×

Akun anda bermasalah?
Klik tombol dibawah
Atau
×

DATA


Kategori

Blanjong Jejak Kemenangan Sri Kesari Warmadewa

Elemen Budaya

Cerita Rakyat

Blanjong Jejak Kemenangan Sri Kesari Warmadewa BALI

Tanggal 26 Dec 2018 oleh Roro .

Blanjong Jejak Kemenangan Sri Kesari Warmadewa

Blanjong berasal dari dua kata, yakni belahan dan ngenjung.

Belahan berarti pecahan, sedangkan ngenjung adalah isti­lah dalam Bahasa Bali Alus yang berarti ka­pal nelayan. Be­rawal ke­tika peca­han kapal Belanda terdampar pertama kali di pe­sisir Sanur, yang tepat­nya kini di pesisir Blanjong. Peristi­wa inilah yang menjadi awal sejarah nama Blanjong.

Blanjong adalah nama daerah di Desa Intaran, Sanur, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Bali. Di daerah ini juga ditemukan Prasasti Pilar tepatnya di dekat Banjar Blanjong. Kemu­dian prasasti tersebut diberi nama Prasasti Blanjong.

“Prasasti Blanjong melambangkan tugu kemenangan,” ungkap Mangku Segara. Beliau seorang pemangku (sebutan orang suci di Bali-red) yang senan­tiasa menemani para wisatawan asing maupun lokal yang berkun­jung ke Cagar Budaya Prasasti Blanjong.

Blanjong merupakan tonggak kemenangan ketika Sri Ke­sari Warmadewa memimpin Bali.

Uniknya, Prasasti Blanjong memakai bahasa bilingual yakni Bahasa Bali Kuno yang ditulis den­gan huruf Pra–Negari serta Bahasa Sansekerta yang ditu­lis menggu­nakan huruf Kawi. Dalam prasasti tersebut, tertulis: “Pada tahun 835 çaka Bu­lan Phalguna, seorang raja yang mempu­nyai kekua­saan di selu­ruh penjuru dunia berista­na di Keraton Sanghadwala, bernama Çri Kesari telah mengalahkan musuh-mu­suhnya di Gurun dan di Swal. Inilah yang harus diketahui sampai kemudian hari.”

Juru Kunci
Berdasarkan isi prasasti tersebut diketahui pengukuhan Prasasti Blan­jong terjadi pada tahun 835 Saka. Dalam pemeliharannya Prasasti Blanjong sempat mengalami pemugaran beberapa kali. Prasasti dengan tinggi 177 cm dan diameter 62 cm ini, menarik wisa­tawan asing dan domestik untuk mengunjungi jejak–jejak sejarah Bali Kuno.

Hingga Prasasti Blanjong yang ditempatkan dalam lemari kaca akhirnya. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata mengeluar­kan Undang–undang perlindungan Nomor 11 Tahun 2010 dan mene­tapkan Prasasti Blanjong sebagai salah satu cagar budaya di Bali.

Prasasti Blanjong kini di­tempatkan pada sebuah lemari besar yang ter­buat dari kaca. Bertu­juan agar prasasti terse­but dapat dilihat dari luar dengan leluasa. Tetapi tak banyak orang yang boleh masuk ke dalam lemari kaca terse­but. Hanya sang juru kunci yaitu Mangku Segara yang memiliki wewenang. Terlihat pula masyarakat setem­pat yang sedang meng­haturkan sesaji berupa canang sari (salah satu jenis persem­bahan masyarakat Hindu-red) un­tuk menghormati prasasti tersebut.

Kini jejak–jejak pemerintah­an Sri Kesari Warmadewa ini sudah terawat cukup apik. Dilindungi pula oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Wilayah Kerja Provinsi Bali, NTT dan NTB. Tepat di sebe­lah kiri lemari kaca terdapat sebuah meja yang di atasnya tampak se­buah buku kunjungan serta sebuah buku yang menerangkan tentang isi dari Prasasti Blanjong tersebut.

Sebenarnya, Prasasti Blanjo­ng berada pada sebuah lingkungan pura. Pura tersebut bernama Pura Blanjong. Selain Prasasti Blanjong, di pura tersebut juga dapat ditemu­kan beberapa arca peninggalan dari pemerintahan Sri Kesari Warmade­wa.

Arca yang paling populer adalah Arca Ganesha yang kini disimpan di areal Pura Blanjong. Sedangkan arca lain hanya bersifat frag­matis dikarenakan penggambaran­nya kurang jelas dan yang tersisa hanya beberapa bagian. Sementara arca lain, seperti Arca Perwujudan yang kini sudah dipindahkan ke Museum Bali meng­gambarkan seorang Dewi yang berdiri tegak dengan bentuk wajah bulat telur, mengenakan mahkota yang bertingkat, serta perhiasan seperti anting dan kalung. Diduga arca ini adalah perwujudan dari permaisuri Sri Kesari Warmadewa.

Setali tiga uang dengan Arca Per­wujudan, Arca Terakota dan Arca Binatang kini juga disimpan di Museum Bali dengan kode yang terpisah. Hal ini bertujuan agar peninggalan budaya dapat disatu­kan dalam satu tempat.

 

https://balebengong.id/kabar/blanjong-jejak-kemenangan-sri-kesari-warmadewa.html?lang=id

DISKUSI


TERBARU


Baju Bodo

Oleh Kyas1 | 05 Sep 2026.
Pakaian Tradisional

Deskripsi Baju Bodo adalah pakaian segi empat yang umumnya berlengan pendek, hingga setengah atas bagian siku lengan. Dulunya, pakaian ini seringkal...

Pakaian Adat Re...

Oleh Kyas1 | 05 Sep 2026.
Pakaian Tradisional

Deskripsi Pakaian Adat Rejang Lebong adalah busana tradisional khas Bengkulu yang merupakan perpaduan budaya Melayu dari berbagai daerah seperti Jam...

Balla To Kajang

Oleh Kyas1 | 05 Sep 2026.
Produk Arsitektur

Deskripsi Balla To Kajang, atau Rumah Kajang, adalah rumah tradisional masyarakat adat Kajang di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Desainnya memiliki cir...

Rumah Adat Lang...

Oleh Kyas1 | 05 Sep 2026.
Produk Arsitektur

Deskripsi Rumah adat Langkanae Luwu adalah rumah panggung berbentuk persegi empat yang memiliki tiga tingkatan. Bentuk persegi empat mencerminkan em...

Rumah Adat Sumb...

Oleh Kyas1 | 05 Sep 2026.
Produk Arsitektur

Struktur & Bagian Rumah adat Sumba memiliki pemisahan ruang secara vertikal dan horizontal. Secara vertikal, dibagi menjadi tiga bagian yang men...

FITUR


Gambus

Oleh agus deden | 21 Jun 2012.
Alat Musik

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua...

Hukum Adat Suku...

Oleh Riduwan Philly | 23 Jan 2015.
Aturan Adat

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal...

Fuu

Oleh Sobat Budaya | 25 Jun 2014.
Alat Musik

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud...

Ukiran Singa Ba...

Oleh hokky saavedra | 09 Apr 2012.
Ornamen Arsitektural

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai...