|
|
|
|
|
|
Kemandirian Pangan Kampung Adat Cireundeu Dengan Singkong Tanggal 26 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Kampung Adat Cireundeu, yang dinamai dari pohon reundeu, terletak di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Sejak 1918, warga kampung ini, yang sebagian besar menganut kepercayaan Sunda Wiwitan, telah mengonsumsi rasi atau beras yang diolah dari singkong sebagai makanan pokok. Singkong menjadi simbol kemandirian dan ketahanan pangan, sekaligus perlawanan terhadap penjajah yang merebut lahan dan hasil bumi. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun oleh sekitar 60 kepala keluarga sebagai wujud swasembada pangan yang khas dan mandiri, bahkan di tengah gempuran modernitas dan perubahan iklim.
Bagi warga Cireundeu, singkong (sampeu) memiliki makna filosofis yang dalam. Istilah "sampeu" berasal dari kata "sampeureun" yang berarti "didatangi", menggambarkan bahwa secara ekonomi tanaman ini tidak menyisakan limbah dan semua bagiannya bermanfaat. Singkong juga merupakan warisan leluhur yang mengajarkan hidup sederhana, merawat alam, dan berbagi sesama manusia. Masyarakat Cireundeu memegang teguh prinsip "mipit kudu amit, ngala kudu bebeja" sebagai bentuk rasa hormat kepada alam, serta "pamali" sebagai pagar moral untuk mencegah keserakahan. Mereka juga menjaga tiga kawasan hutan—Hutan Larangan untuk penyimpanan air, Hutan Tutupan untuk reboisasi, dan Hutan Baladahan sebagai lahan berkebun—dengan kearifan ekologis.
Rasi (beras singkong) adalah inti dari ketahanan pangan di Cireundeu, yang memungkinkan mereka tidak terpengaruh oleh kenaikan harga beras atau ancaman krisis iklim. Singkong yang diolah menjadi tepung kasar sebelum dinanak terbukti tangguh terhadap cuaca ekstrem. Selain singkong, warga juga menanam jagung, sorgum, kacang tanah, dan anjeli dengan sistem tumpang sari untuk mendukung keanekaragaman hayati dan kekuatan adaptif mereka. Masyarakat Cireundeu tetap terbuka terhadap dunia luar dan teknologi, namun tidak mengorbankan tradisi dan nilai leluhur mereka. Mereka juga bersinergi dengan pemerintah dalam pengembangan UMKM olahan singkong, menunjukkan sikap dialogis dan kooperatif.
Gotong royong merupakan napas sosial di Cireundeu, di mana masyarakat saling membantu. Perempuan juga memegang peran penting dalam mengolah hasil pertanian menjadi sumber ekonomi keluarga, yang sangat berdampak pada ketahanan pangan kampung.
Sumber: https://www.ayobandung.id/beranda/01166315/14102025/seabad-lebih-tanpa-nasi-kampung-cireundeu-pertahankan-kemandirian-dan-ketahanan-pangan-lokal-lewat-singkong
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
Kemandirian Pangan Kampung Adat Cireundeu Dengan Singkong — Makanan Minuman, Kampung Adat Cireundeu, Leuwigajah, Cimahi Selatan, Kota Cimahi · source
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |