|
|
|
|
|
|
Bima Dan Arimbi (kidung Malam 74) Tanggal 25 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Bima, seorang kesatria gagah perkasa, terpana melihat Arimbi yang telah menjelma menjadi wanita cantik. Arimbi yang telah lama memendam cinta pada Bima bersimpuh dan memeluk kaki Bima. Meskipun ada gejolak hati, Bima berusaha menjaga citranya sebagai kesatria. Keluarga Pandawa, termasuk Kunthi dan Puntadewa, merasa senang melihat kedekatan mereka dan setuju bahwa Bima dan Arimbi adalah pasangan yang serasi. Setelah Arimbi mencium kaki Bima, Bima merasa bergetar dan menarik Arimbi berdiri. Hubungan mereka semakin intim selama pengembaraan di hutan Waranawata. Kunthi, ibu para Pandawa, memastikan bahwa tidak ada keberatan dari Puntadewa, kakak sulung Bima, mengenai rencana pernikahan Bima dengan Arimbi. Puntadewa dengan ikhlas menyetujui adiknya menikah dengan dua istri. Kunthi kemudian mengumpulkan seluruh anggota keluarga untuk meresmikan hubungan Bima dan Arimbi menjadi suami istri, mengingat ikatan asmara di antara keduanya. Pernikahan sederhana pun dilaksanakan. Perkawinan Bima dengan Arimbi yang berbangsa raksasa, menyusul pernikahannya dengan Nagagini bangsa ular, melambangkan kemampuan Pandawa Lima untuk bersatu dengan semua golongan. Bima, dengan sifatnya yang jujur dan sederhana, menerima takdir hidupnya. Arimbi menganggap Bima adalah segalanya dan merasa sangat beruntung bersanding dengannya. Namun, kebahagiaan Arimbi juga dibayangi kesedihan karena gugurnya kakaknya, Arimba, demi cintanya kepada Bima. Arimbi merasa tidak rela dianggap membunuh kakaknya, karena ia hanya berniat membela yang lemah dan tidak menyadari bahwa saran untuk menusuk pusar Arimba akan berakibat fatal pada waktu bedug tengange. Beberapa bulan setelah pernikahan, Arimbi memberitahu Bima bahwa ia hamil dan berharap memiliki anak laki-laki yang kelak dapat mewarisi Negara Pringgondani.
Cerita ini menyiratkan pesan tentang penerimaan perbedaan dan persatuan antar golongan, seperti yang ditunjukkan oleh pernikahan Bima dengan wanita dari bangsa raksasa dan ular. Bima juga digambarkan sebagai sosok yang patuh pada takdir dan menjalani hidup dengan kesederhanaan dan kejujuran.
Sumber: https://wayang.wordpress.com/2011/02/28/kidung-malam-74-bima-dan-arimbi
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |