|
|
|
|
|
|
Mitos Gua Margo Tresna di Kabupaten Nganjuk Tanggal 16 Aug 2018 oleh OSKMITB2018_16018017_LUTHFIANA RAHMAWATI. |
MITOS GUA MARGO TRESNA NGANJUK
Gua Margo Tresna, merupakan salah satu tempat periwisata yang berada di Kabupaten Nganjuk. Gua ini terletak di di Desa Sugihwaras Kecamatan Ngluyu 35 Km arah utara pusat Kota Nganjuk.
Nama Gua ini berasal dari Bahasa Jawa, yakni margo dan tresna. Margo memiliki arti sebuah jalan, sedangkan tresna berarti cinta. Tentu nama gua ini tidak diabil secara cuma-cuma. Ada sebuah cerita dibalik pemberian nama gua ini. Konon pada zaman Perang Pajang, kawasan Gua Margo Tresna menjadi tempat persembunyian seorang penggowo yang bernama Tlimah. Penggowo tersebut memiliki kesaktian untuk melindungi dan menjaga masyarakat dari segala ancaman yang ada. Karena kekuatan penggowo yang akhirnya menciptakan kedamaian dan ketentraman tersebut, akhirnya muncul kepercayaan bahwa Gua Margo Tresna merupakan tempat yang tepat untuk melakukan kegiatan lamun-lamun. Mulai mengolah pikiran, mencari inovasi, serta ketentraman hati. Termasuk pula perihal percintaan. Konon terdapat mitos apabila seseorang yang urusan rumah tangga / percintaan sedang tidak berjalan baik kemudian datang ke Gua Margo Tresna, maka urusan percintaannya menjadi lebih baik.
Mitos Gua Margo Tresna ini juga diperkuat dengan legenda diamana ada seorang petani yang memiliki anak tunggal bernama Djoko Drono. Ketika Djoko Drono menginja dewasa, petani dan istrinya tersebut meminta Djoko untuk menikah. Djoko pun mengatakan bahwa ia ingin menikah dengan seorang gadis yang sangat dicintainya selama ini, yang juga merupakan anak dari paklik dan buliknya, yakni Yuwati. Orang tua Djoko menyetujui permintaannya dan segera melamar Yuwati. Singkat cerita, keduanya pun menikah.
Namun, meskipun pernikahan keduanya didasari cinta antara satu sama lain, tetap tak memungkiri terjadi ketidakharmonisan dalam bahligai rumah tangga mereka. Djoko dan Yuwati tidak rukun, bahkan mereka tinggal terpisah di rumah orang tua mereka masing-masing. Kejadian ini terjadi selama berbulan-bulan. Melihat kenyataan pahit tersebut, kedua orang tua Djoko dan Yuwati mencari bantuan orang pintar tetapi tak membuahkan hasil. Djoko yang sebenarnya masih mencintai Yuwati pun tak ingin berpisah dengannya. Djoko pun selalu meminta petunjuk Tuhan supaya rumah tangganya kembali rukun. Siang, malam, tak henti Djoko berdoa.
Hingga akhirnya Djoko mendapat petunjuk bahwa ia harus pergi ke Gua Margo Tresna apabila ingin rumah tangganya kembali seperti semula. Ia pun segera menghubungi Yuwati untuk mengatur keberangkatan mereka. Akhirnya, pada hari yang telah ditentukan, Djoko dan Yuwati bersama-sama masuk ke dalam Gua Mrgo Tresna. Sementara orangtua Yuwati dan Djoko menunggu mereka di luar gua.
Betapa mengejutkankannya, setelah menunggu beberapa lama, orangtua Yuwati dan Djoko menyaksikan Djoko dan Yuwati keluar dari dalam gua dengan bergandengan tangan serta wajah yang sumringah. Dan semenjak itu, kehidupan rumah tangga Djoko dan Yuwati selalu rukun dan harmonis. Masyarakat sekitar gua tersebut percaya, bahwa gua tersebut atas izin Tuhan Yang Maha Esa membawa kerukunan dan ketrentaman hati. Oleh karena itu, mereka menamai gua tersebut Margo Tresna.
Referensi :
https://budayajawa.id/mitos-goa-margo-tresno-ngluyu-nganjuk/
https://jawatimuran1.wordpress.com/2013/12/21/goa-margo-trisno-kabupaten-nganjuk/
http://indosemut.blogspot.com/2011/07/berita-pariwisata.html
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |