|
|
|
|
|
|
Budaya Pembuatan Kapur Sirih Pulau Sugara Tanggal 25 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Budaya pembuatan kapur sirih di Pulau Sugara merupakan tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun sejak zaman Belanda, bahkan ratusan tahun silam. Pulau Sugara, yang secara administratif masuk Kabupaten Barito Kuala tetapi berdekatan dengan Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menjadi sentra produksi kapur sirih yang unik dan penting. Kapur sirih ini bukan berasal dari batu kapur, melainkan dari kulit kerang jenis kapah yang diolah melalui proses khusus. Industri rumahan ini didominasi oleh perempuan dan menjadi mata pencarian utama bagi banyak warga di sana. Meskipun jumlah perajin sempat menurun drastis, tradisi ini tetap bertahan karena tingginya permintaan dari berbagai daerah, bahkan hingga ke Pulau Jawa dan Sulawesi. Kapur sirih ini memiliki beragam kegunaan, mulai dari bahan makan sirih, penjernih air, campuran kue, bahan obat tradisional, hingga produk kosmetika dan kecantikan.
Bahan utama pembuatan kapur sirih adalah kulit kerang jenis kapah. Kulit kerang ini didatangkan dari berbagai daerah seperti Kuala Pembuang atau Kumai, Kalimantan Tengah, dengan harga Rp1 juta per ton. Proses pembuatannya melibatkan beberapa tahapan unik:
Kapur sirih dari Pulau Sugara dipasarkan secara luas ke berbagai wilayah di Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, bahkan mencapai Pulau Jawa dan Sulawesi. Setiap "belek" berukuran 20 liter (sekitar 25 kg) dijual seharga Rp65.000 kepada pedagang pengumpul. Meskipun perajin pernah mendapatkan permintaan hingga seribu belek per bulan dari perusahaan perkebunan, mereka hanya sanggup memproduksi sekitar 500 belek per bulan jika didukung modal dan bahan baku yang cukup. Omzet yang dihasilkan para perajin bisa mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah per bulan.
Tradisi "nyirih" yang menggunakan kapur sirih merupakan warisan budaya nenek moyang Indonesia. Bagi warga Pulau Sugara, "nyirih" adalah simbol tradisi masyarakat Melayu. Beberapa suku di Kalimantan seperti Banjar dan Dayak masih mempertahankan tradisi ini, bahkan menggunakan sirih dalam ritual adat. Kapur sirih tidak hanya untuk "nyirih", tetapi juga dimanfaatkan dalam pengobatan herbal, bahan baku obat dan produk kecantikan, penjernih air, serta campuran pembuat kue. Keberadaan sentra produksi kapur sirih ini juga menarik wisatawan yang ingin melihat langsung tradisi pembuatan yang telah berusia sekitar setengah abad ini.
Sumber: https://hasanzainuddin.wordpress.com/2017/03/24/budaya-pembuatan-kapur-sirih-pulau-sugara
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |