|
|
|
|
|
|
Brem Tanggal 26 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Brem adalah produk fermentasi tradisional yang berasal dari Jawa dan Bali, mencerminkan sejarah kuliner Nusantara yang panjang. Di Bali, brem hadir sebagai minuman ritual, sedangkan di Jawa, khususnya Madiun, brem dikenal sebagai camilan padat. Produk ini membuktikan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia telah menguasai ilmu fermentasi jauh sebelum bioteknologi dikenal luas.
Brem pertama kali muncul di Jawa sekitar abad ke-10 Masehi, dengan jejak yang ditemukan dalam prasasti dan karya sastra Jawa kuno yang menyebut minuman fermentasi berbahan dasar beras. Tradisi minuman fermentasi ini telah ada sejak lama di Nusantara, seperti yang ditunjukkan oleh relief Candi Borobudur abad ke-9 yang menggambarkan aktivitas konsumsi minuman. Ketika pengaruh agama Hindu dan Buddha berkembang di Jawa, pengolahan beras ketan ikut menyebar. Perpindahan komunitas dari Jawa ke wilayah timur Nusantara membawa praktik fermentasi, yang kemudian berkembang menjadi brem cair di Bali dan brem padat di Jawa Timur. Penemuan brem padat diyakini berawal di wilayah Caruban, Kabupaten Madiun, khususnya Desa Bancong dan Kaliabu, yang merupakan sentra pengolahan ketan. Cerita yang beredar menyebutkan bahwa brem padat ditemukan secara tidak sengaja dari air sisa fermentasi tape ketan yang dimasak dan dikeringkan. Nama "brem" sendiri diyakini berasal dari kata Jawa "peram" yang berarti proses pengeraman bahan makanan, yang kemudian mengalami perubahan pengucapan.
Brem dibuat melalui fermentasi beras ketan. Proses ini melibatkan penggunaan ragi tape yang mengandung berbagai jenis mikroba seperti ragi dan bakteri asam laktat. Mikroorganisme ini memecah pati dalam beras ketan menjadi gula sederhana, yang kemudian difermentasi lebih lanjut menghasilkan alkohol dalam jumlah kecil dan senyawa aromatik yang memberikan rasa khas. Untuk brem padat, cairan hasil fermentasi tape ketan diperas, lalu dimasak hingga mengental, kemudian dicetak dan dikeringkan. Selama proses pemanasan ini, sebagian besar alkohol menguap, membuat kandungan alkoholnya sangat rendah.
Di Bali, brem cair memiliki warna kemerahan atau keemasan, sering berasal dari beras ketan hitam, dan memiliki makna simbolis kuat dalam ritual keagamaan. Warna ini melambangkan kehidupan dan menjadi representasi simbolik pengganti darah dalam upacara tertentu, berfungsi sebagai medium komunikasi spiritual antara manusia dan alam semesta. Di Jawa, brem padat menjadi camilan khas dan oleh-oleh daerah. Secara umum, fermentasi brem juga menjadi solusi alami untuk mengolah hasil panen ketan yang melimpah agar tidak cepat rusak, meningkatkan daya simpan pangan, dan menciptakan rasa baru yang unik. Brem juga dianggap meningkatkan nilai gizi karena mikroorganisme fermentasi menghasilkan berbagai vitamin B dan senyawa antioksidan.
Pada masa kolonial Belanda, brem dianggap sebagai makanan yang relatif mewah di kalangan masyarakat desa karena proses pembuatannya yang membutuhkan waktu panjang dan keterampilan khusus. Pengetahuan pembuatan brem diwariskan melalui praktik langsung dalam keluarga dan komunitas, dipelajari sejak usia muda dengan membantu orang tua dalam proses produksi. Produk ini menciptakan nilai ekonomi lebih tinggi dan daya simpan lebih lama dari bahan sederhana ketan.
Sumber: https://www.ayojelajah.id/wisata-kuliner/08171947/hikayat-brem-dalam-lintasan-sejarah-kuliner-fermentasi-jawa-dan-bali
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |