|
|
|
|
|
|
Bangun Kali Sarayu Tanggal 25 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Setelah memenangkan sayembara memperebutkan Dewi Drupadi, para Pandawa dan Dewi Kunti diundang kembali ke Kerajaan Hastina. Raden Kurupati menolak mengembalikan kedudukan putra mahkota kepada Raden Puntadewa, sehingga diadakan sayembara baru: memetik buah jambu lima warna, menimbang kedua pihak dengan traju, dan menggali sungai yang menghubungkan Pegunungan Dihyang dengan Laut Selatan. Prabu Drupada di Kerajaan Cempalareja memimpin pertemuan yang dihadiri Dewi Kunti dan para Pandawa. Dewi Kunti mohon pamit untuk memboyong Dewi Drupadi, istri Raden Puntadewa, ke Gunung Saptaarga, tinggal bersama Bagawan Abyasa. Prabu Drupada menawarkan pembangunan istana, namun ditolak halus oleh Raden Puntadewa dan Dewi Kunti, yang ingin putra-putranya mendapat kemuliaan dari hasil kerja keras. Adipati Yamawidura datang sebagai utusan Prabu Dretarastra untuk menjemput Dewi Kunti, para Pandawa, dan Dewi Drupadi pulang ke Hastina. Yamawidura menjelaskan bahwa Resiwara Bisma sebelumnya bertapa setelah mendengar kabar kebakaran istana Waranawata, dan Batara Narada-lah yang memberitahunya bahwa para Pandawa masih hidup dan telah memenangkan sayembara. Resiwara Bisma sangat marah atas ulah Kurawa yang mencoba membunuh Pandawa, sehingga Prabu Dretarastra terpaksa mengundang mereka pulang. Dewi Kunti awalnya keberatan karena ulah Patih Sangkuni dan Kurawa, namun bersedia setelah Yamawidura berjanji akan melindungi mereka dan mengizinkan singgah di Gunung Saptaarga untuk meminta restu Bagawan Abyasa. Keesokan harinya, rombongan Dewi Kunti, para Pandawa, Dewi Drupadi, dan para panakawan mohon pamit kepada Prabu Drupada dan Dewi Gandawati. Prabu Drupada memberikan nasihat kepada Dewi Drupadi. Diam-diam, Dewi Srikandi dan Raden Permadi memiliki rasa saling suka. Rombongan kemudian berangkat meninggalkan Kerajaan Cempalareja, dikawal Patih Drestaketu sampai perbatasan. Para Kurawa dan Patih Sangkuni di Hastina kesal mendengar berita keselamatan Pandawa dan kemenangan sayembara. Raden Kurupati ingin menggempur Cempalareja, namun dicegah Patih Sangkuni, yang menilai Kurawa sudah kalah dari Raden Bratasena sebelumnya. Patih Sangkuni merencanakan untuk mengirim surat kepada para raja yang dulu melamar Dewi Drupadi, meminta mereka menghadang dan membunuh Pandawa di tengah jalan. Para raja yang menerima surat itu, dipimpin Prabu Suradenta dari Kerajaan Bataputih, menghadang rombongan Pandawa. Adipati Yamawidura memerintahkan Patih Jayasemedi dan prajurit Pagombakan untuk melawan, namun terdesak. Raden Bratasena dan Raden Permadi turun tangan, menyebabkan banyak raja tewas dan sisanya melarikan diri. Sesuai rencana, rombongan Pandawa singgah di Gunung Saptaarga. Mereka menghormat Bagawan Abyasa, dan Dewi Kunti memperkenalkan Dewi Drupadi. Bagawan Abyasa memberikan restu dan nasihat agar Pandawa waspada terhadap tipu muslihat Patih Sangkuni, yang disebut sebagai titisan Resi Dwapara. Bagawan Abyasa kemudian menceritakan tentang pusaka-pusaka warisan keluarga Saptaarga: Pustaka Jamus Kalimahusada, Payung Tunggulnaga, Tombak Karawelang, Panah Sarotama, dan Panah Ardadadali.
Sumber: http://albumkisahwayang.blogspot.co.id/2016/09/bangun-kali-sarayu.html
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |