|
|
|
|
|
|
Kisah Akhir Hidup Jaka Tingkir Tanggal 24 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Kisah ini menceritakan akhir hidup Raja Pajang Jaka Tingkir, yang bergelar Sultan Hadiwijaya, yang berseteru dan berperang dengan anak angkatnya, Sutawijaya, Raja Mataram yang bergelar Panembahan Senopati. Jaka Tingkir, yang sewaktu kecil dikenal sebagai Mas Karebet, adalah cucu Sunan Kalijaga. Ia memiliki ilmu beladiri dan kesaktian, dibuktikan saat mengalahkan 40 ekor buaya ganas di Kedung Srengenge dengan timang Kiai Bajulgiling sebelum mengabdi di Kerajaan Demak di bawah Sultan Trenggono. Setelah mengabdi dan berprestasi, Jaka Tingkir diangkat menjadi Adipati Pajang dengan gelar Hadiwijaya. Setelah Sultan Trenggono wafat pada tahun 1546, kekacauan terjadi karena Adipati Jipang, Arya Penangsang, membunuh Sunan Prawoto dan Pangeran Hadiri. Ratu Kalinyamat, adik Sunan Prawoto, meminta Jaka Tingkir membalas dendam. Jaka Tingkir kemudian mengadakan sayembara, dan kedua cucu Ki Ageng Sela, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi, mengikutinya. Dengan siasat cerdik Ki Juru Martani, Sutawijaya (anak Ki Ageng Pemanahan) berhasil menewaskan Arya Penangsang dengan tombak Kyai Plered pada tahun 1549. Setelah perang saudara itu, pusat kerajaan Demak dipindah ke Pajang, dan Jaka Tingkir menjadi raja pertama Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Demak menjadi kadipaten. Sultan Hadiwijaya memenuhi janjinya, memberikan tanah alas Mentaok di Mataram kepada Ki Ageng Pemanahan dan hadiah di Pati kepada Ki Panjawi. Sutawijaya diangkat sebagai anak angkat Sultan Hadiwijaya dan menjadi saudara Pangeran Benawa. Ki Ageng Pemanahan berhasil membangun hutan Mentaok menjadi desa makmur yang kemudian menjadi kerajaan kecil. Setelah Ki Ageng Pemanahan meninggal pada tahun 1575, Sutawijaya menggantikannya sebagai penguasa Mataram. Hubungan antara Sultan Hadiwijaya dan Sutawijaya memanas ketika keponakan Sutawijaya, Raden Pabelan, dihukum mati karena menyelinap ke keputren untuk bertemu putri bungsu Sultan Hadiwijaya, Ratu Sekar Kedaton. Sultan Hadiwijaya merasa disepelekan dan Raden Pabelan pun ditangkap dan dihukum mati. Ketegangan semakin meningkat karena Sutawijaya sudah lama tidak sowan kepada ayah angkatnya. Kasultanan Pajang akhirnya menyerang Mataram karena dianggap makar. Saat perang terjadi, Gunung Merapi meletus dan laharnya menghantam tenda prajurit Pajang, menyebabkan banyak korban. Sultan Hadiwijaya menarik mundur pasukannya. Dalam perjalanan pulang, ia mampir ke makam Sunan Tembayat, namun gerbang makam tidak bisa dibuka, yang membuatnya merasa ajalnya dekat. Terbukti kemudian, Sultan Hadiwijaya terjatuh dari gajahnya dan kesehatannya menurun. Sebelum wafat, ia berpesan kepada anak-anaknya agar tidak menaruh dendam kepada Sutawijaya. Sultan Hadiwijaya meninggal dunia dan dimakamkan di Desa Butuh, Sragen, Jawa Tengah.
Sumber: https://riaugreen.com/view/Seni---Budaya/73295/Kisah-Akhir-Hidup-Jaka-Tingkir-Terbunuh-Saat-Perang-dengan-Melawan-Anak-Angkatnya-Sutawijaya.html
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
Kisah Akhir Hidup Jaka Tingkir — Cerita Rakyat, Pajang, Mataram · source
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |