×

Akun anda bermasalah?
Klik tombol dibawah
Atau
×

DATA


Kategori

Cerita Rakyat

Elemen Budaya

Cerita Rakyat

Provinsi

Sulawesi Utara

Asal Daerah

Sulawesi Utara

Mangopas (Mengail)

Tanggal 24 Dec 2018 oleh Admin Budaya.

Di sebuah desa, Remboken namanya tinggallah dua orang bersahabat karib. Mereka pandai membuat kail. Pekerjaan mereka, sehari-hari adalah mengail.

Suatu waktu, sahabat karib itu bersama-sama pergi mengail, ternyata di antara kedua kail itu, hanya satu yang selalu membawa hasil. Setiap kail itu dilemparkan ke air segera saja ditelan ikan. Sedangkan kail milik yang seorang lagi, walaupun telah berulang kali dilemparkan, tidak pernah disambar ikan.

Pada suatu hari, pemilik kail yang tidak pernah membawa hasil itu, menemui kawannya untuk meminjam kail. Katanya : ”Sahabatku, bolah saya pinjam kailmu? “Jawab sahabatnya : “O, boleh saja sahabatku tetapi ada syaratnya. Apabila kail itu hilang atau putus, harus dicari lalu dikembalikan. Sama sekali tidak dapat diganti dengan kail lain.

“Oh, tidak apa-pa, jangan kuatir, “Jawab sahabatnya itu, lalu kail itu dibawanya pergi. Setibanya di tempat mengail kail itu dilemparkan dan segera dimakan ikan. Pada saat talinya ditarik, tiba-tiba tali kail itu putus, dan kail hilang dibawa oleh ikan. Pulanglah si peminjam kail itu ke rumah sahabatnya untuk memberitahukan apa yang terjadi pada dirinya. “Hai sahabatku, dengan sangat menyesal kukatakan kepadamu bahwa kailmu hilang dibawa lari oleh ikan. “Si pemilik kail itu menjawab: “Sahabatku, seperti yang telah kukatakan tadi, apabila kail itu hilang, harus dicari sampai ketemu”.

Walaupun dengan hati yang berat, berangkatlah si peminjam kail itu untuk mencari kail guna menepati janjinya. Ia menuju ke tempat di mana kail itu hilang tadi. Ia menyelam ke dalam air, semakin lama semakin dalam. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat bahwa ia telah berada di dasar yang tidak berair lagi, sunyi sekali. Ia berjalan ke sana ke mari di tempat itu.

Sementara ia berjalan, nampaklah olehnya dua orang wanita sedang menumbuk padi. Kepada kedua wanita itu bertanya, “Mengapakah daerah ini sangat sunyi?” maka dijawab oleh wanita-wanita itu : “Ada suatu kejadian (menyedihkan) yang telah terjadi di sini. Yaitu anak raja (sang puteri) sedang menderita sakit keras, tidak ada harapan untuk sembuh lagi. Namun kata sang raja, barang siapa dapat menyembuhkan anaknya, ialah yang akan kawin dengan sang putri”. Ia meminta agar kedua wanita itu mengantarkannya ke tempat sang raja, guna menyaksikan puteri yang sakit. Sesudah memberi salam kepada sang raja, maka ia berkata: “Hamba sanggup menyembuhkan penyakit tuan puteri, tetapi izinkan hamba menemuinya.”

Lalu ia masuk untuk melihat si sakit. Ketika ia melihat bahwa leher puteri itu membengkak, maka ia meminta agar puteri membukakan mulutnya, “Bukalah mulutmu”. Ketika puteri membuka mulutnya, ternyata ada kail yang tersangkut di tenggorokannya. Ternyata kail itu adalah kail yang dicari-cari olehnya. Lalu, orang yang berada di dalam kamar sang puteri dimintanya keluar karena sang puteri akan diobatinya.

Begitu mereka keluar, termasuk ayah dan ibu sang puteri, maka dikeluarkannyalah kail dari mulut sang puteri. Kail itu cepat-cepat dimasukkannya ke dalam kantong baju. Begitu kail dikeluarkan, maka sang puteri langsung sembuh. Ketika melihat anaknya sembuh, maka sang raja berkata : “Telah kuumumkan bahwa barang siapa yang dapat menyembuhkan anakku, ia akan kujodohkan dengan anakku.” Maka kawinlah orang itu dengan sang puteri.

Entah sudah berapa lama hidup menjadi suami isteri, mereka mohon diri kepada raja dan permaisuri untuk pergi ke kampung halaman suami. Permintaan mereka dikabulkan. Maka pulanglah mereka melalui jalan yang dilalui sang suami ketika masuk dahulu. Pada saat mereka tiba di tempat yang berair, tiba-tiba dilihatnya sang puteri sudah berubah menjadi seekor ikan gabus. Tetapi sang suami tahu bahwa tak mungkin ikan itu dibawa ke darat. Iapun berjalanlah sendiri langsung menuju ke rumah sahabat karibnya.

Ketika tiba di sana, ia berkata : “Hai sahabatku, inilah kailmu itu. “Jawab sahabatnya : “Terima kasih sahabatku, penghargaanku yang besar menyertaimu karena ternyata engkau berhasil menemukan kembali kailku ini”.

Tetapi si peminjam kail itu, hatinya tetap menyimpan dendam walaupun dia sudah mengambalikan kail tersebut. Ia menuju kembali ke tempat pemandian. Diambilnya sebatang pohon pisang, ditanamnya di tempat itu, lalu disumpahinya : “Hai pisang, kupohonkan dengan sangat, apabila sahabatku suatu waktu berjalan tepat di tempat engkau ini ditanam, maka turunkanlah hujan lebat“.

Pada suatu waktu ketika sahabatnya melalui tempat itu sambil membawa kail, disandarkannya kailnya ke pohon pisang itu karena hendak mandi. Begitu ia menyandarkan kailnya ke pisang, tiba-tiba hujan lebatpun turun. Tanpa berpikir panjang, si pemilik kail lalu memotong sehelai daun pisang untuk dijadikan sebagai payung. Perbuatan ini disaksikan oleh sahabatnya.

Lalu katanya kepada sahabat pemilik kail itu : “Pisang itu adalah milikku. Saya kira kau tahu, bukan? Nah sekarang, kembalikan daun yang telah kau potong itu pada batang-tangkainya lagi, tetapi jangan sampai layu. Hal ini sama dengan apa yang pernah kau lakukan terhadapku dulu takkalah kailmu hilang”.

Berulang-ulang kali si pemilik kail berusaha memasang kembali helai daun yang telah dipotongnya itu, namun sia-sia saja. Lalu kata si pemilik kail kepada sahabatnya, katanya : “Sahabatku, aku tidak sanggup melakukannya. Sekarang, apa saja yang mau kau lakukan terhadapku, aku akan menerimanya”.

Lalu kata si pemilik pohon pisang itu : “Mulai sekarang engkau menjadi pengikutku karena engkau telah menjadi budakku. Dan mulai saat ini, apa yang tidak boleh kau lakukan terhadapku, tidak boleh juga kau lakukan terhadap orang lain”.

Cerita ini mendidik orang agar berhati-hati memelihara suasana persahabatan, karena persahabatan sewaktu-waktu dapat terputus apabila salah seorang diantaranya lebih mementingkan diri sendiri.

Apabila kita ingin diperlakukan dengan baik, oleh orang lain maka berlaku baik pulalah kepada orang.

 

 

sumber:

  1. Situs Kemendikbud (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbsulut/mangopas-mengail/)

DISKUSI


TERBARU


Baju Bodo

Oleh Kyas1 | 05 Sep 2026.
Pakaian Tradisional

Deskripsi Baju Bodo adalah pakaian segi empat yang umumnya berlengan pendek, hingga setengah atas bagian siku lengan. Dulunya, pakaian ini seringkal...

Pakaian Adat Re...

Oleh Kyas1 | 05 Sep 2026.
Pakaian Tradisional

Deskripsi Pakaian Adat Rejang Lebong adalah busana tradisional khas Bengkulu yang merupakan perpaduan budaya Melayu dari berbagai daerah seperti Jam...

Balla To Kajang

Oleh Kyas1 | 05 Sep 2026.
Produk Arsitektur

Deskripsi Balla To Kajang, atau Rumah Kajang, adalah rumah tradisional masyarakat adat Kajang di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Desainnya memiliki cir...

Rumah Adat Lang...

Oleh Kyas1 | 05 Sep 2026.
Produk Arsitektur

Deskripsi Rumah adat Langkanae Luwu adalah rumah panggung berbentuk persegi empat yang memiliki tiga tingkatan. Bentuk persegi empat mencerminkan em...

Rumah Adat Sumb...

Oleh Kyas1 | 05 Sep 2026.
Produk Arsitektur

Struktur & Bagian Rumah adat Sumba memiliki pemisahan ruang secara vertikal dan horizontal. Secara vertikal, dibagi menjadi tiga bagian yang men...

FITUR


Gambus

Oleh agus deden | 21 Jun 2012.
Alat Musik

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua...

Hukum Adat Suku...

Oleh Riduwan Philly | 23 Jan 2015.
Aturan Adat

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal...

Fuu

Oleh Sobat Budaya | 25 Jun 2014.
Alat Musik

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud...

Ukiran Singa Ba...

Oleh hokky saavedra | 09 Apr 2012.
Ornamen Arsitektural

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai...