|
|
|
|
|
|
Songket Beratan Tanggal 30 Dec 2018 oleh Sri sumarni. |
Tradisi menenun kain songket di Kelurahan Beratan terkait dengan konsep agaluh agandring sebagai satu kesatuan mata pencaharian di dalam keluarga inti. Konsep agaluh adalah perempuan bekerja sebagai penenun kain songket untuk mata pencaharian. Konsep agandring adalah laki-laki yang mengerjakan kerajinan emas dan perak sebagai mata pencaharian. Profesi agaluh masih tetap berlangsung sampai saat ini. Ciri khas hasil produksi kain tenun songket di Kelurahan Beratan adalah sebagai berikut: 1) Motif dan ragam hias didominasi penggunaaan motif klasik, 2) Motif dibuat dengan ukuran benang emas yang lebih kecil sehingga renyep (rapat dan indah) dan kerep (rapat dan halus), 3) Menggunakan benang halus sehingga songket menjadi ringan, tidak berat dipakai, 4) Antara basang (bagian dalam kain) dan tundu (bagian luar kain) tidak menampakkan perbedaan yang mencolok.
Jenis-jenis kain songket yang terdapat di daerah Bali yang termasuk pula yang terdapat di Kelurahan Beratan terdiri atas empat jenis: a) Udeng (ikat kepala atau destar) songket, berbentuk lembaran segi empat bujur sangkar dengan ragam hias terletak pada bagian pinggir, b) Senteng atau rateng (selendang songket), berbentuk segi empat panjang digunakan sebagai pengikat pinggang dan penutup dada kaum perempuan, c) Saput atau kampuh songket, berbentuk segi empat bujur sangkar, digunakan oleh laki-laki sebagai penutup kain panjang. d) Kamben (kain panjang) songket.
Songket Beratan memiliki fungsi keagamaan, yakni sebagai pakaian yang digunakan dalam upacara keagamaan. Fungsi sosial budaya, yakni songket dapat dipergunakan untuk menyama braya (ikatan persaudaraan atau persahabatan). Fungsi ekonomi, kain songket sebagian besar didesain dan diproduksi untuk kepentingan pasar. Selain fungsi yang telah disebutkan, kain songket Beratan juga memiliki makna: 1) Makna sakral yang tampak dalam motif sakral, seperti motif boma; 2) Makna kesetaraan yang memberi hak kepada semua lapisan masyarakat Bali untuk memproduksi dan menggunakan kain songket; 3) Makna kesejahteraan, hasil tenun songket dapat digunakan sebagai sumber penghasilan; 4) Makna kreativitas, merupakan kreativitas dari para seniman atau desainer; 5) Makna pelestarian, tenun songket Beratan sebagai peninggalan budaya perlu dipertahankan; 6) Makna identitas, songket dapat mengkomunikasikan tentang jatidiri maupun status seseorang; 7) Makna estetika, tampak dalam motif-motif yang kini semakin langka.
Sumber : Buku Pentapan WBTB 2018
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |