|
|
|
|
|
|
Benteng Van Der Capellen Tanggal 02 Aug 2026 oleh Kyas1 . |
Benteng Van der Capellen adalah benteng peninggalan Belanda yang berlokasi di Kampung baru Nagari Baringin, Kecamatan Lima Kaum, Batusangkar, Sumatera Barat. Nama benteng ini juga merupakan nama lama Batusangkar, diambil dari nama seorang jenderal Belanda bernama Godert Alexander Gerard Philip baron van der Capellen. Bangunan benteng pertahanan ini didirikan antara tahun 1822 hingga 1826. Saat ini, benteng ini telah masuk dalam daftar benda cagar budaya di Tanah Datar dan beberapa bagiannya telah direnovasi untuk dikembalikan ke bentuk aslinya. Gerbang utama benteng ini bertuliskan "Benteng Van Der Capellen".
Keberadaan Benteng Van der Capellen tidak terlepas dari Perang Padri yang terjadi sekitar tahun 1821, antara Kaum Adat dan Kaum Agama. Kaum Adat meminta bantuan Belanda untuk melawan gerakan Paderi. Pasukan Belanda membangun benteng ini di tempat tertinggi di pusat kota Batusangkar. Dengan adanya benteng permanen dan strategis ini, Belanda secara militer dan politis dapat lebih mudah menguasai wilayah sekitar Batusangkar. Benteng ini menjadi simbol beratnya perjuangan kolonial Belanda di Tanah Datar dan digunakan untuk memadamkan gerakan Kaum Agama serta menguasai secara politis kawasan tersebut.
Benteng ini dibangun oleh Belanda setelah mereka memasuki Tanah Datar pada tahun 1821 atas permintaan Kaum Adat dalam Perang Padri. Pembangunan berlangsung antara tahun 1822-1826. Keberadaan Belanda di Batusangkar berlanjut hingga meletusnya Perang Dunia II. Setelah Jepang merebut Sumatera Barat pada tahun 1943, Belanda meninggalkan Batusangkar dan Benteng Van der Capellen dikuasai oleh Badan Keamanan Rakyat (BKR) dari tahun 1943-1945. Setelah kemerdekaan Indonesia, benteng ini dikuasai oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) hingga tahun 1947. Pada Agresi Belanda II (1948-1950), benteng kembali dikuasai Belanda. Setelah Belanda pergi, benteng dimanfaatkan oleh PTPG (cikal bakal IKIP Padang/UNP) untuk proses belajar mengajar sampai tahun 1955. Kemudian, benteng ini dijadikan markas Angkatan Perang Republik Indonesia. Selama peristiwa PRRI tahun 1957, benteng dikuasai Batalyon 439 Diponegoro, lalu diserahkan kepada Polri pada 25 Mei 1960 dan ditetapkan sebagai Mapolres Tanah Datar hingga tahun 2000. Sejak tahun 2001, benteng ini dikosongkan setelah Mapolres pindah. Sebagian bangunan direnovasi pada tahun 2008 dan 2009 untuk mengembalikan bentuk aslinya dan dijadikan Kantor Dinas Budaya Pariwisata Pemuda dan Olahraga serta Kantor Kawartir Cabang Gerakan Pramuka Tanah Datar. Pada tahun 2010, benteng ini menjadi sekretariat Panitia Penyelenggaraan Jambore Budaya Serumpun Indonesia dan Malaysia.
Sumber: https://yhohannesneoldy.wordpress.com/2013/11/23/benteng-van-der-capellen-yang-terlupakan
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |