lingkungan sekitar desa Salaman, Magelang. Tekstur alami daun kering memberikan karakteristik eksotis sekaligus rapuh. Untuk menambah kekokohan dan tampilan estetika, Gus Pur mencampurkan material fiber. Setiap figur wayang diukir dan dilukis dengan detail presisi. Ukuran tokoh yang kecil menjadi ciri visual dominan, mencerminkan filosofi merendahkan diri dan keberpihakan pada rakyat jelata. Dedaunan itu sendiri kerap diposisikan sebagai karakter aktif di panggung. Instrumen visual paling sakral adalah Gunungan, yang melambangkan jagad raya atau alam semesta dan konsep Kawitan (asal-usul kehidupan), sering diintegrasikan dengan tafsir ayat-ayat suci.
Wayang Godong dianggap sebagai seni kontemporer karena lahir dari riset akademik mendalam. Kemunculannya sekitar tahun 2010 berakar dari disertasi doktoral Gus Pur. Unsur kontemporer yang menonjol adalah pergeseran narasi; Wayang Godong tidak berfokus pada epos klasik, melainkan mengangkat tema pelestarian ekologis, kesadaran lingkungan, dan isu sosial masa kini. Pertunjukan ini berfungsi sebagai media dakwah transformatif melalui konsep "Ngidak Sawah" (menginjak sawah), yang mencerminkan aksi seniman dalam merawat tradisi dan memberikan pendampingan sosial di desa-desa. Pendekatan regenerasi juga bersifat terencana dan modern, dengan anak-anak Gus Pur menempuh pendidikan formal di bidang pedalangan. Gus Pur juga mendidik dengan cara adaptif, memisahkan konsep matang dengan eksekusi spontan namun terarah. Kesenian ini mengintegrasikan tafsir ayat-ayat suci untuk memperkuat pesan moral, menciptakan harmoni nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.
Sumber: https://borobudurwriters.id/kronik-budaya-dan-sejarah/wayang-godong-di-tengah-seni-kontemporer-global
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
<g Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiri... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |