|
|
|
|
|
|
Debus Banten Tanggal 26 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Debus adalah kesenian khas Serang dan sekitarnya di Banten yang menampilkan atraksi kekebalan tubuh terhadap berbagai bahaya fisik seperti tusukan senjata tajam, irisan, api, dan benda keras. Pertunjukan ini bukan sekadar tontonan, melainkan produk sejarah panjang yang berkelindan dengan Islamisasi, politik perlawanan, tarekat, dan selera rakyat terhadap pertunjukan yang mendebarkan. Meskipun menampilkan aksi ekstrem, pemain debus melakukannya dalam keadaan sadar dan tidak dalam kondisi kesurupan massal. Di akhir pertunjukan, biasanya ada seorang syeh yang berfungsi sebagai penyembuh luka dengan doa dan sentuhan.
Sejarah debus Banten merupakan anyaman dari banyak versi. Diduga, kata debus berasal dari bahasa Arab "dabbus", yang berarti sejenis senjata besi runcing yang digunakan dalam atraksi. Salah satu pendapat menyebutkan debus sudah muncul pada masa Sultan Maulana Hasanuddin (abad ke-16 hingga ke-17), digunakan sebagai media dakwah Islam untuk menunjukkan kekuatan agama kepada masyarakat yang saat itu sebagian masih memeluk Hindu. Versi lain mengaitkan perkembangan pesat debus dengan masa Sultan Ageng Tirtayasa sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonial Belanda, di mana ilmu kebal diyakini dapat meningkatkan moral tempur. Beberapa pelaku seni di Serang juga mengaitkannya dengan kesenian lokal bernama Al Madad yang bermakna pertolongan atau kekuatan dalam bahasa Arab, di mana seruan "al madad" dijawab dengan "ada" oleh para pemain. Legenda setempat menghubungkan Al Madad dengan kisah Prabu Pucuk Ulum yang lalim dan penaklukan oleh Sultan Maulana Hasanuddin tanpa pertumpahan darah, setelah itu kesenian ini berkembang sebagai media dakwah dan hiburan.
Debus sangat terkait dengan ajaran tasawuf. Syarat untuk menjadi pemain debus tidak ringan, meliputi puasa, zikir, kepatuhan kepada guru, dan disiplin spiritual. Hubungan murid dan guru sangat menentukan, sejalan dengan ajaran Al-Ghazali yang menekankan pentingnya pembimbing rohani. Debus juga dikaitkan dengan tarekat Qadariah yang memuliakan Syekh Abdul Qadir Jaelani, di mana nama syekh ini sering disebut dalam doa sebelum atraksi dimulai. Kekebalan dalam debus bukan status permanen, melainkan harus dirawat melalui laku batin dan disiplin spiritual.
Pada masa awal, pertunjukan debus dilakukan di ruang khusus di Masjid Banten yang disebut tiama. Pemain tidak sembarangan naik panggung, melainkan dibimbing oleh guru atau kalifah yang berperan sebagai pemimpin spiritual. Seiring perkembangannya, debus keluar dari ruang masjid dan tampil dalam perayaan Maulid Nabi serta hajatan rakyat. Fungsi religius tetap ada, tetapi unsur hiburan menjadi semakin dominan, dengan atraksi yang makin variatif dan nekat seperti menggoreng telur di atas kepala, membakar diri, atau memecah benda keras dengan tubuh.
Terkait apakah pemain debus benar-benar kebal, jawabannya tidak absolut. Secara ilmiah, tubuh tetap memiliki ambang batas. Kulit dapat menebal karena latihan, membentuk lapisan yang lebih tahan terhadap gesekan dan tekanan. Sudut tusukan dapat diatur agar tidak mengenai organ vital. Tekanan juga dibagi, bukan dihunjamkan pada satu titik. Namun, pemain debus tetap bisa terluka, terutama jika ada gangguan atau jika disiplin spiritualnya dianggap kurang.
Debus tidak hanya ditemukan di Banten. Tradisi serupa juga ada di Aceh, Sumatra, dan Maluku. Ada dugaan bahwa debus pertama kali berkembang di Aceh sebagai pusat awal penyebaran Islam, kemudian menyebar melalui jaringan ulama dan perdagangan. Meskipun demikian, di Banten, debus menemukan bentuk khasnya sendiri.
Sumber: https://www.ayojelajah.id/seni-budaya/08171039/sejarah-debus-banten-benarkah-ilmu-kebal
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
Debus Banten — Seni Pertunjukan, Banten · source
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |